
"Em, tidak. Jackson tidak mengatakan apapun padaku." Aku menutupi.
Alexander menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangannya. "Aku berharap seperti itu. Tapi kalau boleh jujur, aku ... tidak ingin kau menjauh." Dia amat berharap.
Aku terdiam. Sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang kebenaran yang Jackson katakan padaku. Tapi aku takut Alexander membahayakan. Terlebih Angela belum datang kembali. Jadi aku belum berani untuk mengambil tindakan.
Sebenarnya siapa yang benar?
Sungguh aku pusing. Yang kulihat Alexander memang bersikap tulus padaku. Tidak dibuat-buat atau sengaja rekayasa. Tapi jika ingat ucapan Jackson, aku harus lebih berhati-hati. Dan mungkin ada baiknya jika diam sementara sambil menunggu instruksi selanjutnya.
Saat ini Jackson sedang melawan dua orang, Zea dan Hadden. Sedang Alexander sendiri sepertinya berpihak kepada Hadden. Entah benar atau tidak, tapi rasanya aku harus tetap berantisipasi.
Dua puluh menit kemudian...
Aku baru saja sampai di depan pintu ruangan rawat inapku. Sepanjang perjalanan kembali, aku hanya diam. Alexander juga ikut diam. Mungkin dia mulai merasa jenuh karena aku selalu menjaga jarak darinya. Dan saat membuka pintu, kulihat Angela sudah datang. Dia pun menyambut kedatanganku.
"Cecilia!"
"Angela!"
Aku pun senang melihatnya datang. Rasanya aku tidak sendiri lagi. Sedang Alexander membantu mendorong kursi rodaku sampai masuk ke dalam ruangan.
"Maaf merepotkan, Tuan Alexander." Angela menyapa pria di belakangku.
"Tidak apa. Aku malah senang jika dibutuhkan. Jangan sungkan," balasnya, tidak menyiratkan rasa sungkan sama sekali.
Aku merasa senang jika mereka sudah akrab, tapi aku juga merasa ada yang aneh. Entah mengapa aku merasa Angela dan Alexander seperti sudah kenal sebelumnya. Atau mungkin banyak yang mereka bicarakan semalam saat aku tidak sadarkan diri. Dan sepertinya aku harus mengorek informasi dari Angela tentang pria di dekatku ini.
"Pagi ini biarkan aku yang menjaga Cecilia, Tuan. Jika Anda ingin kembali lagi, mungkin bisa selepas makan siang." Angela memberi tahu akan bergantian menjagaku.
"Ah, ya. Terima kasih. Kalau begitu aku ke kantor dulu. Sebelum jam makan siang aku akan kembali." Dia menawarkan diri untuk menjagaku lagi.
"Em ...," Angela melihat ke arahku. "Nanti akan kuhubungi. Terima kasih." Angela pun terkesan ingin mengakhiri pertemuan ini.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi, Nona Angela, Cecilia." Dia lalu berpamitan kepada kami.
Aku mengangguk. Alexander pun segera pergi dari hadapan kami. Angela juga ikut mengantarkannya sampai ke depan pintu. Sedang aku menunggu di dalam ruangan. Kutahu jika Angela melakukannya sebagai rasa terima kasih karena Alexander sudah mau menjagaku. Dan kini saatnya bagiku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pukul delapan lewat delapan pagi...
Aku sedang duduk di kasur pembaringanku, sedang Angela duduk di kursi yang ada di sampingku. Dia datang dengan membawa banyak buah-buahan. Aku pun mulai mencicipinya satu per satu.
"Rasanya yang ini sedikit aneh, Angela," kataku saat mencicipi buah kecil yang kulitnya berwarna cokelat.
"Itu namanya kelengkeng, Cecilia." Angela menjelaskan.
Wanita berblus putih di sampingku ini juga membantu mengupaskan buah apel untukku. Walau tidak terlalu suka, aku mencicipinya beberapa iris. Tapi jujur saja aku memang lebih suka buah dibandingkan sayuran yang hanya beberapa. Karena lebih praktis dan bisa dibawa ke mana saja.
"Cecilia."
"Hm?"
"Saat di kantor?" tanyaku.
"Iya, benar. Kenapa kau tidak bertahan saat Zea mendorongmu?" tanyanya sambil mengupas buah apel.
Aku terdiam sejenak. "Waktu itu pikiranku dilanda kecemasan yang akut. Aku merasa serba salah. Jika aku melawan, pastinya hidupku akan bertambah runyam. Jadinya aku berusaha menghindarinya saja. Tapi tidak tahu jika jadinya akan seperti ini." Kuutarakan isi pikiranku waktu itu.
Angela mengangguk. Dia sepertinya mengerti keadaanku.
"Angela."
"Ya?"
"Kau mengenal Alexander sebelumnya?" tanyaku ingin tahu.
Dia meletakkan pisau kupas ke atas meja di samping kasurku. "Ah, tidak. Kami baru bertemu semalam. Kebetulan dia datang sekitar pukul sembilan," katanya.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kami berbincang sebentar tentangmu." Dia menjelaskan.
"Tentangku?"
"Ya. Dia bilang teman dekatmu. Kami mengobrol ringan dan dia menceritakan jika pernah mengajakmu ke rumahnya. Mungkin dia menceritakan hal itu agar aku tidak khawatir jika dia yang bergantian menjagamu di sini," lanjut Angela.
Aku terdiam sejenak. "Dia menyukaiku, Angela. Tapi kata Jackson, Hadden yang menyuruhnya untuk mendekatiku." Aku menunduk sedih.
Angela menghela napasnya. "Ya. Dia juga bilang jika menyukaimu, tapi dia merasa kau ragu padanya." Angela menuturkan.
"Apa? Dia sampai bilang begitu?!" Aku tak percaya jika Alexander secara terang-terangan mengatakan menyukaiku.
"Ya. Aku bilang aku ini kakakmu. Mungkin karena hal itu dia berkata seperti itu," lanjutnya sambil ikut memakan irisan buah apel.
Sejenak aku terdiam dalam sepi. Aku merasa bersalah kepada pria berambut pirang itu. Tak tahu mengapa, aku ingin memutar waktu kembali. Rasanya lebih baik aku tidak mengenalnya sama sekali.
"Cecilia." Angela memegang tanganku. "Terkadang kita tidak tahu apa maksud dari musibah yang menimpa. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan siapa yang terbaik untuk kita pilih ke depannya. Bisa saja dengan kejadian ini Tuhan ingin membuatmu melupakan Jackson dan memilih Alexander sebagai teman hidupmu. Bisa juga Tuhan ingin memperlihatkan bagaimana perasaan Jackson yang sesungguhnya, setelah mengetahui dirimu mengalami keguguran. Sungguh, kita hanya manusia yang terbatas dalam menerka." Angela mengutarakan isi pikirannya.
Aku mengangguk. "Aku rasa begitu." Aku menyetujuinya walau di dalam hati masih tak percaya jika hal ini terjadi padaku.
"Terkadang seorang penulis bisa menulis ceritanya hingga akhir. Tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Saat ini yang perlu kau lakukan adalah terus berdoa dan jangan pernah putus asa. Bukankah Tuhan Maha Penyayang? Semoga ada hikmah dari balik kejadian ini." Angela berharap sekaligus mendoakanku.
Aku menoleh ke arahnya. "Terima kasih, Angela. Sungguh aku ingin melihat bagaimana rupanya. Tapi dokter sampai sekarang belum memberi tahu bagaimana rupa janinku." Tiba-tiba aku merasa sesak sekali.
Angela memelukku. "Dia masih berupa gumpalan darah, Cecilia. Bersabarlah. Nanti aku yang akan membantu mengadakan upacara pemakamannya. Bagaimanapun dia harus tetap dihargai walaupun tidak menjadi bayi. Dia sudah hidup di dalam rahimmu selama satu bulan lamanya. Semoga saja di kehidupan nanti kau bisa bertemu dengannya." Angela mengusap-usap punggungku, menguatkan.
Saat ucapan Angela berakhir, saat itu juga tak bisa kutahan lagi sesak di dada ini. Air mataku jatuh, mengalir membasahi pipi. Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya di dalam perutku. Sungguh dia tidaklah bersalah, tapi kenapa harus pergi secepat ini? Aku merasa berutang nyawa padanya.
Sayang, tenanglah di sana. Semoga di kehidupan lain kita bisa bertemu lagi.
Kubiarkan rasa sesak memenuhi rongga dadaku hingga akhirnya air mata itu terus tumpah dari lumbungnya. Aku pun menangis terisak di depan Angela. Tak peduli terhadap keadaan sekitar karena sudah tidak dapat menahan kesedihan lagi. Angela pun dengan sabar menenangkanku. Untung saja aku masih mempunyai dirinya. Jika tidak, apalah arti hidup ini. Sudah tidak punya orang tua, sanak-saudara apalagi. Aku merasa selalu sendiri.
__ADS_1