
Atmosfer sekitar berubah mencekam saat tahu dengan siapa aku berhadapan. Aku bingung harus menjawab apa karena pastinya kami berada di pihak yang berlawanan. Namun, aku sudah terlanjur kepergok, jadi harus mencari cara untuk menutupi hal yang kulakukan. Kuputar otak dengan cepat, kutemukan sebuah cara natural untuk menutupi aksiku. Aku kembali bersandiwara di hadapannya.
"Aku tidak sengaja melihat tuan Andreas saat keluar dari toilet, jadi aku mengikutinya. Tapi setelah tahu dia bertemu dengan nyonya dan berbicara di halaman belakang, aku menunggunya. Hingga akhirnya Tuan datang," kataku beralasan.
Kulihat dia mengangguk tapi seolah tidak percaya dengan ucapanku. Sungguh bukan main berdebar jantungku karena merasa khawatir dia akan memberi tahu Zea tentang apa yang kulakukan. Bisa-bisa Zea tahu jika aku berada di pihak Jackson dan masalah akan semakin bertambah runyam saja.
"Kita ke depan, Cecilia. Meja hidangan sudah dipersiapkan." Dia lantas mengajak ku ke halaman depan.
"Em, baiklah."
Karena situasi canggung sehabis kepergok olehnya, mau tak mau aku memenuhi ajakannya. Kutinggal Zea dan Andreas yang sedang berbicara di teras halaman belakang, lalu berjalan bersama pria ini. Kulihat tangannya seperti ingin memegang lenganku.
Astaga ... kenapa aku selalu kepergok olehnya, ya? Apa aku sudah terlalu tua untuk menjadi mata-mata?
Jantungku serasa mau copot saat mengetahui ada yang memergokiku. Pastinya aku akan menjadi bulan-bulanan keluarga Liandra jika sampai ketahuan menguping pembicaraan Zea. Tahu sendiri bagaimana Zea, dia dengan mudahnya bermain tangan. Mungkin karena merasa mempunyai banyak uang, dia bisa melakukan segalanya. Semua jadi mudah dan tidak perlu dikhawatirkan.
Beberapa menit kemudian...
Aku diajak ke halaman depan rumah besar ini, dan ternyata dalam waktu singkat sudah tertata rapi meja-meja hidangan dengan berbagai jenis makanannya. Aku pun ingin sekali mencicipi pancake yang ada di sana. Tapi aku berpikir lagi untuk memakannya. Karena sekarang harus lebih banyak memakan sayuran dan buah-buahan, bukan kue yang malah banyak mengandung gula.
Pria di depanku ini menuangkan segelas anggur untukku. Dia kemudian memberi anggur itu kepadaku. "Kau datang sendiri?" tanyanya seraya berdiri berhadapan denganku.
Aku mengangguk.
"Aku pikir kau datang bersama Jackson. Kalau begitu kenapa tidak kujemput saja?" Dia seperti menyesali aku datang sendiri.
Dasar buaya, siapa juga yang ingin datang bersamamu.
Dia begitu percaya diri jika aku mau datang bersamanya. Padahal jika disuruh memilih, lebih baik aku datang sendiri. Aku tidak menyukainya, sehingga merasa risih jika berada di dekatnya.
"Cecilia."
"Ya, Tuan?"
"Kau cantik sekali hari ini." Dia memujiku.
Aku tersenyum menanggapinya, sedang dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah mengapa aku merasa geli diperhatikan oleh pria paruh baya ini. Tersirat dari matanya jika dia amat tertarik padaku.
__ADS_1
Dialah Hadden. Lagi-lagi aku kepergok olehnya saat sedang menguping pembicaraan. Pria dengan setelan seragam bisnis tanpa dasi ini tatapannya ke mana-mana. Terlebih aku mengenakan gaun sebatas lutut, dia seperti penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.
"Terima kasih, Tuan." Aku tersenyum sekedarnya.
Dia meneguk anggurnya sambil terus memperhatikanku. Kulihat sudah mulai ramai kerabat dekat yang datang. Beberapa di antara mereka ada yang menghampiri Hadden lalu mengajaknya berjabatan tangan. Aku sendiri hanya diam di tempat sambil memegang gelas anggur yang diberikan oleh Hadden. Aku tidak berani meminumnya karena ingat pesan dokter.
"Cecilia, aku sedang sendiri saat ini," katanya, setelah selesai berjabatan tangan dengan kerabat yang datang.
"Oh, ya?" Aku hanya menanggapinya singkat.
Dia melihatku. "Aku rasa seusiaku sudah harus menutup hati," katanya, yang entah apa maksudnya. Aku juga tidak peduli.
Aku mengalihkan pandangan sesaat. Mataku mencari-cari di mana keberadaan Jackson. Aku takut dia salah paham karena berbincang bersama Hadden. Tahu sendiri bagaimana Jackson. Dia adalah tipikal pria pencemburu akut. Jadi sebisa mungkin aku menjaga pikirannya dari hal-hal yang memicu kecemburuan. Aku tidak ingin kehilangan Jackson.
Setelah merasa dia belum datang, aku kembali ke Hadden seraya berpura-pura meneguk anggur. "Istri Tuan Hadden ke mana?" Aku mencoba mengorek informasi tentangnya.
Hadden tersenyum. Dia memang pria gentle yang tidak sembarang bertindak. Sedari tadi kami hanya berdiri berhadapan tanpa bersentuhan sedikitpun. Dia menjaga sikapnya walaupun pandangan matanya mengisyaratkan hal lain untukku.
"Aku sudah bercerai, Cecilia. Sudah lama." Dia memasang wajah menyesal.
"Bercerai?" tanyaku penasaran.
"Jadi sekarang?" Aku ingin lebih tahu.
"Aku masih sendiri, belum menemukan yang pas. Lagipula seusiaku tidak cocok untuk gadis remaja, bukan?" Dia menertawai dirinya sendiri.
Kusadari jika ini kesempatan baik bagiku untuk menanyakan berapa usianya. "Memangnya usia Tuan?"
"Empat puluh tujuh tahun," jawabnya segera. "Pastinya gadis-gadis di luar sana hanya menyukai uangku saja. Tidak dengan diriku." Dia seperti curhat padaku.
Sontak aku terkejut saat mengetahui berapa usia aslinya. Ternyata usia Hadden sudah hampir kepala lima. Pantas saja jika keriput di wajahnya tidak bisa ditutupi. Dia ternyata sudah tua.
"Tuan, Anda adalah orang terpandang. Pastinya banyak wanita yang ingin hidup bersama Anda." Aku mencoba menguatkan hatinya padahal malas sekali.
Hadden menunduk seraya tersenyum. Dia lalu mengangkat wajahnya dan melihatku. "Apa kau mau menjadi yang terakhir?" tanyanya yang membuatku syok seketika.
What?!! Gila saja aku mau dengannya. Lebih baik dengan Jackson. Walaupun dia punya banyak uang sekalipun, aku tidak mau. Lagipula aku sudah terlanjur cinta kepada pria berwajah muram itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Jackson Baldev.
__ADS_1
"Haha, Tuan Hadden keterlaluan ya kalau sedang bercanda." Aku menanggapi ucapannya sebagai sebatas gurauan.
"Cecilia, sebenarnya di pihak mana kau berada?" tanyanya tiba-tiba yang membuat jantungku berdegup kencang seketika.
Hadden pintar sekali mempermainkan hati orang. Dia berkata ini dan itu, tapi ujung-ujungnya menanyakan di pihak mana aku berada. Dia seperti ingin mengorek informasi lebih dalam tentangku.
Aku tersenyum lalu menjawabnya, "Siapa yang membayarku lebih besar itu tuanku, Tuan Hadden." Kutunjukkan jika aku masih Cecilia yang dulu.
Hadden tersenyum penuh makna. Tangannya seperti ingin menyentuh rambutku yang dibiarkan tergerai. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga ini, berbisik padaku.
"Aku akan membayarmu dengan semua yang kupunya jika kau mau bersamaku," katanya seperti menggodaku.
Sontak jantungku semakin berdebar tak karuan karena tawarannya ini. Entah serius atau bercanda, aku tidak tahu. Hadden seperti benar-benar menginginkanku.
"Oh, di sini rupanya."
Tiba-tiba saja kudengar suara itu. Suara seorang pria menyebalkan namun begitu kurindukan. Dialah Jackson Baldev, datang di saat yang tepat. Hadden pun segera menjaga jaraknya dariku.
"Tuan Jackson baru datang?" Hadden terlihat berbasa-basi kepada Jackson yang berjalan mendekati kami.
Jackson diam. Dia memasang wajah muramnya lalu menoleh ke arahku. "Cecilia, kau mendahului bosmu." Dia berkata jutek padaku.
Sontak aku tersadar dengan maksud ucapannya. "Maaf, Tuan." Aku pun segera permisi dari hadapan keduanya.
Hadden terus memperhatikanku, sedang Jackson melihat kepergianku. Rasanya aku harus mengambil napas panjang setelah ketahuan Jackson mengobrol jarak dekat dengan Hadden. Bisa saja dia menghukumku nantinya. Dan hukumannya itu tidak begitu kusukai.
Kenapa sekarang aku malah menyukai wajah muramnya, ya?
Tidak tahu kenapa, aura sinis dan jutek dari Jackson malah kusukai. Rasanya ingin sekali menimpanya lalu membuatnya melayang ke angkasa. Tapi sayang, waktu tidak memungkinkan sehingga aku harus pergi dari hadapannya.
Kulangkahkan kaki menuju meja hidangan lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Aku duduk seorang diri di antara kerabat dekat keluarga Liandra yang berdatangan. Kucek ponsel lalu memainkannya sebentar. Kuisi waktu sebelum perjamuan makan malam.
.........
...Hadden...
__ADS_1
...Jackson...