
Kuusap perutku. Aku berharap semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin menambah masalah, tapi aku juga tidak tahu harus ke mana. Karena kalau ke rumah Angela, pastinya akan menganggu dia dan suaminya. Jadi mau tak mau aku menerima kebaikan Alexander.
Sampai saat ini Jackson belum menghubungiku. Dia seperti benar-benar telah melupakanku. Apakah di ruangannya tadi dia melakukannya bersama Zea? Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi sejujurnya hatiku masih bertanya-tanya. Aku masih memikirkan pria berwajah muram itu. Namun, jika ingat kejadian di ruangannya tadi, hatiku sakit kembali. Aku seperti ingin hilang ingatan saja, tidak mau mengingatnya lagi.
"Ayo, Cecilia." Alexander mengajak ku menaiki lift gedung.
Aku tidak tahu peperangan macam apa yang sedang terjadi. Aku hanya bisa melihat apa yang terjadi di hadapanku. Aku juga tidak berani menyangka-nyangka. Aku ingin kejelasan yang pasti. Tapi, untuk menelepon Jackson saat ini rasanya tidak mungkin. Harusnya dia yang meneleponku dulu lalu menjelaskan padaku. Namun nyatanya, tidak ada kabar sama sekali. Bahkan untuk menanyakan dokumen final akuisisi pun tidak. Dia seperti telah benar-benar melupakanku.
Tak lama kami akhirnya tiba di lantai lima gedung. Alexander pun mengajak ku masuk ke dalam apartemen yang dia sewakan untukku. Kami masuk ke dalam, dan ternyata benar kamarnya cuma satu. Namun, fasilitasnya begitu lengkap dan memadai. Jadi wajar saja jika apartemen ini dijuluki apartemen kelas satu.
"Beristirahatlah. Kau sudah terlihat amat lelah, Cecilia." Alexander menunjukkan perhatiannya padaku.
Aku berpikir sejenak. "Tuan, tapi aku tidak bisa tidur jika Anda tetap berada di sini," kataku, secara halus mengusirnya.
"Kau takut padaku?" Dia seperti menyudutkanku dengan pertanyaannya.
Aku tertawa kecil di hadapannya. "Tidak, Tuan. Aku hanya kurang terbiasa dengan kehadiran pria saat tertidur." Aku beralasan.
"Bagaimana kalau aku ini dia?" Dia semakin menyudutkanku dengan pertanyaannya.
Entah mengapa Alexander semakin berani menanyakan hal ini dan itu padaku. Aku jadi mulai gelisah, takut terperangkap dengan kata-katanya. Aku takut terjebak jika ternyata dia hanya mempermainkanku.
"Tuan, sepertinya Anda ingin bersaing dengannya?" Aku tanya saja dia dengan pertanyaan yang juga menyudutkan. Hitung-hitung gantian.
Alexander tertawa kecil. "Baiklah. Aku pulang. Semalam malam, Cecilia. Hubungi aku jika terjadi apa-apa," katanya lalu bergegas pergi.
Aku mengangguk. Kubiarkan dia melangkah pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin menahannya lebih lama. Aku harus segera beristirahat karena besok harus menyerahkan dokumen final akuisisi ini kepada Jackson.
Esok harinya...
__ADS_1
Pagi-pagi aku datang ke Samudera Raya untuk menyerahkan dokumen final akuisisi Angkasa Grup. Sengaja datang pagi-pagi agar tidak bertemu dengan yang lainnya. Aku pun masuk ke dalam ruang kerja Jackson. Dan ternyata, ruangannya masih sepi. Ya, maklum saja hari masih pagi.
Kulihat sekeliling ruangan yang pernah menorehkan kenangan untukku. Di mana untuk pertama kalinya aku menggodanya di sini. Di mana kancing kemejaku sampai terlepas dari kaitnya dan Jackson menyimpannya. Di ruangan ini juga terjadi rayuan-rayuan kecil dari bibir tipisnya. Rasanya aku tidak akan bisa melupakan itu semua.
Yang kuat, Cecilia.
Lantas kuletakkan dokumen final akuisisi ke dalam laci meja kerjanya lalu kukunci kembali. Setelahnya aku pun beranjak pergi. Aku tidak ingin teringat lagi dengan semua yang terlewati. Tapi, saat hendak keluar ruangan, ternyata Jackson baru saja sampai. Dia berjalan ke arahku yang masih berada di depan pintu.
Tuan, akhirnya kita bertemu.
Sungguh hatiku sedih melihat pria berwajah muram yang melangkahkan kakinya ke arahku. Perasaanku tiba-tiba rapuh saat teringat dengan semua kejadian yang telah kami lewati. Rasanya aku tidak mampu jika harus berpisah. Tapi, apalah daya diriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia masih berstatus suami Zea. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan keadaan.
"Selamat pagi, Tuan."
Aku pun menyapanya saat kami berpapasan, selayaknya seorang karyawan kepada pimpinan. Kuberikan senyum terbaik, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun ternyata, Jackson diam saja. Dia melewatiku lalu meletakkan koper kerjanya di atas meja. Aku pun seperti tidak mempunyai alasan untuk tetap berada di sini. Aku segera menutup pintu, pergi dari ruangannya tanpa berpamitan lagi. Aku rasa tidak terlalu harus mengemis cintanya. Aku laksanakan saja tugas dan tanggung jawabku di sini.
Dia kembali dingin.
Bertahanlah Cecilia, demi janin yang kau kandung.
Jika bukan karena sedang mengandung, mungkin saja aku menjadi Cecilia yang dulu. Yang berani, berbicara asal dan bertindak sesuka hati. Tapi, keadaanku saat ini tidak memungkinkan. Aku harus lebih melunakkan hati agar janinku berkembang dengan baik. Katanya emosi seorang ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungannya. Jadi aku harus berhati-hati dalam bertindak. Kalau bisa mengalah saja tak apa.
"Cecilia."
Tiba-tiba Clara juga datang. Dia menegurku sambil tersenyum ceria. Aku pun membalas senyumnya tanpa berkata apa-apa. Kutinggalkan dirinya lalu segera menuju ke lantai bawah. Aku tidak ingin berlama-lama di Samudera Raya.
Dia tidak memanggilmu untuk kembali, Cecilia.
Sampai aku tiba di lantai dasar Samudera Raya, Jackson tidak memanggilku juga. Mungkin benar dugaanku jika dia telah melupakanku. Rasanya hatiku semakin sakit saja. Aku tidak kuat jika harus seperti ini.
__ADS_1
Kuambil napas dalam-dalam, kuhirup udara segar lalu melangkahkan kaki ke parkiran. Hari ini aku akan berangkat ke Angkasa Grup menaiki taksi online. Tapi mungkin hanya setengah hari saja di sana. Karena siangnya aku akan bertemu dengan Angela.
Beberapa jam kemudian...
Pukul sepuluh lewat sepuluh pagi, jam di dinding ruanganku seolah memberi tahu jika hari sudah beranjak siang. Aku pun menyeduh kopi agar tidak terlalu mengantuk. Kopi khusus ibu hamil yang entah apa mereknya. Kopi ini memang sengaja dibelikan Jackson beberapa hari yang lalu. Dan karena rasanya enak serta aman bagi kandungan, selalu kubawa di dalam tas. Ya, hitung-hitung agar tidak mengantuk.
Tak lama, ponselku berdering. Padahal belum selesai menyeduh kopi. Dan kulihat jika ada pesan masuk dari Alexander. Dia menanyakan keberadaanku. Lantas aku menjawabnya jika sedang berada di Angkasa Grup. Namun, tak lama kemudian dia meneleponku.
"Tuan?" Aku mengangkat teleponnya.
"Cecilia, bisakah keluar untuk makan siang?" tanyanya dari tempat yang hening. Sepertinya dia sedang berada di dalam ruang kerjanya.
"Em, aku sudah ada janji, Tuan," jawabku jujur.
"Aku antar, ya?" Dia menawarkan diri.
Seketika aku terdiam sambil berpikir cepat. Rasa-rasanya tidak enak jika menolak tawarannya, terlebih dia telah membayari apartemenku untuk satu bulan ke depan. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Alexander mengetahui bertemu dengan siapa. Aku harus tetap berjaga-jaga.
"Tuan, aku nanti dijemput. Lain kali saja, ya." Aku terpaksa berbohong padanya.
Alexander terdiam sejenak. Entah apa yang dia pikirkan. "Nanti malam aku ke sana." Dia seperti tidak henti-hentinya mendekatiku.
"Em, sepertinya—"
"Hanya sekedar bertamu, Cecilia." Dia meyakinkanku.
Mendengarnya aku jadi tidak enak hati sendiri. "Em, baiklah. Tapi jangan malam-malam. Hanya sampai jam delapan," jawabku terpaksa.
"Baik. Jam enam aku sudah sampai di sana. Sampai nanti." Dia langsung mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Saat itu juga aku menelan ludah. Tidak tahu pertanda apakah ini. Tapi sepertinya aku mulai terjebak ke dalam perangkapnya. Aku harus meminta bantuan Angela untuk mencarikan solusi. Langkah apa yang harus kuambil selanjutnya?