Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Liburan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Aku sedang berdandan di depan cermin karena sebentar lagi akan ada yang datang untuk menjemputku. Kukenakan pakaian serba putih sebelum berlibur ke pantai hari ini. Tak lupa kubawa juga tas kecil dan topi pantaiku. Aku ingin menikmati hari sebelum beraksi kembali.


Pagi ini kukenakan blus lengan pendek dan rok canda sebatas lutut yang sama-sama berwarna putih. Tapi walaupun memakai rok, tetap kukenakan leging pendek di dalamnya.


"Baiklah aku sudah siap."


Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Aku pun segera keluar kamar untuk menyambut liburan kali ini. Kutunjukkan bagaimana sikapku yang asli agar dia tidak kaget lagi. Hari ini juga aku akan mencoba memberikan pengertian padanya. Tentang siapa aku dan masa laluku. Jika dia masih bertahan dengan perasaannya, mungkin saja dia memang tercipta untukku.


"Eh, dia datang?"


Kudengar bel apartemen berbunyi. Segera saja aku bergegas menuju pintu untuk membukakannya. Dengan wajah berseri-seri aku membukakan pintu apartemenku. Dan ternyata memang benar dialah yang datang.


"Cecilia." Dia menatapku dengan wajah sedikit berbeda.


"Aku sudah siap." Aku semringah. Tidak peduli bagaimana roman wajahnya.


Pria berkemeja putih itu mengangguk. Aku pun segera mengunci pintu apartemen lalu melangkahkan kaki bersamanya menuju parkiran gedung. Kutahu jika Alexander pasti menepati janjinya. Dia sudah memperhitungkan semuanya agar tidak datang telat untuk menjemputku.


"Tuan."


Sesampainya di dalam lift, aku pun menyapanya. Kebetulan di dalam lift hanya ada kami berdua.


"Hm?" Dia menoleh ke arahku.


"Buncis," kataku seraya menunjuk pipi ini dengan kedua tanganku.


Kulihat dia tertawa. "Dasar." Dia pun mengusap-usap kepalaku yang sudah memakai topi pantai.


Mungkin perubahan roman pada wajahnya disebabkan karena kejadian kemarin. Dimana aku tidak menjawab pernyataan cintanya dengan kata mau atau tidak. Aku hanya mengangguk untuk menghargainya saja. Aku belum bilang jika mau menjadi kekasihnya. Dan mungkin karena hal itu dia jadi sedikit minder hari ini. Padahal aku biasa-biasa saja.


Ya, maklum. Namanya lelaki. Mereka juga mempunyai harga diri. Berulang kali meminta tapi tak ditanggapi, pastinya juga akan merasa sakit hati. Dan mungkin hal itu jugalah yang dirasakan Alexander sekarang ini.


Lantas sesampainya di lantai dasar kuberanikan diri untuk memegang jemari tangannya. Dia pun melihat ke arahku yang memegang jemari tangannya ini. Dia segera mempererat pegangan tangan kami hingga seluruh jarinya masuk ke sela-sela jemari tanganku. Kami pun terus melangkahkan kaki menuju mobil yang diparkirkan. Kami akan berlibur bersama hari ini.

__ADS_1


Satu jam kemudian, sesampainya di pantai...


Sepanjang perjalanan menuju pantai, kami hanya berdiaman. Diam tanpa kata yang membuatku terheran-heran dengan sikapnya. Tapi walaupun diam, dia terus saja menggenggam tanganku. Seolah tidak mau lepas dan mengatakan jangan pergi dari sisinya. Mungkin hatinya sekarang sedang gundah karena tak kunjung ada jawaban dariku. Atau mungkin dia mempunyai beban pikiran lain? Aku tidak tahu.


Kini kami sudah sampai di pantai. Dan mungkin saatnya bagiku untuk mendominasi keadaan. Dimana aku harus bersikap lebih luwes dan tidak menjaga jarak lagi. Sebagai perempuan pastinya tidak enak jika terus mengabaikan perasaan seseorang. Dan hari ini aku ingin lebih dekat dengannya. Kepada seorang pria yang sudah setia menemaniku selama ini.


"Hah ... indahnya!"


Setelah keluar dari mobil, kulihat awan putih berarak di angkasa. Cuaca siang terasa panas namun tetap sejuk karena semilir angin pantai. Ombak-ombak juga berkejaran tanpa hentinya. Memunculkan buih-buih di lautan yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin sama seperti jumlah dosa dan kesalahanku selama ini. Tapi aku berharap jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu masih terbuka lebar untukku. Entah dengan siapa nantinya melabuhkan bahtera rumah tangga, aku akan terima. Karena kuyakin itu yang terbaik.


"Tuan, kita makan dulu, ya. Hari ini aku yang traktir," kataku kepada pria berkemeja putih di sampingku.


Dia mendekatiku. "Mau traktir apa?" tanyanya, kami pun berdiri bersampingan melihat suasana pantai dari area parkiran mobil.


"Maunya traktir apa?" tanyaku seraya mencolek ujung hidungnya.


"Cecilia?!" Seketika itu juga dia terkejut dengan sikapku.


Aku pun dengan gemas mencubit kedua pipinya. "Mana ya yang kemarin bilang harus buncis. Kok sekarang tidak buncis lagi?" Aku meledeknya.


"Kenapa?" tanyaku dengan nada manja. "Banyak utang, ya?" Aku menerka seraya mendekatkan wajahku ini kepadanya.


"Hah ... bukan." Dia menghela napasnya di depanku.


"Lalu?" tanyaku lagi.


Dia terdiam sejenak lalu menatapku. Dia merapikan poni rambutku yang sebagian tertutupi topi. "Aku memikirkan seorang putri yang masih ragu akan perasaanku. Haruskah aku menunggangi kuda agar dia percaya dengan kesungguhanku?" tanyanya yang membuatku ingin tertawa.


Sungguh aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tahu maksud kata-katanya, tapi aku belum bisa menjawabnya. Entah mengapa aku malah merasa sedih mendengarnya. Tapi saat itu juga aku tersadar jika tidak boleh terbawa perasaan. Aku happy saja.


"Sabar dong, Pangeran!" Aku mencolek dadanya. "Semua butuh proses. Lagipula kita baru dekat. Kalau cepat-cepat, nanti cepat juga pisahnya. Mau?" tanyaku.


"Cecilia?!" Dia sepertinya terkejut kupanggil pangeran.


"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Selama aku bersamamu, apa yang harus dikhawatirkan? Ayo, kita ke sana!" Aku mengajaknya ke kantin yang ada di pantai.

__ADS_1


Saat aku berbalik dari hadapannya, saat itu juga dia menarikku ke dekatnya. Dan ternyata, Alexander memelukku.


"Tuan ...."


"Cecilia, aku serius," katanya seraya memelukku.


Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi di pelukannya.


"Jangan membuatku menunggu terlalu lama. Jika ada hal yang bisa meyakinkanmu, katakan saja. Aku akan mencoba memenuhinya." Dia berkata lagi.


Kurasakan kehangatan tubuhnya yang memeluk tubuhku ini. Detak jantungnya seakan terasa sampai ke dadaku. Iramanya stabil seperti tidak ada kebohongan di dalamnya. Aku pun membalas pelukannya dengan senyaman mungkin. Aku menerima perasaannya walaupun belum bisa menjawabnya sekarang.


"Aku percaya padamu," kataku yang membuatnya semakin erat memelukku.


"Kau yang pertama, Cecilia. Sungguh." Dia berkata lagi.


Aku mengangguk dalam pelukannya. "Iya. Terima kasih." Aku pun menjawabnya.


Siang ini menjadi saksi atas perasaan yang ada di hati. Dimana Alexander menyatakan perasaannya kepadaku untuk yang kesekian kali. Rasanya begitu egois jika tidak menerimanya. Aku pun lagi-lagi hanya bisa mengangguk sebagai tanda menerima perasaannya. Tapi memang belum bisa mengungkapkan jika aku menyayanginya. Semoga saja dia sabar sampai menunggu waktu itu tiba.


Aku tidak bisa banyak berharap saat ini. Kujalani saja yang ada sambil menikmati hidup yang hanya sekali. Kuakui jika sedikit demi sedikit luka di hatiku sudah terobati. Dan mungkin tak lama lagi aku akan memberikan keputusan akan cinta ini. Tapi mungkin belum sepenuhnya seperti yang dulu, karena semua butuh proses waktu. Jadi ya sudah. Kita nikmati saja liburan kali ini.


.........


...Cecilia...



.........


...Alexander...



__ADS_1


__ADS_2