
Sungguh jika aku belum terikat dengan Jackson, pastilah aku mau dengannya. Sayangnya si pria berwajah muram itu telah memilikiku. Aku jadi tidak berdaya untuk menjauh.
"Menungguku? Sedari tadi?" Aku pura-pura bersimpatik.
Alexander tersenyum lagi. "Aku pergi sebentar lalu kembali untuk menunggumu, Cecilia. Bolehkah aku mengantarmu?" tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak sambil melihatnya. "Em, Tuan. Aku bawa mobil sendiri. Anda tidak perlu repot-repot mengantarku." Aku beralasan saja lalu segera melangkah pergi.
"Cecilia." Alexander menahanku. Dia ternyata memegang tanganku.
Dia ...?!
Aku pun melihat tangannya yang menahan tanganku. Lantas aku berbalik, kembali berdiri berhadapan dengannya di dekat parkiran gedung. Karyawan Angkasa Grup yang belum pulang pastinya dapat melihat kami di sini. Dan karena hal itu aku mencoba untuk melepaskan tangannya dariku.
"Tuan, maaf."
Kutepiskan tangannya. Seketika itu juga kulihat dirinya yang menelan ludah seraya menatapku. Mungkin dia merasa kutolak mentah-mentah. Raut wajahnya begitu sendu terlihat.
"Cecilia, tidak bisakah membuka hatimu untukku?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Tuan?!" Sungguh aku terkejut bukan main dengan pertanyaannya.
"Aku sudah mengajakmu berkali-kali, menunggumu berhari-hari. Tapi mengapa tidak bisa memberi cela sedikitpun untukku?" tanyanya lagi.
Aku tidak tahu mengapa Alexander seberani ini. Dia menyatakan perasaan yang membuatku kaget. Entah benar, entah tidak. Aku tidak dapat memastikan kesungguhan kata-katanya itu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak boleh dekat-dekat dengannya. Jackson sudah memperingatkanku sebelumnya. Dan saat ini hanya Jackson yang bisa kupercaya.
Segera kumundurkan langkah kaki ke belakang untuk menjaga jarak darinya. "Maaf, Tuan. Aku sudah ada yang punya. Aku ingin menjaga hatinya." Entah mengapa malah kata itu yang terucap dari mulutku.
"Apakah pria yang kau maksud itu bosmu?" tanyanya seperti ingin tahu lebih jauh tentang hubunganku dengan Jackson.
Aku merasa tersudut dengan pertanyaannya. Kupalingkan saja pandanganku. Kami akhirnya berdiaman ditemani semilir angin sore ini. Sampai akhirnya...
"Ah, maaf. Sepertinya aku sudah terbawa perasaan." Dia mengusap wajahnya, seperti baru tersadar dengan kata-katanya sendiri.
Astaga, dia ini sedang berakting atau sungguhan, sih? Kenapa aku jadi ikut terbawa perasaan juga, ya?
Aku tidak tahu hal apa yang terjadi padanya. Kulihat Alexander seperti orang frustrasi. Namun, aku mencoba memahami hal itu. Mungkin dia kesal karena ajakannya selalu kutolak berkali-kali, sedang dia merasa mempunyai martabat yang tinggi.
__ADS_1
Maaf, Tuan. Aku tidak bisa.
Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar, menyadarkanku yang sedang terdiam di sini. Kulihat mobil hitam memasuki area parkiran gedung Angkasa Grup. Mobil itu kemudian berhenti di samping Alexander. Tak jauh, mungkin ada sekitar dua atau tiga meter.
Astaga ... Jackson?!!
Alangkah terkejutnya aku saat melihat kaca mobil diturunkan. Ternyata di dalam mobil itu ada Jackson. Dia mengendarai mobilnya sendiri. Sontak jantungku berpacu cepat seperti mau copot. Aku ketahuan lagi.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Aku pikir dia tidak akan datang. Namun ternyata, dia memberikan kejutan padaku. Jackson menatap kami yang sedang berdiri di sini. Tatapan matanya menyiratkan kekesalan yang berapi-api.
Alexander menoleh, melihat ke arah yang kutuju. Dia pun melihat jika Jackson lah yang datang. Seketika itu juga rasa takut mulai menghantui hatiku.
Aduh, gawat!
Jackson kemudian turun dari mobilnya. Dia merapikan jas lalu segera melangkahkan kaki ke arah kami. Setiap langkahnya seolah menggetarkan bumi ini. Dia kemudian berdiri tegap di hadapan Alexander sambil memasang wajah tak sukanya. Keduanya berhadapan di hadapanku. Aku pun tidak tahu hal apa yang harus kulakukan saat ini.
"Tuan?"
Ya Tuhan, kenapa harus terjadi lagi?
Hatiku deg-degan bukan main. Aku takut terjadi perkelahian di sini. Anehnya, Alexander juga seperti mengetahui keberadaanku. Aku jadi curiga, heran dan penasaran. Benarkah dia menyukaiku atau ada alasan lain di balik semua ini? Aku amat penasaran dibuatnya.
"Tuan Alexander, sepertinya Anda belum mengerti akan sikapku." Jackson membuka percakapan dengan Alexander.
Hatiku semakin tidak karuan. Di hadapanku tengah berdiri dua orang pria yang sama-sama tampan dan juga berkharisma. Tapi sayangnya, aku lebih mencemaskan Alexander ketimbang Jackson. Aku khawatir Jackson bertindak tegas kepada Alexander. Denganku saja Jackson begitu tega, apalagi dengan Alexander. Mau jadi apa dia?
"Tuan Jackson, sudah lama tidak mampir. Apakah sudah menemukan yang pas?" Alexander bergantian bicara.
Apa?! Apa maksudnya?
Aku terkejut. Entah apa yang dimaksud oleh Alexander sampai-sampai dia berani berkata seperti itu kepada Jackson. Kulihat Jackson juga mengepalkan kedua tangannya. Dia seperti amat kesal. Segera saja aku mengambil inisiatif dengan mengajaknya pergi.
"Tuan, hari ini ada dokumen yang harus dibicarakan. Kita bicarakan di kantor, ya." Aku memegang tangan Jackson.
Jackson melihatku sesaat. Di saat itu juga kutelan ludahku sendiri. Aku takut melihat sorot matanya yang tajam. Dia bak raja hutan yang tidak terima wilayah kekuasaannya dimasuki hewan lain.
__ADS_1
Jackson beralih kepada Alexander. "Kuperingatkan padamu, jangan dekati Cecilia." Satu kalimat Jackson ucapkan, membuat jantungku ingin lari dari tempatnya.
Aduh, jangan bertengkar. Tolong ....
Alexander tersenyum tipis pada Jackson. "Anda terlalu menghaki Cecilia, Tuan. Dia bukan istrimu." Alexander membalas perkataan Jackson.
Astaga! Astaga!
Sungguh rasanya aku ingin lari saja. Aku tidak kuat berada di situasi seperti ini. Lebih baik aku melayani Jackson di atas ranjang, daripada harus berhadapan dengan situasi seperti ini.
Suasana di sekitarku terasa semakin mencekam. Aku takut terjadi sesuatu kepada salah satunya. Takut sekali.
"Hh." Jackson mengembuskan napasnya. Tersirat kekesalan dari dalam hatinya. Namun, sebisa mungkin ditahan olehnya. "Anda tidak berhak berkata seperti itu kepadaku, Tuan Alexander. Cecilia juga bukan modelmu." Jackson membalas perkataan Alexander dengan tenang.
Semakin lama, suasana semakin tidak enak. Otakku berpikir cepat untuk menyudahi semua ini. Namun, entah mengapa aku seperti tidak bisa berpikir.
Kutinggalkan saja keduanya, seolah tidak peduli. Aku pergi menuju gerbang seorang diri. Lebih baik aku pulang saja daripada diabaikan. Biarlah mereka asik berkelahi, aku tidak mau ambil pusing lagi.
Entah apa yang mereka bicarakan, saat beberapa meter berjalan, Jackson mengejarku. Dia meninggalkan Alexander. Aku pun tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Jantungku ini sudah was-was, tak terkendali lagi.
"Cecilia!" Jackson menahanku.
Aku pun berbalik, menghadapnya. "Aku mau pulang," kataku.
"Masuk ke mobilku, sekarang!" Jackson menarik tanganku agar ikut dengannya.
Aku pun menurut. Masuk ke dalam mobilnya tanpa menoleh ke arah Alexander yang masih memperhatikan kami. Aku tidak ingin suasana semakin runyam, tak terkendali. Aku ingin semuanya baik-baik saja dan terjaga. Aku lelah jika harus bertengkar lagi.
"Kita pulang."
Jackson menaikkan kaca mobilnya lalu berlalu pergi dari halaman parkir Angkasa Grup. Sedang aku diam saja sedari tadi. Hatiku sudah deg-degan karenanya. Aku pun sengaja diam agar Jackson tidak marah padaku. Jadi ya sudah, kuikuti saja alur ceritanya.
.........
...Jackson...
__ADS_1