Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Janji Dua Hati


__ADS_3

Dadaku terasa sesak mendengarnya. Tak menyangka jika akan mendengar kabar kecelakaan ini. Lantas sekuat hati aku melangkahkan kaki menuju kamarku. Mengambil tas dan juga kunci mobil yang digantungkan di dekat pintu. Aku berusaha melangkah pergi dari apartemen ini. Walaupun pada kenyataannya kepalaku terasa pusing sekali.


Dear ... kau mempunyai janji padaku. Kau tidak boleh meninggalkanku.


Terus saja kulangkahkan kaki hingga akhirnya sampai di depan pintu. Segera kukunci pintu apartemen ini dari luar lalu melangkah pergi menuju lift gedung. Aku tidak bisa berdiam diri saat situasi sudah seperti ini. Aku harus segera menemuinya.


Beberapa menit kemudian...


Aku sampai di parkiran apartemen setelah membaca pesan dari ibu Alexander. Ibu Alexander mengirimkan alamat rumah sakit tempat di mana putranya menjalani perawatan intensif. Dan rumah sakit itu ternyata cukup jauh dari apartemen ini. Dekat dengan perbatasan antar kota yang mana aku harus menempuh jarak sekitar satu jam perjalanan untuk sampai ke sana. Dan ya, mau tak mau aku harus berangkat demi seorang pria yang kini menyelimuti hatiku dengan cintanya.


Sungguh aku tak percaya. Benar-benar tak percaya dengan kabar yang kudengar. Bagaimana bisa dia terkena musibah ini? Padahal dia sudah ahli dalam mengendarai mobil. Terlebih dia adalah orang yang gemar menderma. Mengapa semua bisa terjadi padanya? Hatiku seakan tidak bisa menerima.


Baru tadi siang kami bercengkrama. Baru beberapa jam yang lalu dia berpamitan padaku untuk kembali bekerja. Hangat bibirnya pun seakan masih terasa di kening ini. Tapi malam ini dengan cepat semuanya berubah. Seperti mimpi buruk yang sedang menjadi nyata.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku tidak ingin kehilangannya.


Lantas aku segera masuk ke dalam mobil lalu menghidupkan mesin. Aku berniat segera melaju ke rumah sakit, tempat di mana Alexander dirawat. Aku harus berada di sisinya secepat yang kubisa.


"Aku serius, Cecilia."


Kata-kata darinya terlintas di benakku. Wajah tampannya, perhatiannya, kasih sayangnya, bagai hujan yang membasahi tanah tandus di bumi yang gersang. Rasanya aku tidak sanggup mendengar kabar yang lebih buruk lagi.


Dear, tunggu aku.


Jangan bilang jika itu orang suruhan Jack.


Mobil BMW hitam di belakangku ini seperti ingin menyalip mobilku, namun dia tidak menghidupkan lampu kedip sama sekali. Entah siapa yang ada di dalam mobil itu, rasa-rasanya lebih baik aku menghindar saja.

__ADS_1


"Aaaa!"


Tiba-tiba aku mengerem mendadak mobilku. Hampir saja mobilku menabrak mobil yang menyalip mobilku. Ternyata benar mobil BMW hitam itu menyalip mobilku tanpa tanda peringatan sama sekali. Tidak menghidupkan klakson ataupun lampu. Benar-benar membahayakan.


Sial!


Kata umpatan pun akhirnya muncul saat melihat mobil hitam itu melaju di depanku. Mobil hitam itu seperti ingin menghalangi jalanku untuk menuju ke rumah sakit.


Siapa pemilik mobil itu?


Lantas aku kembali melajukan mobilku. Sengaja mengambil jalur kanan agar bisa cepat sampai ke rumah sakit yang kutuju. Sebisa mungkin aku pun fokus menyetir di tengah-tengah rasa kalut yang menyelimuti hati dan pikiran ini. Aku harus segera datang untuk menemuinya. Karena secara tidak langsung kami telah mengikat janji.


.........

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2