Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Terlanjur Basah


__ADS_3

Bos-bos besar yang ada di ruangan ini tampak biasa saja melihatku mengenakan seragam kantoran. Tapi saat mengenakan gaun yang terbuka, pandangan mereka berubah 180 derajat. Hawa buaya darat memenuhi sekeliling ruangan. Dan mungkin juga untuk pria yang ada di sana. Dia menatapku sambil menghisap puntung rokoknya.


Anda telah mengeksposku, Tuan. Maka jangan salahkan aku jika tubuhku dilihat oleh banyak pria hidung belang di sini.


Irama musik dimainkan. Aku pun mengikuti gerakan lagu. Beberapa tarian perut mewarnai gerakanku. Hingga akhirnya aku setengah kayang di hadapan mereka, memperlihatkan kedua bukit ranumku dari atas. Dan kudengar beberapa di antara mereka yang memujiku, namun Jackson terlihat biasa-biasa saja.


"Dadanya sungguh indah. Besar, padat dan menggairahkan."


"Lekuk tubuhnya juga nyaris sempurna. Dia memang wanita idaman pria dewasa. Tuan Jackson pintar sekali dalam memilih sekretaris."


Aku pikir Jackson hanya akan diam saja. Namun nyatanya, dia kemudian menanggapi ucapan dari temannya itu.


"Dia bukan sekretaris, tapi asisten pribadiku."


Jawaban dari Jackson membuat pria-pria di ruangan ini seperti memahami apa yang terjadi. Tapi aku tidak peduli dengan perbincangan mereka. Aku terus saja menari.


Lantas aku menungging. Kugerakkan pinggulku ke bawah dan ke atas sambil menyandarkan kedua tangan di dinding ruangan. Sontak gerakan pinggulku membuat semua orang terperangah. Seerotis mungkin kuberikan tarianku kepada mereka.


"Naikkan suhu AC-nya!" Salah satu dari mereka meminta lebih mendinginkan ruangan.


Liukan dari tubuhku sepertinya telah berhasil membuat mereka gerah. Ditambah bukit ranumku yang melambung-lambung di penglihatan mereka. Tersirat dari wajah-wajah yang ada menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. Lantas saja aku berputar, hingga rambutku yang dibiarkan tergerai mewarnai aksiku. Kuberikan senyum termanis kepada semua pria di ruangan ini. Aku sudah terlanjur basah, jadi sekalian saja menyelam. Asal tidak tenggelam itu sudah cukup bagiku.


Ruangan berkisar 5x7 meter ini menjadi saksi bagaimana aku menggoyangkan pinggul dan menggetarkan dada. Hingga akhirnya aku melangkahkan kaki untuk mendekati para bos besar yang duduk di sofa bersama Jackson. Sepertinya penerangan yang temaram ini tidak terlalu memperlihatkan jelas wajahku. Jadi kugunakan saja untuk bereksplorasi lebih jauh. Aku menggoda bos lain di hadapan Jackson. Aku menarik dasi salah satu dari mereka.


Tuan, kita lihat bagaimana reaksimu.


Aku meminta salah satu pria berdiri di hadapan semua orang yang ada di ruangan ini. Lalu aku berputar, mengelilinginya sambil menari. Hingga akhirnya alunan irama musik melambat, aku pun mendekatkan tubuh ke arah pria itu. Lantas kupasang pose menggoda bersamanya. Kubiarkan pria yang kuajak ini memegang pinggulku.


Bagaimana Tuan? Apa ini belum cukup?


Aku membatin. Bersamaan dengan itu kulihat Jackson mematikan puntung rokoknya dengan kesal. Mungkin dia tidak terima karena ada yang berani memegang pinggulku. Tapi aku tidak peduli, salah dia sendiri yang mengeksposku. Dan aku pun merasa semakin senang mempermainkannya.


Kuambil kursi lipat yang ada. Lalu kupinta pria yang menjadi model tariku untuk duduk. Aku lantas duduk di atas pangkuannya. Kugerakkan pinggulku di depannya hingga kudengar Jackson meletakkan gelas birnya dengan keras ke atas meja. Entah mengapa. Tapi sepertinya dia sudah terpancing kesal karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Tuan, kau marah? Kesal? Aku lebih dari itu.


Lama sekali aku menari. Satu per satu mendapat giliran menjadi model tariku. Tapi aku tidak menarik Jackson. Kubiarkan saja dia duduk di sofa. Aku tidak peduli bagaimana perasaannya karena dia pun tidak peduli bagaimana perasaanku.


Selesai menari...


Entah sudah jam berapa ini, rasanya aku lelah sekali. Aku tidak memakai jam tangan dan tasku juga dipegang oleh Jackson. Di dalam ruangan entah mengapa tidak ada jam dindingnya, sehingga aku tidak bisa melihat sudah pukul berapa sekarang. Tapi sepertinya, hari sudah sore atau mungkin sudah menjelang petang. Karena sedari tadi aku lama sekali menari di sini.


"Tuan, aku keluar sebentar." Aku meminta izin padanya.


Jackson bersama teman-temannya mengadakan pesta uang di atas meja. Uang milyaran dipertaruhkan dalam sekali putaran. Dan aku malas untuk melihat permainannya.


"Mau ke mana?" tanyanya seperti mencurigaiku.


"Ganti pakaian dan juga makan," jawabku, berbisik di telinganya.


"Gunakan saja gaun itu, tidak usah ganti," katanya sambil mengambil kartu baru dari atas meja.


Terserah apa katamu, Tuan. Aku mau makan.


Aku melangkahkan kaki ke luar ruangan saat dia sedang bermain judi di dalam. Aku tidak peduli bagaimana pandangannya terhadapku. Aku pergi saja mencari tempat untuk makan sambil membawa tasku. Dan setelah bertanya, kutemukan tempat yang cocok untuk makan, yaitu di atap klub ini. Lantas saja segera kupesan hidangan yang sesuai dengan lidahku. Aku menikmati santap rapelan ini seorang diri di atap klub.


Lima belas menit kemudian...


Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Aku pun baru saja selesai makan. Dan sambil menurunkan nasi ke perut, aku menelepon Angela sebentar.


"Halo?" jawabnya dari seberang dengan segera.


"Angela, aku membutuhkan bantuanmu," kataku memulai pembicaraan ini.


"Bantuan apa?" tanyanya.


Kuhela napas sejenak. "Bisa aku pinjam kartu penduduk dan paspormu?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Kau ingin ke luar negeri?" tanyanya lagi.


"Hm, ya. Aku rasa harus segera kabur dari sini," jawabku.


"Kabur? Apakah misimu tidak berhasil?"


Kutahu jika Angela sangat mengkhawatirkanku. Dia memang teman terdekat sekaligus mentorku di bidang ini. Dia juga baik dan bisa dipercaya. Sehingga aku tidak segan untuk menceritakan hal apapun padanya.


"Misiku berhasil, hanya saja aku ketahuan oleh Jackson," kataku.


"Apa?!" Kudengar Angela terkejut.


"Tolong bantu aku mengurus emigrasi. Aku tidak kuat lagi berlama-lama di sini. Aku telah kehilangan semuanya," kataku sambil memijat keningku sendiri.


"Cecilia, jangan bilang kau—"


"Dia telah mengambilnya dariku.


"Apa?!!"


"Dan sekarang dia mengeksposku ke bos besar lainnya. Dia sudah tidak mempunyai hati nurani lagi." Aku menceritakan.


Entah mengapa perbincangan kali ini membuatku menyesali pekerjaan yang sudah enam tahun kugeluti. Aku berharap ini adalah misi terakhirku, dan berjalan lancar seperti sebelum-sebelumnya. Tapi, entah mengapa di niatan terakhir ada saja kendalanya. Aku tidak bisa dengan mudah menyelesaikan perjanjianku.


"Cecilia, aku bisa saja membantumu mengurus emigrasi. Tapi, apa itu tidak malah berbahaya untukmu? Bisa saja Jackson mencarimu dan semakin marah karena kau lari. Bisa-bisa dia melakukan hal yang lebih kejam dari ini, sedang Zea berpangku tangan darimu. Pikirkan kembali niatanmu, Cecilia." Angela memberikan sarannya padaku.


"Aku tahu, tapi tidak ada cara lain untuk menghindar dari pria itu. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku ingin hidup normal seperti manusia pada umumnya, Angela." Aku mengungkapkan.


"Sudah lelah, ya?" Tiba-tiba saja kudengar suara itu dari arah belakang.


Jantungku berdegup kencang saat mendengar suara itu. Suara yang kutahu persis suara siapa gerangan. Ponselku lantas tak sengaja terjatuh ke atas meja, bersamaan dengan hatiku yang tidak karuan. Aku lalu berbalik pelan-pelan ke arah belakang. Dan kulihat jika Jackson lah yang datang.


"Mau kabur?" tanyanya yang sontak membuat jantungku berdebar kencang tak menentu.

__ADS_1


__ADS_2