Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tolong Aku!


__ADS_3

Aku mencoba melihat situasi, menunggu pria berbadan besar itu lengah dan tidak melihatku. Seluruh model diminta untuk menuju ruang ganti. Aku pun pura-pura ikut ke ruang ganti. Tapi saat pria itu lengah, aku segera berbelok arah. Aku harus menghindari sesi ini. Aku pun segera melarikan diri.


"Hei, mau ke mana?!"


Belum sempat lari, pria berbadan besar itu berteriak memanggilku. Namun, tak kuindahkan panggilannya. Aku segera lari, mencari jalan keluar untuk pergi. Aku tidak mau ikut-ikutan lagi.


"Hei, ada yang kabur! Penjaga! Cepat tangkap model itu!"


Pria itu pun berteriak jika aku kabur. Padahal aku bukanlah model dari Queen Club. Aku merasa dia otoriter sekali. Tidak peduli lagi dengan penjelasanku dan seenaknya ingin menjualku. Tapi apalah daya, area belakang panggung ini ternyata tertutup. Alhasil beberapa penjaga yang ada di sekitaran panggung datang memergokiku. Jalanku pun terhadang oleh mereka.


Oh, sial!


Aku tidak bisa melarikan diri. Dua orang penjaga sudah menghadang jalanku. Badannya kekar-kekar, mungkin hampir mirip seperti atlet sumo Jepang. Aku pun menelan ludah sendiri.


Kuputar otak dengan cepat untuk mencari cara agar bisa lari dari situasi ini. Kulihat sekeliling belakang panggung ternyata dibatasi pagar yang tinggi. Hanya ada satu jalan keluar agar bisa lari, yaitu menerobos penjaga yang menghadangku. Tapi masalahnya, bagaimana bisa aku melawan kekuatan dua pria kekar? Sedang aku saja langsing begini. Aku pun jadi pesimis, serasa menemui jalan buntu.


Mana ya parfum biusku?


Kurogoh saku celana belakangku. Dan ternyata parfum biusku tak ada. Entah lupa terbawa atau jatuh di perjalanan. Kusadari jika situasi ini amat tidak menguntungkanku.


"Dasar betina tidak tahu diuntung!" Pria berbadan besar itupun menangkapku. Dia memegang tanganku dengan kasar. "Mau ke mana, hah?! Sudah menandatangani kontrak, mau pergi! Cepat ganti pakaianmu!" Dia memaksaku.


Aku menolaknya. "Tuan, aku bukanlah model Queen Club. Sungguh! Lepaskan aku!" Aku berontak, berusaha melepaskan tanganku darinya.


"Banyak bicara!" Dia pun tanpa ampun menyeretku ke ruang ganti.


"Tuan, lepaskan aku! Kau salah paham! Aku bukan model!" Sekuat tenaga aku melepaskan diri darinya.


Pria berbadan besar ini seakan tidak peduli. Dia terus saja menyeretku ke ruang ganti. Para penjaga pun berjaga di sekitar pintu keluar agar aku tidak bisa lari lagi. Aku amat frustrasi menghadapi hal ini. Aku tidak bisa lari. Aku juga tidak mau berbikini.


Steve di mana dirimu? Tolong aku.


Satu-satunya orang yang bisa menolongku saat ini adalah Steve. Steve pasti bisa mengurai kesalahpahaman yang terjadi. Tapi dia sedang sibuk di depan panggung melayani minum para tamu undangan. Aku jadi merasa sendiri. Aku harus mencari alternatif lain untuk kabur.

__ADS_1


Pria berbadan besar ini terus saja menarikku menuju ruang ganti. Aku pun seakan tidak bisa berbuat apa-apa karena cengkeramannya begitu kuat menahan tanganku. Rasanya ingin menangis saja. Aku tidak ingin diperjualbelikan di sini.


Ya Tuhan, tolong aku ....


Air mataku pun menetes saat semakin mendekati ruang ganti. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku harap masih ada orang yang bisa menolongku saat ini. Siapapun dia, tolong aku.


"Lepaskan dia!"


Di saat keputusasaan menderaku, di saat itu juga kudengar suara seseorang berkata seperti itu. Kulihat seorang pria berkaca mata hitam memasuki area belakang panggung. Dia bergaya santai dengan busana kasualnya. Dia datang menghampiri kami, berbelok dari pintu masuk belakang panggung. Tak tahu siapa, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena jarak kami cukup jauh. Pria berbadan besar itu pun melihat siapa gerangan yang datang. Dan tiba-tiba saja dia melepaskan tanganku.


"Tu-tuan Muda?!"


Pria berbadan besar itu menyebut seseorang yang datang dengan sebutan tuan muda. Aku pun memperhatikan dengan saksama pria itu. Dan ternyata...


"Dear ...?!"


Kusadari jika yang datang adalah Alexander. Dia pun melepas kaca mata hitamnya di hadapan kami. Aku pun segera menghambur ke pelukannya. Kupeluk dirinya sambil menahan rasa takut di hatiku ini. Dia ternyata datang untuk menyelamatkanku.


"Dear ... untung kau datang."


"Kau baik-baik saja?" tanyanya padaku.


Aku mengangguk. Kulepaskan pelukan ini lalu melihat wajahnya. "Untung kau datang, Dear. Aku tidak tahu jika kau tidak datang. Aku takut sekali," kataku padanya.


Dia mengusap pipiku. "Tenanglah, ada aku di sini." Dia meyakinkanku.


Aku mengangguk lalu memeluknya kembali. Aku merasa bahagia karena bisa bertemu dengannya, apalagi di saat-saat seperti ini. Alexander pun melihat ke arah pria berbadan besar itu yang sedari tadi menyeretku.


"Berani-beraninya kau menarik paksa kekasihku!" Alexander tampak geram kepada pria itu. Dia pun masih mendekapku dalam hangat tubuhnya.


"Tu-tuan Muda, sa-saya tidak tahu kalau i-itu—"


"Kau sudah bosan hidup?!" Alexander terlihat marah sekali. Baru kali ini aku melihatnya marah seperti ini.

__ADS_1


"Ampuni saya, Tuan Muda. Sungguh saya tidak tahu."


Kulihat pria berbadan besar itu berlutut, memohon ampun kepada Alexander. Dia seperti tidak ingat lagi apa yang telah dilakukannya tadi. Dan kini dia tidak dapat lari dari perbuatannya. Kulihat Alexander menatap tajam ke arah pria itu seperti ingin menghabisinya. Pria itu pun menundukkan kepalanya karena takut.


Aku tak percaya jika Alexander sampai ditakuti seperti ini. Dia benar-benar anak dari pemilik Queen Club yang ditakuti pekerja ayahnya. Tak lama kemudian para penjaga pun datang ke tempat kami. Alexander lalu meminta kepada para penjaga untuk mengurung pria itu beberapa waktu. Aku pun merasa senang karena bisa melihat pria berbadan besar itu mendapatkan balasannya.


Dear, terima kasih. Jika bukan karenamu, aku sudah berbikini di hadapan para hidung belang.


Lantas aku memeluk Alexander kembali. Alexander pun menatapku penuh kasih. Dia lalu membalas pelukanku. Sepertinya kisah kami akan dimulai sejak kini. Aku pun tidak ragu lagi untuk mencurahkan perasaanku.


"Cecilia, bagaimana bisa kau berada di sini?" tanyanya yang membuatku bingung untuk menjawabnya.


"Ak-aku ...."


Tak tahu apa yang harus kukatakan. Tidak mungkin juga aku mengatakan yang sejujurnya mengenai alasan mengapa aku bisa berada di sini. Pastinya dia merasa aku mencurigai, tidak percaya padanya.


"Kita pulang sekarang." Dia kemudian melepas kemeja birunya. "Pakailah ini." Dia juga memakaikan kemejanya padaku.


Dia penyayang sekali.


Aku pun menurut memakainya. Dia juga dengan setia menungguku selesai mengenakan kemeja darinya. Namun, tiba-tiba...


"Oh, sedang ada pertunjukan drama rupanya." Kudengar seseorang berbicara seperti itu kepada kami.


Aku pun menoleh ke belakang, melihat siapa gerangan yang berbicara. Dan ternyata, seorang pria berbusana pantai dengan corak lobster mendatangi kami. Pria itu adalah pria yang pernah mengisi hari-hariku sebelumnya, Jackson Baldev.


.........


...Cecilia...



...Alexander...

__ADS_1



__ADS_2