
Atmosfer sekitar berubah suram saat pria berwajah muram ini tiba di hadapanku. Alexander pun segera menjauhkan tangannya dari pipiku. Bersamaan dengan itu Jackson menarik tanganku.
"Ikut aku!"
Jackson marah, benar-benar marah. Dia menyeretku agar mengikutinya. Kulihat Alexander diam dan hanya melihat kami. Sepertinya dia kebingungan dengan kedatangan Jackson yang tiba-tiba. Mungkin dia berpikir jika aku adalah kekasih dari Jackson. Sedang aku belum sempat berkata apapun kepadanya yang telah menyelamatkanku semalam.
"Tuan, lepaskan aku! Sakit!" Aku meronta minta dilepaskan dari cengkeraman tangannya yang begitu kuat.
"Masuk ke dalam mobil!" Jackson benar-benar menyeretku masuk ke dalam mobil.
Kulihat dari balik kaca kedai, Alexander seperti menelepon seseorang sebelum hilang dari pandangan mataku. Jackson segera menenggelamkan penglihatanku akan dirinya dengan mendorong tubuhku masuk ke dalam mobil. Lantas aku pun terjatuh di dalam mobil.
"Tuan, kau kasar sekali." Aku seperti tidak berdaya di hadapannya.
Jackson masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan kasar. "Ke vila puncak. Sekarang!"
Dia memerintah kepada supir agar melajukan mobilnya ke vila yang ada di puncak. Aku tidak tahu di mana pastinya, tapi yang jelas Jackson segera menutup pintu dan tidak membiarkan aku keluar. Saat itu juga kusadari jika dia begitu marah padaku dan tidak terbendung lagi. Padahal kenyataannya aku tidak berbuat apa-apa dengan Alexander, hanya sekedar bertemu, tapi dia sudah seperti ini.
Beberapa puluh menit kemudian...
"Masuk!"
Jackson membawaku masuk ke sebuah vila yang ada di puncak. Dia menyeretku masuk ke dalam kamar lalu melemparkanku ke atas kasur.
"Aggh!" Seketika tubuhku terasa sakit semua karenanya.
Jackson mengunci pintu, melepas dasinya lalu melemparkannya ke lantai. Dia terlihat amat kesal hingga tidak ada lagi cahaya dari wajahnya. Napasnya berapi-api seperti tidak dapat menahan amarah lagi. Sisi tenang dari dirinya tidak bisa kulihat saat ini.
Apakah kesalahan yang kuperbuat terlalu besar?
Aku tidak tahu mengapa dia bisa semarah ini. Kulihat dia menghidupkan puntung rokoknya, menghisap dalam-dalam asap rokoknya sambil menyandarkan satu tangan ke sisi jendela kamar. Sedang aku ... aku terdiam di atas kasur sambil berusaha bangun dari rasa sakit yang kudapat akibat dilemparkannya.
Jackson menghela napas lalu melirik tajam ke arahku. "Masih ingin pergi?" tanyanya yang seketika membuatku terkejut.
"Tu-tuan?!"
Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun sepertinya dia mendengar percakapanku bersama Angela. Dia sampai tahu jika aku berniat pergi darinya.
Jangan-jangan Angela ...?
Rasanya ingin mencurigai sahabatku sendiri. Tapi, hal itu tidak mungkin kulakukan. Angela sudah banyak membantu hidupku selama ini. Dia tidak mungkin menjerumuskanku. Lantas apakah benar Jackson mendengar percakapanku bersama Angela? Sehingga dia bisa dengan mudah menemukanku?
__ADS_1
"Kau pikir bisa pergi dariku, Cecilia?" tanyanya dengan tatapan begitu sinis.
"Tuan, aku—"
"Aku tidak suka dikhianati. Tapi kau melakukannya. Tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku hanya karena ingin bertemu pria lain?" Tersirat amarah dari wajah dan intonasi kata-katanya.
Aku terdiam. Rasa-rasanya tidak bisa menolak semua hal yang diucapkan olehnya. Jadi kubiarkan saja dia melampiaskan emosinya terlebih dahulu.
"Apa aku terlalu baik sehingga bisa membuatmu seenaknya?" tanyanya sambil mengembuskan asap rokok.
Jackson seperti sedang marah karena cemburu. Entah cemburu sungguhan atau karena ambisinya yang ingin memilikiku. Saat ini aku tidak bisa meraba-raba perasaannya. Melihat dia semarah ini saja aku hanya bisa diam.
"Kenapa tidak bekerja?" Dia bertanya padaku.
"Aku tidak enak badan, Tuan," jawabku segera.
"Tidak enak badan tapi bisa bertemu dengan pria lain? Kau beralasan, Cecilia!" Dia menudingku.
Aku terdiam, tidak bisa menjawab lagi.
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak suka bekasan orang!" Dia menegaskan padaku.
"Tuan, aku tidak melakukan apapun dengannya. Kami hanya bertemu karena ingin melunasi utang. Itu saja," kataku menjelaskan.
"Kemarin sore ban mobilku bocor. Lalu aku mengambil jalan sepi untuk mengeceknya. Dan ternyata, ban mobilku memang benar-benar bocor. Saat ingin menelepon derek mobil, tiba-tiba ada tiga orang bandit yang datang mengangguku. Mereka ... ingin memperkosaku." Aku mengatakannya sambil menahan sesak.
"Apa?!" Jackson seakan tidak percaya.
"Benar, Tuan. Pria itu lalu menyelamatkanku. Dia meminta imbalan dari kebaikannya. Maka dari itu aku mengajaknya makan siang."
Kukatakan saja hal yang sebenarnya terjadi.
Saat itu juga Jackson segera menelepon seseorang.
"Cek CCTV parkiran gedung. Temukan siapa yang membocorkan ban mobil asistenku. Segera!" Jackson memerintah kepada seseorang yang tidak kutahu siapa.
Tuan, Anda cepat tanggap jika mendengarku disakiti.
Jackson kemudian menelepon seseorang lagi seraya berjalan ke arahku. "Aku ada pekerjaan untukmu," katanya di telepon, lalu Jackson menyerahkan ponselnya kepadaku.
"Tuan?"
__ADS_1
"Katakan kronologi kejadiannya." Dia memintaku bicara di dalam telepon.
Lantas kuceritakan saja kejadian yang menimpaku kemarin. Di mana kejadian itu terjadi dan bagaimana ciri-ciri ketiga bandit yang kutemui kepada seseorang yang tidak kuketahui ini. Setelah selesai Jackson kembali mengambil ponselnya dariku.
"Temukan ketiga bandit yang menganggu asisten pribadiku. Hidup atau mati!" Jackson berkata seperti itu di telepon.
Saat itu juga kusadari jika Jackson benar-benar marah setelah mendengar ceritaku yang sesungguhnya. Raut wajahnya sangat tidak enak dipandang. Aku pun hanya bisa menunduk. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk menghadapi amarahnya saat ini.
"Laporkan padaku 1x24 jam!" Dia berseru lalu mematikan sambungan teleponnya.
Jackson bertindak cepat saat mendengar aku diganggu. Tersirat dari sikapnya jika dia menyayangiku. Dia tidak ingin aku kenapa-kenapa. Tapi, sampai detik ini aku tidak tahu siapa diriku di matanya.
Tuan, sebenarnya Anda perhatian. Tapi Anda menggantung hatiku.
Beberapa menit kami akhirnya berdiaman. Tiada suara, tiada kata yang terucap. Hanya jam di dinding yang menjadi saksi pertengkaran kami siang ini. Kulihat Jackson duduk di sofa sambil mengambil napas panjang. Sepertinya keadaan hatinya berangsur-angsur membaik.
Mungkin dia cepat bertindak untuk membuktikan jika perkataanku tidaklah bohong.
"Aku tidak suka kau menemui pria manapun." Dia mengawali perkataan.
"Tuan ...."
"Sudah kubilang, kau harus mendapat persetujuan dariku jika mau ke mana-mana!" katanya, tidak menerima penolakan.
Jackson duduk dengan menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia kemudian menatap ke arahku yang masih duduk di kepala kasur. Sedang aku hanya bisa menunduk sedih di hadapannya.
"Tuan, Anda tidak bisa melarangku seperti ini. Ini terlalu mengekangku." Kuungkapkan perasaan yang ada di hati tentang tindakannya.
"Kau ingin membantahku, Cecilia?!" Dia menatap tajam ke arahku.
"Tuan, kita tidak mempunyai hubungan apapun selain sebatas pekerjaan." Aku bersikeras kepadanya karena dia belum memberikan status padaku.
"Oh, begitu." Dia lalu berjalan mendekatiku.
"Tuan?!"
Aku terkejut. Jackson tiba-tiba saja mencengkram wajahku dengan tangannya. Cengkeramannya begitu kuat hingga membuat rahangku kesakitan.
"Kau tidak bisa bicara seperti itu setelah apa yang kita lakukan." Dia seperti iblis yang menatap lawannya.
Seakan kehilangan udara, dadaku terasa sesak sekali. Jackson seperti ingin menyiksaku perlahan. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan pipi ini dari cengkramannya. Dia pun ikut melepaskan tangannya saat melihatku kesakitan.
__ADS_1
Lantas tak beberapa lama air mataku berlinang, jatuh membasahi pipi ini. Aku seperti sedang berhadapan dengan manusia berhati iblis. Jackson tidak lagi bisa berlaku lembut kepadaku saat dipenuhi amarahnya seperti ini.