Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Terkejut


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Aku berjalan masuk dan tiba di ruang tengah rumah super megah ini. Lantainya berkeramik putih dengan desain bak istana Eropa yang modern. Sungguh rumah yang kukunjungi tidak layak disebut sebagai rumah, melainkan istana megah yang setiap ruangannya begitu luas dan juga mewah.


Terdapat banyak perabotan mahal, guci-guci dan pot-pot bunga menghiasi setiap sudut ruangannya. Lampu-lampu kristal cantik juga tergantung di setiap plafon ruangan, benar-benar seperti istana.


"Nona Cecilia?"


Seorang wanita bergaun dusty pink menyambut kedatanganku. Dia masih tampak muda dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Sepertinya aku pernah melihat sebelumnya, tapi entah di mana. Aku jadi susah mengingat kejadian lampau karena Jackson selalu saja memenuhi pikiranku. Dia benar-benar serakah. Setelah tubuhku, hati dan pikiranku juga ikut dikuasai olehnya.


"Em ...?" Aku sedikit bingung untuk memulai pembicaraan.


"Namaku Jenny, Nona Cecilia," katanya yang membuatku teringat dengan kejadian penguntitan Jackson waktu itu.


Jenny? Berarti dia adalah wanita yang diberikan Jackson kepada Peter, ayah dari Zea?


"Selamat sore, Nyonya." Akhirnya aku memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan nyonya.


Jenny tertawa. Kutahu jika dia terlalu muda untuk dipanggil nyonya. Namun, jika dilihat dari statusnya, Jenny adalah nyonya besar di rumah ini. Atau mungkin ada nyonya lain? Aku belum tahu.


"Nona Cecilia, Anda ternyata jenaka sekali. Aku belumlah terlalu tua. Mari." Dia mengajak ku menuju suatu tempat.


Aku mengangguk, mengikutinya. Kami berjalan bersama melewati ruang utama yang megah. Sepertinya Jenny sedang menutupi jati dirinya. Aku masih ingat bagaimana roman ketakutannya saat Jackson mengetuk meja ruangan sekali. Dia amat takut karena tidak bisa mengandung anak Peter. Tapi di hadapanku dia begitu bersahaja, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mohon maaf, Nyonya. Aku tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa," kataku seraya berjalan bersamanya.


Jenny tersenyum. Dia mengarahkanku menuju halaman belakang rumah ini. "Panggil saja aku Jenny. Sebutan nyonya tidak pantas diberikan untukku yang baru dua tahun di rumah ini." Dia seperti sedang menjelaskan status dirinya.


"Oh, baiklah." Aku pun mengiyakan seraya tersenyum.


"Aku diminta Jackson untuk menemanimu sebentar. Acaranya di halaman depan. Mungkin tak lama lagi akan ramai," katanya.


Halaman depan? Pantas saja kulihat tadi ada yang berjaga khusus di sana.


"Perjamuan dimulai pada pukul enam sore. Kami hanya mengundang kerabat terdekat saja. Aku juga baru dua kali ikut hadir di acara ini." Dia menceritakan.


Aku mengangguk, mendengarkan perkataannya dengan saksama.


"Jangan gugup, Nona Cecilia. Acaranya tidak seformal kedengarannya." Jenny tersenyum, dia memintaku untuk bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Tanpa kusadari aku menyebutnya dengan sebutan nyonya lagi.


Jenny tersenyum seraya menahan tawanya. Sepertinya dia memang wanita yang murah senyum. Tapi aku yakin jika ada hal yang disembunyikan dibalik senyumannya itu.


Tak lama akhirnya kami pun sampai di halaman belakang rumah ini. Ternyata di sini ada kolam renang yang cukup besar. Di sekeliling kolam juga sudah tersusun kursi-kursi dan meja untuk tamu yang datang. Sedang di salah satu sudut kolamnya ada panggung kecil yang disediakan untuk berkaraoke. Ternyata halaman belakang rumah ini begitu luas. Sampai-sampai aku bingung membedakan mana lapangan futsal dan halaman rumah orang.


Astaga, Cecilia. Jackson ternyata berpengaruh buruk bagi pikiranmu.


Aku masih sempat-sempatnya kepikiran pria mesum itu padahal sedang menjalankan aksiku. Dasar memang tak tahan rindu, inginnya selalu bertemu sampai tidak kenal waktu.


Sepuluh menit kemudian...


Aku diminta Jenny untuk menunggu sebentar di halaman belakang. Tapi karena mendengar banyak suara mobil yang datang, aku memutuskan pergi ke toilet untuk merapikan dandananku. Kupoles lagi lipstik merah nan menggoda dan menyapukan beberapa blash on ke wajah. Aku harus tampil seanggun mungkin di hadapan keluarga besar Liandra.


Jenny sendiri belum banyak menceritakan padaku tentang keluarga ini. Pembicaraan kami terjeda sejenak karena pelayan menghampiri dan mengatakan jika Peter memanggilnya. Aku pun belum tahu yang mana Peter. Sepertinya dia baru akan keluar saat perjamuan nanti.


"Sudah jam lima lewat."


Kini sudah jam lima sore lebih lima belas menit. Aku pun segera menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh agar lebih percaya diri. Sepertinya penampilanku hari ini amat menarik dengan gaun biru yang bagian bahunya terbuka. Rambut juga kubiarkan tergerai untuk menutupi bahu indahku. Kubilang indah karena si mesum itu selalu betah menciumi bahu ini. Dia bahkan enggan menjauh saat bibirnya sudah mendarat di bahuku. Betah, betah dan tidak mau lepas.


Dia kok belum datang, ya?


"Eh, ada Andreas?"


Tanpa sengaja aku melihat Andreas datang. Dia berjalan melewati toilet rumah ini. Lantas aku segera keluar lalu mengendap-endap mengikutinya. Sepertinya dia tidak tahu jika aku ada di sini.


Dia mau ke mana, ya?


Semakin mengikuti Andreas melangkah, jantungku semakin berdebar tak karuan. Dan benar saja, saat berada di belokan ruangan aku melihat Andreas menemui Zea. Zea kemudian mengajak Andreas ke halaman belakang rumah yang sepi.


Mau ngapain mereka?


Terdengar banyak suara mobil yang berdatangan ke halaman depan. Tidak tahu siapa saja yang datang, aku juga belum melihat Jackson sampai sekarang. Saat ini di pikiranku hanya ingin mengetahui apa yang dibicarakan Zea dan Andreas. Lalu akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di balik pintu halaman belakang, melihat Andreas dan Zea yang tengah berbicara di salah satu sudut teras.


"Kenapa kau kemari?" Zea bertanya seperti itu kepada Andreas.


"Aku diundang Jackson ke sini," jawab Andreas segera.


"Apa?!" Zea seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Jika aku tidak datang, itu malah akan membuatnya curiga. Maka itu aku datang." Andreas menerangkan.


Zea terlihat panik. "Astaga, dia sepertinya ingin melucutiku malam ini." Zea memegang kepalanya sendiri, dia tampak pusing.


"Sayang, Jackson tidak tahu hubungan kita. Kau tenang saja." Andreas berkata seperti itu kepada Zea.


Sayang? What the hell?!! Berani sekali Andreas menyebut Zea dengan kata sayang di rumah keluarga besarnya. Dia benar-benar gila.


Aku terus menguping pembicaraan mereka dari balik pintu halaman belakang rumah. Acara kebetulan akan diadakan di halaman depan, jadi halaman belakang sedikit terabaikan. Kemungkinan aku tidak akan ketahuan jika sedang menguping mereka di sini.


"Sembunyikan hubungan kita di depan Peter. Terserah bagaimana caramu, aku tidak ingin hubungan ini sampai diketahui olehnya. Kau mengerti?" Zea berkata tegas kepada Andreas.


"Ya, aku mengerti. Kau tenang saja." Andreas menyanggupi keinginan Zea.


Oh ... jadi Zea ingin menyembunyikan hubungan mereka dari Peter? Jangan-jangan benar apa kata Angela jika Zea bukan anak kandung dari Peter. Aku jadi semakin penasaran dengan hal yang terjadi di sini.


Pelan-pelan aku mendapatkan informasi, menguatkan perkataan Angela jika Zea bukanlah anak kandung dari Peter. Jadi siapa sebenarnya Peter? Lalu kenapa Jackson menikahi Zea? Benar-benar membingungkan.


"Cecilia."


Tiba-tiba saja ada yang menyebut namaku. Seketika aku terkejut saat merasakan seseorang menyentuh pundakku ini. Suaranya seperti aku kenal, membuat degup jantungku berdetak kencang. Lantas pelan-pelan aku mencoba membalikkan badan untuk melihat siapa yang memergokiku, menguping pembicaraan Zea dan Andreas. Dan ternyata...


"Tu-tuan?!!" Aku terkejut melihatnya ada di sini.


"Cecilia, apa yang sedang kau lakukan?" Dia juga melihat ke arah Andreas dan Zea yang tengah berbicara.


Gawat! Ini gawat!


Aku menelan ludah karena tertangkap basah sedang menguping pembicaraan anak dari pemilik rumah mewah ini. Jantungku berdegup kencang, aliran darahku berpacu cepat karena merasa riwayatku akan berakhir. Pria di hadapanku ini memasang wajah heran sekaligus curiga kepadaku. Sungguh aku takut bukan main.


.........


...Cecilia...



...Jenny...


__ADS_1


__ADS_2