Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Takut


__ADS_3

"Tuan?" Kudengar Alexander menyapa, seakan bertanya siapa Jackson bagiku.


"Ada urusan apa dengan asisten pribadiku?" tanya Jackson kepada Alexander.


Aku tidak tahu siapa yang memegang tanganku. Aku juga seperti tidak berani untuk melihat mereka. Tapi rasa-rasanya sih seperti tangan Jackson. Entah benar atau tidak, aku tidak berani melihatnya. Aku merasa takut sekali, khawatir salah satu terpancing emosi lalu berkelahi.


Ah, Cecilia. Kau terlalu percaya diri pria seperti mereka berkelahi karenamu. Pastikan dulu siapa yang memegang tanganmu ini.


Sungguh aku takut jika ternyata Alexander yang memegang tanganku. Mau jadi apa aku jika hal itu sampai terjadi? Pastinya Jackson akan memberi hukuman berat tidak hanya kepadaku. Tapi nyatanya, saat kuintip memang benar jika Jackson lah yang memegang tanganku.


Tuan, tanganmu menyakiti tanganku.


Aku mencoba melepaskan tangan Jackson. Tapi semakin mencoba untuk melepaskannya, semakin kuat cengkeramannya. Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa pasrah saja.


Tuan, sakit!


Aku menggerutu dalam hati, kesal sendiri dengan situasi seperti ini. Sedang Jackson masih memegang kuat tanganku. Mungkin dia melakukannya agar aku tidak lari. Sepertinya dia tahu persis bagaimana diriku ini. Padahal kalau dipikir-pikir kami belum terlalu lama mengenal sifat masing-masing. Atau mungkin dia sudah jatuh hati sungguhan padaku? Entahlah, aku tidak tahu. Jackson mudah sekali berubah, tindakannya tidak bisa kutebak.


"Em ... aku hanya mengobrol biasa dengan Cecilia. Aku tidak tahu jika Anda akan sampai semarah ini padanya." Alexander seperti memancing keributan.


Aku semakin tidak berani berbalik. Aku membelakanginya saja. Untuk kesekian kali aku kepergok olehnya. Jackson seperti tahu di mana saja aku berada, seolah-olah mempunyai mata dewa.


Jackson menarik paksa tanganku agar aku berbalik, menghadapnya. "Mau kabur?" Dia bertanya padaku yang menunduk ini.


"Ak-aku ...." Suaraku seperti tertahan di tenggorokan.


"Mau kabur?!!" tanyanya lagi dengan intonasi tinggi.


Jackson memarahiku di depan Alexander. Tidak tahu apa maksudnya, mungkin dia ingin menunjukkan jika aku ini adalah miliknya. Dia egois sekali. Kata cinta saja belum terucap, sudah mau memiliki sepenuhnya.


"Tuan, Cecilia tidak salah. Tolong jangan kasar padanya." Alexander ingin melepaskan tangan Jackson yang memegang kuat tanganku.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!"


Kulihat sekilas raut wajah Jackson menatap tajam ke Alexander. Jackson lalu menarikku pergi dari hadapannya. Dia benar-benar marah malam ini.


Cecilia-Cecilia, sudah tahu Jackson seperti itu malah mencari ulah.


Sebenarnya aku tidak berharap Jackson datang. Clara juga sudah meyakinkanku jika Jackson tidak pernah datang ke acara ini. Tapi entah mengapa dia tiba-tiba datang. Aku jadi curiga, kepada siapa Clara bekerja? Jangan-jangan dia mata-mata untuk Jackson? Atau mungkin dia orang suruhan Zea untuk menjatuhkanku? Entahlah, aku belum tahu karena belum membuktikannya sendiri.


"Tu-tuan, sakit." Aku mencoba melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tanganku.


"Jangan banyak bicara!" Dia terus menarikku agar mengikutinya.


Kami melangkah keluar gedung, meninggalkan Alexander tanpa kata, tanpa pamit. Aku pun hanya bisa mengekor di belakangnya. Aku tidak bisa menjelaskan kronologi jika sedang berjalan seperti ini. Baru beberapa kata kuucapkan saja, dia sudah bilang jangan banyak bicara. Apalagi jika aku menceritakan kronologi yang sebenarnya. Bisa-bisa aku malah disuruh menghisapnya.


Oh, ya ampun. Hidupku ....


Rasanya ingin sekali bicara jika Clara lah yang memaksaku datang, tapi sepertinya belum bisa kujelaskan. Sampai akhirnya kami tiba di parkiran gedung, Jackson masuk ke dalam mobil dengan tampang begitu dingin. Aura kemarahannya seolah menyelimuti ke sekelilingku. Aku pun jadi takut, khawatir diminta melakukan hal macam-macam sebagai hukuman atas tindakanku.


Dia berseru dari dalam, memintaku untuk segera masuk ke mobil. Aku pun membuka pintu mobil yang dikendarai olehnya sendiri. Aku duduk di sampingnya lalu diam seribu kata. Aku tidak berani memulai pembicaraan karena merasa bersalah.


Tak lama, kudengar Jackson mengembuskan napasnya dengan kuat. Dia seperti sedang mengeluarkan kekesalan yang ada di dalam hatinya.


Tuan, aku tahu kau marah. Tapi jangan hukum aku, ya.


Jackson menghidupkan puntung rokoknya, dia juga membuka kaca mobil. Dia hirup asap rokok itu dalam-dalam di sampingku, sedang aku hanya berani melirik sesekali ke arahnya.


Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena otakku seperti tidak dapat berpikir saat ini. Dan kini aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam agar tidak kaget jika dia tiba-tiba berteriak, memarahiku di dalam mobil.


Kuusap perutku agar dia melihatnya dan tidak marah lagi. Kuintip dari ujung ekor mata, ternyata dia benar-benar menoleh lalu melihat ke arahku yang sedang mengusap-usap perut ini. Sepertinya caraku berhasil untuk meredam amarahnya.

__ADS_1


"Kenapa bisa ada di sini?" tanyanya tiba-tiba.


Tuan, akhirnya kau bicara juga.


Betapa senang hatiku saat mendengar dia bicara. Ini kesempatan bagiku untuk menjelaskan semuanya.


"Tuan, Clara memaksaku ikut ke pesta. Dia katanya ingin mencari jodoh di sana." Aku berkata jujur padanya.


Jackson menoleh sesaat ke arahku. Tatapannya seolah mencibirku. Mungkin dia tidak percaya dengan hal yang kuucapkan barusan. Dia diam saja, tidak menanggapi sedikitpun. Dia melihat wajahku lalu ke perutku. Sepertinya Jackson sedang mencoba menahan amarah demi menjaga kerja kerasnya selama ini. Rasanya aku ingin menelannya saja. Tiba-tiba ingatan akan hari itu terulang kembali di pikiranku.


Hei, Jackson! Jangan marah-marah padaku jika tidak ingin kerja kerasmu gagal, ya. Kau kesal padaku? Ya, sama. Aku juga kesal padamu. Anggap saja malam ini pembalasan atas sikapmu dulu yang begitu dingin dan kejam padaku. Rasakan, Jackson! Rasakan!


"Sedang memikirkan apa?" Tiba-tiba dia bertanya di tengah gerutuku dalam hati.


"Tu-tuan?" Aku pun terkejut dengan tegurannya.


"Menyebalkan!" Dia kemudian menghidupkan mesin mobil dengan raut wajah amat kesal.


"Tuan, kita mau ke mana?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.


"Jangan banyak bicara!" katanya, yang membuatku terdiam seribu kata.


Jackson melajukan mobilnya, keluar dari parkiran gedung seperti orang marah. Dia sengaja membelokkan setir mobilnya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, membuat kepalaku pusing saja. Dia benar-benar menyebalkan.


Dasar lelaki! Jika sudah ngambek sampai tidak berpikir lagi!


Tidak tahu mau dibawa ke mana aku ini, kuturuti saja kemauannya. Sesampainya di jalan raya, dia kembali melajukan mobil seperti biasanya. Tapi sayangnya, kepalaku sudah pusing tujuh keliling karenanya. Bergoyang ke sana ke sini karena setir mobilnya. Rasanya aku ingin muntah.


Jackson Baldev! Kau keterlaluan! Lihat saja nanti, aku akan membalas semua perbuatanmu!


Aku tak berdaya, lagi-lagi tak berdaya. Cinta ini membuatku seperti orang yang bodoh, benar-benar membutakan dan tidak mengenal logika.

__ADS_1


__ADS_2