Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Hanya Kamu


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Tepat pukul delapan pagi kami baru saja selesai sarapan bersama. Ini adalah pertama kalinya bagiku sarapan bersama seorang bos besar seperti Jackson. Dan ternyata dia lebih memilih menyantap nasi goreng buatanku ketimbang masakan restoran. Rasanya hatiku ini berdenyut-denyut tak karuan karenanya. Dia ternyata bisa menghargai usahaku.


Ada hal menarik darinya pagi ini. Dia tidak memperlakukanku seperti bawahannya, melainkan bagai seorang istri. Energi kasih sayang itu kurasakan walaupun tidak terlalu ditampakkannya. Aku juga bersikap selayaknya saja. Menuruti kemauannya karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan.


"Lekaslah bergegas, kita akan berlibur hari ini." Dia meneguk air minum lalu beranjak dari duduknya.


Tidak tahu apa yang terjadi, setelah kejadian semalam dia begitu lembut padaku. Dia juga manja, apa-apa minta diambilkan dan dipakaikan. Aku merasa seperti seorang baby sitter yang melayani bayi besar. Lucu, sih. Tapi aku takut baper sendiri, khawatir ini hanya sebatas sandiwaranya saja. Mungkin karena aku terlalu banyak bersandiwara akhirnya jadi takut orang lain bersandiwara di depanku.


Sampai detik ini aku belum tahu di mana posisiku berada. Kadang menjadi asisten pribadi, kadang menjadi bawahannya, kadang juga berada di bawah tubuhnya. Aku jadi bingung menjelaskan siapa diriku ini di matanya.


"Berlibur ke mana, Tuan?" tanyaku seraya membereskan meja bekas sarapan kami.


Kulihat dia menghidupkan puntung rokoknya. "Kita ke pantai ekslusif. Di sana bisa menyegarkan pikiran," jawabnya sambil menghisap puntung rokok.


Pantai ekslusif? Apa tidak salah dia mengajak ku ke sana? "Em, Tuan. Apa saja yang perlu kubawa?" tanyaku lagi.


Dia duduk di sofa sambil merokok. "Bawa pakaian ganti dan pakaian pantai," katanya lalu menonton acara TV.


"Baiklah, Tuan." Aku pun segera mengiyakan.


Kebetulan aku tidak banyak membawa pakaian untuk tinggal di apartemen ini. Niatku hanya seminggu tinggal, eh tapi malah keterusan. Rumah yang kusewa dekat kantor jadi tidak berpenghuni. Mungkin sekarang sudah berdebu dan banyak sarang laba-labanya.


Lantas segera kucuci piring bekas sarapan pagi kami. Setelahnya bersiap-siap untuk berlibur ke pantai. Entah apa yang akan dia lakukan di sana, aku ikut saja. Selama bersamanya aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Tidak ada yang berani padanya secara langsung, bahkan Hadden sekalipun.


Satu setengah jam kemudian...


Kukenakan satu pasang pakaian berdasar lembut dengan bawahan rok panjang. Hari ini entah mengapa aku ingin mengenakan rok. Dan kulihat Jackson pun tidak berkomentar apapun dengan pakaian yang kukenakan.


Rambut kubiarkan tergerai dengan make up yang sedikit tebal untuk melindungi wajah dari sinar matahari. Lipglos berwarna merah juga kusapukan ke bibir agar wajahku terlihat lebih menarik. Dan beberapa semprotan parfum menambah rasa percaya diriku untuk menemani Jackson berlibur hari ini. Aku pun akhirnya siap untuk berlibur bersamanya.

__ADS_1


Puluhan menit di perjalanan, akhirnya kami tiba di parkiran gedung PT Samudera Raya. Kulihat gerbang kantor sebelumnya tertutup karena tanggal merah. Sehingga hanya terlihat beberapa satpam yang berjaga.


"Kita bawa semua barang bawaannya," katanya.


"Eh?" Aku jadi bingung sendiri. "Bukannya mau berlibur ke pantai, Tuan?" tanyaku heran, karena merasa bingung mengapa harus membawa semua barang bawaan ke kantor.


"Sudah menurut saja." Dia lantas menjitak kepalaku.


"Aw!"


Seketika aku pun mengusap-usap kepalaku yang terkena jitakannya. Tidak sakit, sih. Malah maunya nambah lagi. Jitakannya lembut sekali, membuatku merasa begitu disayang olehnya.


"Tuan, bantu aku bawakan." Aku meminta kepada Jackson untuk membantu membawa barang bawaan kami.


"Orangnya juga mau sekalian?" tanyanya seperti menggodaku.


"Ih, dasar!" Aku pun mengambil barang yang ringan-ringan saja.


Hari ini aku seperti menjadi Nyonya Baldev. Aku bisa meminta Jackson membawakan barang bawaan kami tanpa merasa takut dia akan marah. Entah mengapa atmosfer di sekitaran terasa penuh cinta. Atau akunya saja yang memang ke-GR-an?


Saat memasuki gedung, kulihat kondisi sekitaran tampak sepi, tidak seramai hari kerja. Tapi entah mengapa saat berada di dekatnya, hatiku terasa ramai seperti pasar cinta. Mungkin saja sekarang aku sudah gila karenanya.


Jackson mengenakan kaus oblong berwarna hitam dengan corak putih bertuliskan a better you. Entah apa maksudnya mengenakan kaus dengan tulisan seperti itu. Tapi kalau dipikir-pikir, seperti mengatakan jika aku yang lebih baik. Ah, entahlah. Aku malah jadi GR sendiri.


Jackson membawa tas kecil bertali rantai dan juga tas ranselnya. Mungkin tas ransel berisi pakaian ganti, sedang tas kecilnya berisi alat komunikasi. Dan kulihat otot-otot lengannya memang begitu kekar, dia maskulin sekali.


Kami akhirnya menuju lantai paling atas gedung ini sambil membawa barang bawaan. Kebetulan tidak banyak barang yang dibawa, hanya sekedar pakaian ganti dan beberapa cemilan untuk menemani liburan. Kata Jackson sih di pantai nanti bisa memesan makanan jika lapar. Entah bagaimana keadaan yang sebenarnya.


"Tuan, ini?"


Sebenarnya aku tidak tahu alasan pasti mengapa Jackson mengajak ku ke kantor dulu. Aku pikir dia mengajak ku ke kantor untuk mengamankan dokumen penting karena hari ini libur. Tapi ternyata, dia mengajak ku ke teras atap gedung yang mana kulihat ada satu helikopter tanpa pilot di sana.

__ADS_1


Astaga, jadi dia ingin menaiki helikopter?


Aku terkejut saat menyadari jika kami akan pergi berlibur menggunakan helikopter. Aku sungguh takut apalagi tidak ada pilotnya. Aku ngeri berada di atas ketinggian tanpa keamanan berganda.


"Ayo, Cecilia." Jackson memintaku mengikutinya.


Aku terperangah, berhenti melangkahkan kaki karena rasa takut menyelimuti. Aku takut jatuh dari helikopter. Aku punya phobia ketinggian. Jika aku masuk, sama saja mengantarkan diri terjerumus dalam ketakutan.


"Cecilia, kenapa berhenti?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


Dia sudah berjalan duluan di depan. Dia kemudian menoleh ke belakang, melihatku yang terpaku di dekat pintu masuk atap. Mungkin karena kesal, dia langsung menarik tanganku agar mengikutinya.


"Tuan, aku takut. Jangan!" Aku menolak masuk ke helikopter.


Dia membuka pintu helinya. "Cecilia, kau tidak ingin berlibur bersamaku?" tanyanya, seperti setengah kesal.


"Tuan, sungguh aku takut ketinggian. Lagipula siapa yang mau menerbangkan helikopter ini? Tidak ada pilotnya, Tuan." Aku benar-benar takut.


Jackson menghela napas seraya membuang pandangannya dariku. Dia mengembuskan napas dengan kesal lalu kembali melihatku. "Aku yang akan menerbangkannya. Kau masih takut?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.


Apa?! Jadi Jackson bisa menerbangkan helikopter? Luar biasa!


"Sudah cepat masuk, Baby!" Dia menarikku kembali.


Jackson meletakkan barang-barang bawaan kami ke kursi belakang helikopter. Dia kemudian memintaku untuk duduk di kursi co-pilot. Jackson akan menerbangkan helikopternya sendiri pagi ini. Sungguh hatiku dag-dig-dug tak karuan karenanya.


Ya Tuhan, dosaku terlalu banyak. Jangan mati dulu.


Aku hanya bisa pasrah hari ini. Duduk di sampingnya dan menuruti semua instruksi darinya, mengenakan headset co-pilot. Kata Jackson harus memakainya agar bisa mengobrol saat terbang nanti. Karena keadaan di udara akan berbeda dengan saat di darat. Suara akan terganggu karena kebisingan mesin. Jadi aku diminta untuk memakai headset helikopter ini. Jackson sendiri yang membantu memakaikannya.


Ternyata dia romantis ....

__ADS_1


Hatiku cenat-cenut saat dia memakaikannya, serasa begitu memanjakanku. Kulihat dia sudah bersiap untuk menerbangkan helikopter ini. Menarik pedal kendali lalu tak lama baling-baling helikopter pun berputar. Bersamaan dengan rasa was-was yang menyelimuti hati dan pikiranku.


Lantas aku banyak-banyak berdoa agar selamat sampai tujuan. Bukan karena tidak percaya Jackson bisa menerbangkan helikopternya, tetapi memang karena akunya yang phobia ketinggian.


__ADS_2