
"Yang memintamu untuk hadir Jackson sendiri, kan?" Angela memegang pundakku.
Aku mengangguk.
Kulihat Angela tersenyum. Sepertinya dia mengetahui sesuatu namun tidak ingin memberitahukannya padaku. Mungkin berkaitan dengan Jackson. Entah mengapa aku jadi curiga pada mereka. Jangan-jangan mereka bekerja sama di belakangku.
Ini sedikit aneh. Angela seperti menutupi sesuatu dariku.
Pastinya Jackson mengetahui siapa yang dimaksud Angela, teman terdekatku. Dia kan punya banyak mata-mata dan tersebar di mana-mana.
"Angela, mengapa tersenyum? Apa Jackson berkata sesuatu padamu?" tanyaku, memancingnya.
Angela tertawa. Dia beranjak dari duduk lalu menuju meja kerja yang tidak jauh dari meja tamu ini. Dia kemudian mengetik-ngetik sesuatu di laptopnya.
"Aku tidak habis pikir seorang Cecilia bisa jatuh cinta pada target sasarannya. Tapi aku lebih tidak habis pikir jika seorang Jackson jatuh cinta," katanya yang memunculkan seribu tanda tanya di hatiku.
"Maksudmu?" Aku beranjak berdiri lalu mendekatinya.
Angela tersenyum seraya melihatku yang berdiri di sisinya. "Kau tahu, Cecilia. Jackson tidak pernah tertarik dengan wanita. Bahkan berciuman dengan Zea saat pesta pernikahan pun itu amat terpaksa." Angela mengatakannya padaku.
"Hah?!!" Aku jadi semakin bingung.
"Sudah-sudah. Sabar saja menghadapi sikapnya. Dia memang seperti itu." Angela kembali fokus mengetik sesuatu di laptopnya.
"Tunggu, Angela. Darimana kau mengetahui hal ini?" Aku begitu penasaran padanya.
"Hahahaha." Angela tertawa, entah apa yang ada di pikirannya.
"Angela?" Aku jadi bertambah bingung, dari mana Angela bisa mengetahui hal tersebut.
"Kau harus mencari tahu sendiri latar belakang keluarga Jackson. Nanti kau akan mengerti." Angela mengusap perutku.
Eh?! Eh?! Kok jadi begini?!
Sungguh aku merasa heran dengan hal yang terjadi. Angela seperti menutupi sesuatu tentang Jackson dariku. Dia memintaku untuk mencari tahu sendiri. Padahal aku sudah penasaran dibuatnya. Ditambah lagi dia mengusap perutku. Seolah-olah tahu jika Jackson menanam benih di sini. Sedang aku belum menceritakan apapun.
"Ada banyak teka-teki di keluarga Liandra. Tapi menurut kabar yang kudengar, Zea bukanlah anak kandung dari Peter." Angela mengungkapkan.
__ADS_1
"Apa?!!" Aku terkejut bukan main mendengarnya.
"Aku tidak bisa memberi tahu lebih jelas tentang Peter. Karena sepertinya semua hal yang berkaitan dengan keluarga Liandra ditutup rapat." Angela ternyata diam-diam mencari tahu tentang keluarga Liandra untukku. "Pesanku, jangan gegabah di sana, Cecilia. Santai saja, setahap demi setahap. Karena mereka bukanlah keluarga sembarangan." Angela berpesan seraya beranjak dari duduknya.
Aku mendengarkan dengan saksama.
"Pola pikir seorang pebisnis tidaklah pendek. Dia akan memikirkan masak-masak setiap langkah yang diambilnya. Tapi kurasa setiap pria sama jika sudah jatuh cinta. Yang aku khawatirkan malah bukan karena harta keluarga Liandra hancur." Angela mengungkapkan isi pikirannya.
"Lalu karena apa?" tanyaku memastikan.
"Karena wanita," jawabnya segera.
Sejenak aku mencoba memahami apa maksud dari perkataan Angela. Sepertinya telah terjadi sesuatu di keluarga Liandra yang berkaitan dengan wanita. Tapi entah apa itu, aku belum bisa tahu pasti. Mungkin jika nanti sudah ke sana, sedikit demi sedikit dapat mengetahui hal yang sesungguhnya terjadi.
"Gunakan make up yang sedikit tebal dan gaun polos saja. Jika kau mau, bisa mengenakan gaun milikku. Aku punya gaun berwarna biru yang belum pernah kupakai sama sekali." Angela ingin membantuku tampil di depan keluarga Liandra.
"Boleh, kalau begitu aku beli saja punyamu." Aku ingin membeli gaun milik Angela.
"Tidak perlu, Cantik. Jackson sudah membayarnya," katanya yang membuat dugaanku semakin benar.
Aku menduga jika Jackson dan Angela sudah bertemu sebelumnya. Dilihat dari gelagat Angela, sepertinya Jackson banyak mencari tahu tentangku darinya. Entah benar atau tidak, Angela juga seperti tidak ingin mengatakannya. Pikiranku langsung tertuju jika ada kerja sama di antara mereka.
Si pria mesum itu ternyata bergerak lebih cepat dari perkiraanku.
Mungkin lain kali aku harus bersikap lebih berhati-hati terhadap apa yang kuucapkan kepada Jackson. Karena pria itu pasti segera mencari tahu kebenarannya. Dia memang tidak mudah percaya begitu saja. Terbukti dengan semua kebohonganku cepat terbongkar di hadapannya. Dia memang luar biasa.
Lebih baik kupersiapkan diri sebelum datang ke pertemuan keluarga Liandra. Semoga saja ada sesuatu yang bisa kuketahui tanpa membahayakan sedikitpun. Aku benar-benar kepo dengan keluarga itu. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan Jackson Baldev, si pria dingin yang ternyata mesum sekali.
Sore harinya...
Saat-saat yang ditunggu akhirnya datang juga. Kini sudah pukul empat sore waktu ibu kota dan sekitarnya. Itu pertanda bagiku untuk segera melaju ke tempat pertemuan keluarga Liandra. Tak lama lagi akan kuketahui sesuatu hal yang selama ini membuat hatiku bertanya-tanya. Bagaimana hubungan Zea dan Jackson yang sebenarnya? Dan bagaimana hubungan bisnis antara ayah Zea dan Jackson? Secepatnya aku mendapatkan jawabannya.
"Baiklah, sudah cantik."
Kuambil tas kecil bertali rantai yang berwarna sama dengan gaunku. Sore ini kukenakan gaun berwarna biru gelap yang polos dan setinggi lutut. Gaun ini katanya sudah dibeli oleh Jackson dari Angela. Entah bercanda atau tidak, tapi sepertinya Angela amat setuju jika aku dengan Jackson. Dia berada di pihak si muram wajah, Jackson Baldev.
Hidupkan GPS.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam mobil lalu segera melajukannya ke tempat yang dituju, mengikuti arahan GPS. Sebisa mungkin kutenangkan diri sebelum mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Aku nekat datang karena ingin mencari tahu kebenaran yang pasti. Semoga saja sesampainya di sana, aku bisa menentukan arah hidupku bersama Jackson. Lanjut atau berhenti sampai di sini.
Empat puluh menit kemudian...
Kini aku berada di selatan kota. Di sebuah kawasan hunian elit dan terkemuka. Aku sedikit ragu untuk masuk ke sana karena dijaga ketat oleh banyak penjaga. Sepertinya perumahan elit ini menggaji besar setiap penjaga yang bekerja. Para penjaga terlihat begitu berdedikasi dalam menjalankan tugasnya.
Aku telepon Jackson dulu.
Karena khawatir tidak diperbolehkan masuk, aku memutuskan untuk menelepon Jackson terlebih dulu. Tak lama kemudian, teleponku diangkat olehnya.
"Cecilia." Dia menyebut namaku.
"Tuan, aku sudah di depan pintu masuk perumahan keluarga Liandra." Aku memberi tahunya.
"Lalu?" Entah ada di mana dirinya sekarang, sepertinya dia sedang sibuk.
"Banyak satpam yang berjaga, aku khawatir tidak diperbolehkan masuk," kataku lagi.
"Kau mengenakan gaun berwarna biru?" tanyanya seperti ingin memastikan.
"Benar, Tuan," jawabku segera.
"Masuk saja. Ada orangku di sana. Nanti aku menyusul," katanya yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Em, baiklah." Aku pun segera mematikan teleponnya.
Rasa canggung sehabis semalam ngambek padanya masih terasa sampai sekarang. Kadang aku kesal karena ngambek dibiarkan begitu saja olehnya. Tapi mau bagaimana lagi, cetakan Jackson memang seperti itu. Jadi aku harus sabar-sabar menghadapinya.
"Baiklah, kita masuk ke sana."
Kulajukan mobil, masuk ke perumahan elit nan terkemuka yang ada di depanku. Sesampainya di pos depan, kulihat ada seorang penjaga yang sedang menerima telepon. Dia kemudian mengizinkanku masuk. Sepertinya telepon itu memang dari Jackson. Alhasil, aku semakin dekat dengan rumah yang dituju. Rumah bercat putih bak istana mewah.
Pintu gerbang dibuka, aku dipersilakan masuk oleh seorang pria berjas hitam. Dia memberiku pelayanan khusus. Aku diarahkannya untuk memarkirkan mobil, lalu diantarkan masuk ke dalam rumah keluarga besar. Mungkin dia adalah salah satu orang dari Jackson, si pria menyebalkan yang seperti kulkas hot and cool. Kadang panas menggelora, kadang dingin membekukan. Ya, maklumi saja. Namanya juga Jackson Baldev.
Saatnya beraksi, Cecilia.
Kini tiba waktunya untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sini. Aku melangkahkan kaki dengan begitu elegan, masuk ke rumah ini. Gaun dan sepatu berwarna biru membuat penampilanku lebih percaya diri. Ditambah dandanan yang sedikit tebal dan parfum yang kusemprotkan ke sekujur badan, aku siap beraksi kembali.
__ADS_1