
...Bianca...
.........
Kuhela napas panjang. "Kau sudah kehabisan job rupanya, sampai-sampai menghasut orang untuk menjelekkanku." Aku tersenyum tipis kepada wanita berdres hitam ini.
"Itu bukan urusanmu. Urusi saja dirimu." Dia berbicara dengan penuh kesombongan.
"Bianca, kau tidak jera juga. Waktu itu aku masih menjaga sikap karena ada Jackson di sana. Tapi kali ini ... tidak." Segera kudorong dirinya hingga jatuh ke lantai.
"Agh!" Bianca jatuh. "Sialan kau, Cecilia!"
Bianca jatuh hingga bokongnya terbentur lantai. Hatiku pun merasa senang karena telah berhasil membuatnya jatuh. Cecilia tidak akan kalah dengan siapapun. Hanya ada dua pilihan di hidup seorang Cecilia. Menang atau Mati.
Lantas kulayangkan botol softdrink ke arahnya. Seketika itu juga mulutnya terdiam, tidak lagi bicara. Kulihat wajahnya memar karena terkena botol minumanku. Tapi dia tidak diam saja, dia membalasku.
Bianca bangkit lalu melempar tasnya ke arahku. Dengan cepat aku menahannya lalu menarik tas itu hingga Bianca ikut tertarik ke arahku.
"Habis kau, Bianca!"
Seketika aku menarik dengan kuat tas dan orangnya ke belakang hingga Bianca terjatuh ke tempat minuman kaleng yang dipajang. Terdengar bunyi minuman kaleng yang roboh hingga mengenai wajahnya. Di saat itu juga ibu-ibu yang tadi berteriak meminta tolong.
"Tolong!!! Ada pelakor gila!!!" Teriakan ibu-ibu itu semakin membuatku bernafsu untuk membalas perbuatan Bianca.
"Ada apa ini?!"
Satpam segera datang, saat itu juga aku kehilangan konsentrasi. Bianca memanfaatkan kesempatan itu untuk melempariku dengan minuman kaleng. Aku pun berusaha melindungi diri.
"Hentikan!!!"
Satpam lain berdatangan lalu memegangi Bianca. Sedang aku pura-pura kesakitan karena terkena lemparan darinya. Tanpa kusadari jika bagian dahi dan sudut bibirku benar-benar terkena minuman kaleng yang dilemparkan. Saat itu juga rasa perih begitu terasa. Tapi hatiku merasa puas karena melihat Bianca lebih babak belur, terkena robohan minuman kaleng.
"Kalian menghadap kepala keamanan! Cepat!"
__ADS_1
Akhirnya aku dan Bianca digiring ke sebuah ruangan untuk mempertanggungjawabkan keributan yang terjadi. CCTV diputar ulang dan memperlihatkan aku mendorong Bianca dengan sengaja. Aku pun beralasan di depan kepala keamanan.
"Pak, dia telah berusaha merebut suamiku. Apa salah jika aku marah?" tanyaku.
"Tidak, Pak. Dia berbohong!" Bianca tidak terima.
"Sudah, diam!" Kepala keamanan meminta kami untuk diam.
Di ruangan ini terjadi adu mulut antara aku dan Bianca hingga pihak keamanan kerepotan menghentikannya. Beberapa satpam pun ikut menjadi saksi persidangan ini. Tapi bukan Cecilia namanya jika tidak bersandiwara. Bianca telah merusak nama baikku di depan umum. Sampai saat ini pun aku masih mendengar suara orang lalu-lalang yang membicarakanku. Rasanya kurang pantas jika tidak memberinya pelajaran.
"Supermarket menderita banyak kerugian karena keributan kalian. Siapa yang akan bertanggung jawab?!" Kepala keamanan supermarket bertanya kepada kami.
Lantas Bianca mencoba untuk menyalahkanku. "Dia yang mendorongku dulu. Dia harus bertanggung jawab atas semuanya." Bianca menyalahkanku.
Kutatap sinis Bianca dari kedua mataku. Aku mencoba memperingatkannya, jika lain kali dia tidak akan lolos dariku. Aku berjanji kepada diriku sendiri. Pencemaran nama baik adalah sesuatu yang amat mahal untuk dibayar pakai uang.
Kami akhirnya diminta mengganti kerugian atas keributan yang terjadi. Bianca diusir dari supermarket karena ternyata dia tidak membeli apapun di sini. Aku juga tidak tahu mengapa bisa bertemu dengannya. Mungkin tadinya dia berniat berbelanja, tapi karena melihatku tidak jadi.
Bianca lebih memilih menghasut orang agar omongan dari mulut ke mulut itu semakin menyebar luas. Terbukti saat aku membayar semua barang belanjaan, orang-orang di supermarket seperti membicarakanku. Tatapan mereka begitu sinis ke arahku. Mungkin mereka mengira jika aku benar-benar seorang pelakor. Padahal aku bukanlah seperti itu.
Niatku besok akan kembali ke rumah kontrakan yang ada di dekat kantor. Tapi karena kejadian tadi siang, kutunda lagi. Aku harus merawat dahi dan sudut bibirku dulu, yang memar karena terkena lemparan minuman kaleng dari Bianca. Wanita itu benar-benar tidak bisa dibiarkan. Dia selalu saja mencuri kesempatan untuk menjatuhkanku.
Saat minggu-minggu awal bekerja di kantor, dia memberikan secarik kertas kepada seluruh karyawan yang ada di gedung. Dia mengatakan jika aku pelakor, perebut suami orang, suka merayu pria yang beristri dan sudah tidur dengan banyak pria. Dia juga mengatakan di secarik kertas itu jika aku amat kesepian dan membutuhkan belaian. Sungguh menjijikkan. Padahal kenyataannya hanya Jackson seorang yang berhasil meruntuhkan pertahananku.
Kami memang musuh bebuyutan sejak lama. Bianca selalu kalah dariku karena otaknya kurang licin. Dia terlalu mengandalkan kecantikan dan tidak mempunyai perhitungan yang matang. Hingga akhirnya dia berhadapan langsung denganku waktu itu.
Kujatuhkan dirinya hingga semua orang tahu jika dia adalah seorang pelakor, bos pertambangan. Bianca dipukuli hingga masuk ke rumah sakit oleh istri sah dari bos tambang itu sendiri. Dan seluruh orang di rumah sakit tahu jika ada seorang pelakor yang sedang mendekam di ruang ICU.
Kuakui jika aku pun tidak suci-suci amat dalam melakoni pekerjaan. Tapi setidaknya aku bisa mengusir pelakor-pelakor yang mendekati suami orang dengan caraku sendiri. Terbukti setelah ketahuan si suami meminta maaf kepada istrinya, dan menimbulkan efek jera, tidak lagi-lagi berbuat yang aneh-aneh di luar sana.
Kukatakan terus terang di akhir perjumpaan kami jika rayuanku selama ini hanya ingin mengetahui siapa pelakor yang sebenarnya, yang sedang menggerogoti rumah tangga si nyonya. Alhasil kinerjaku banyak diakui kalangan nyonya-nyonya besar. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menutup pekerjaan ini dengan misi penaklukkan Jackson. Tapi ternyata, malah aku yang ditaklukkan olehnya.
Dering ponsel berbunyi...
"Siapa yang menelepon?"
__ADS_1
Saat sedang mengolesi luka memar, tiba-tiba ponselku berdering. Lekas-lekas kulihat siapa yang menelepon dan ternyata adalah Jackson. Seketika jantungku berdebar saat mengetahui dia meneleponku.
"Angkat tidak, ya?"
Aku khawatir jika dia melihat luka di wajahku. Aku tidak ingin membuatnya khawatir atas keributanku tadi. Aku takut dia bertindak yang tidak-tidak, padahal keributan tadi aku yang memulainya.
Lantas dengan ragu aku mengangkat telepon darinya. "Halo?" jawabku ragu.
"Sedang apa? Lama sekali mengangkat teleponnya?" Dia seperti mencurigaiku.
"Em, aku sedang sibuk. Ada apa, Tuan?" tanyaku, khawatir dia ingin menemuiku malam ini.
"Aku sudah di depan apartemenmu," katanya.
Hah? Apa?!
Seketika jantungku berdegup kencang. Jackson tiba-tiba saja sudah datang. Aku harus mencari cara agar dia tidak tahu keberadaanku di sini.
"Tuan, aku sedang di luar." Aku beralasan padanya.
"Benarkah?" Jackson seperti tidak percaya. "Baiklah." Dia lalu mematikan teleponnya.
Akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega saat dia mematikan teleponnya. Itu berarti dia tidak akan nekat menungguku pulang. Padahal aku memang sedang di apartemen. Sengaja tidak ingin bertemu dengannya karena khawatir dia mengajak ku bermain. Namun, tak beberapa lama kemudian aku mendengar suara pintu dibuka.
Astaga?! Jangan-jangan?!!
Seketika aku panik dan...
"Masih bohong lagi?!' Jackson membuka pintu kamarku.
"Tu-tuan?!"
Aku terkejut saat dia sudah berada di depan pintu kamarku. Lantas cepat-cepat aku mengambil masker untuk menutupi wajahku. Aku berbalik membelakanginya sambil memakai masker. Saat itu juga Jackson berjalan cepat ke arahku lalu membalikkan tubuh ini.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanyanya yang membuatku kebingungan.
__ADS_1