Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Seperti Hantu


__ADS_3

Jackson mulai menggila. Dia menciumi leherku. Dia juga menggigit-gigit telingaku ini. Sontak tubuhku menggeliat di bawah tubuhnya. Merasakan sensasi yang membakar hasratku. Dadaku pun naik-turun dibuatnya.


"Kamu mau jadi apa, Cecilia?" tanyanya setelah selesai membuatku kegelian.


Tiba-tiba saja intonasi bicaranya menjadi serius, tidak lagi memburu. Namun, napasnya terasa panas sekali. Dan kini kedua matanya menatap tajam ke arahku, seolah bicara jika aku ini miliknya.


"Tuan, aku bertanya padamu. Mengapa bertanya balik?" Perlahan-lahan napasku pun mulai stabil.


Dia tersenyum padaku, entah senyuman apa. Tapi yang jelas aku ingin meminta kepastian darinya. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini. Karena wanita membutuhkan kepastian bukan janji.


"Maunya jadi apa?" Dia malah bertanya kembali.


Kutelan ludahku saat mendengarnya bertanya balik. Dia menatapku dengan tatapan yang berbeda, memperhatikan setiap apa yang ada di wajahku dengan jarak begitu dekat. Dadaku pun masih naik-turun karena ulahnya.


"Menurut Tuan Jackson, aku bisa jadi apa?”


Kami akhirnya saling melontarkan pertanyaan. Dia seperti ingin bermain tebak kata denganku. Aku pun semakin kesal jadinya. Aku tidak ingin bermain-main lagi. Jika dia bisa memberikan kepastian, mungkin aku tidak akan menghindar seperti ini.


"Tuan, aku tidak ingin jadi pelakor." Kutegaskan padanya agar dia mengerti maksudku.


"Apa ingin jadi nyonya Baldev?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.


Tiba-tiba saja dia menanyakan hal itu padaku, entah apa maksudnya. Aku merasa seperti mendapatkan angin segar. Tapi aku juga tidak ingin terjebak dalam permainannya. Aku khawatir ini hanya jebakannya saja.


"Pernikahan Tuan Jackson sangat kokoh, aku paham itu."


Tidak ada kata yang bisa kujawab selain kalimat itu. Aku tidak mungkin mengatakan iya untuk menjadi istrinya. Aku cukup tahu diri siapa aku di cerita ini.


“Bagus kalau begitu.” Dia mendekatkan wajahnya lalu menggigit telingaku. "Seorang wanita penipu jangan serakah. Sudah cukup sulit untuk mendapatkan salah satu di antara uang dan status di dunia ini.” Dia mengatakan sesuatu seperti sebilah pisau yang menusuk jantungku.


Aku diam, tidak bergerak sama sekali saat mendengar kata-katanya. Aku tidak tahu harus bicara apalagi. Kata-katanya itu seperti sebuah jawaban dari pertanyaanku. Jika Jackson memintaku untuk tahu diri dan tidak berharap lebih.


Tapi bagaimana dengan ini? Dia tidak memberiku status tapi ingin bermalam bersamaku. Apa dia pikir aku sudah gila yang mau menuruti semua keinginannya tanpa status yang jelas?


"Berapa uang yang diberikan Zea padamu?" tanyanya tiba-tiba, seperti mengetahui apa yang sedang kupikirkan.

__ADS_1


"Perjanjian awal satu milyar," jawabku seadanya.


"Baiklah, aku akan memberimu sepuluh kali lipat darinya." Dia mengatakan sambil tersenyum padaku.


"Mau ngapain?" tanyaku yang masih tidak bergerak di bawah tubuhnya.


Dia lalu mengusap tahi lalat merah di dadaku. "Menurutmu?" Dia bertanya balik padaku.


Jackson memang senang sekali mempermainkan perasaan orang. Rasanya aku ingin meninjunya saja.


"Tuan ...."


Dia lalu menurunkan dasterku hingga tahi lalat merah di dada ini terlihat jelas di kedua matanya. Dia lantas mengusapnya perlahan. Saat itu juga aku merasa seperti melayang di udara.


Jadi maksudnya adalah menjadikanku peliharaannya dengan uang sepuluh milyar?


Napasnya terasa memburu saat semakin menurunkan dasterku. Aku pun tidak bisa bergerak di bawah tubuhnya. Aku hanya berharap bisa melepaskan diri saat ini. Aku tidak mau kejadian malam itu terulang kembali.


Jackson adalah tipikal pria yang memiliki hasrat besar yang terpendam di dalam tubuhnya. Sehingga saat malam itu hasratnya tidak dapat dikendalikan. Dia berulang kali melepaskan hasrtanya, mungkin ada sekitar lima atau empat kali dalam semalam. Dia sungguh gila, membuatku lemas tak berdaya di bawah kendalinya.


Di saat bibirnya terus menyusuri dadaku, kudengar dering ponselnya dari jauh. Aku bisa mendengar jelas karena suasana di apartemen ini sangat sunyi. Jackson pun terbangun dari tubuhku dengan sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana. Dia lantas mengangkat teleponnya.


Ini kesempatan bagiku.


Kudengar Jackson menyebut nama Zea. Tidak salah lagi jika telepon itu adalah dari istrinya. Dia amat serius menerima telepon sehingga tidak memperhatikanku. Hal ini tentunya memberiku kesempatan untuk lari. Segera saja kuambil kunci mobilku lalu bergegas pergi darinya. Aku merayap-rayap di tembok agar gerakanku tidak diketahui olehnya. Dan saat sudah sampai di pintu, segera aku keluar lalu menutup pintu dengan cepat. Aku lari sekencang-kencangnya dari apartemenku sendiri.


Aku tidak boleh tertangkap olehnya malam ini. Aku harus menyelamatkan diri.


Laju napasku terengah-engah. Detak jantungku seperti memburu. Aku menuju lift apartemen dan sesampainya segera menekan tombolnya dengan cepat. Aku harus lari dari Jackson malam ini.


"Cepat! Cepat buka pintu liftnya!"


Terus kutekan tombol lift agar segera terbuka sambil sesekali melihat ke arah belakang. Aku takut Jackson mengejarku dan habislah aku malam ini di bawah kendalinya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali.


Pintu lift akhirnya terbuka. Segera aku masuk ke dalam lalu menuju lantai satu. Aku berniat bersembunyi di dalam mobilku sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di halaman parkir apartemen...


Kutahu Jackson tidak sempat menahanku tadi. Dan kulihat supirnya kini sudah tertidur di atas setir. Wajar saja supirnya sampai tertidur, majikannya terlalu lama di apartemenku. Aku pun mengendap-endap saat melewati mobilnya, agar tidak ketahuan. Aku segera menuju di mana mobilku diparkirkan.


"Astaga ... hampir saja."


Aku segera masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat setir. Kunormalkan laju napasku yang terengah-engah seperti dikejar hantu. Jackson seperti hantu bagiku. Dia seolah gentayangan di sekitaranku. Aku jadi serba salah menghadapinya.


"I-itu ...?!"


Tanpa sengaja kulihat pria paruh baya bermantel hitam dari kaca spion tengah. Dialah Hadden yang berjalan menuju pintu masuk apartemenku. Lantas segera kunyalakan lampu kedip yang langsung mengarah padanya, agar dia tahu jika aku ada di sini. Apalagi alasannya datang ke apartemen yang tak seberapa ini selain untuk mencariku.


Seketika Hadden menghentikan langkah kakinya dengan cepat. Dia lalu berjalan menuju ke arahku.


"Cecilia?!" Dia kaget saat melihatku ada di dalam mobil.


"Cepat masuk, Tuan," pintaku padanya.


"Nggak ngundang aku ke atas?" tanyanya memancing.


"Di atas sudah ada Jackson. Tidak muat jika diduduki tiga orang," jawabku cepat.


"Luar biasa. Jadi sudah tinggal serumah?" tanyanya lagi.


Belum sempat menjawab pertanyaannya, kulihat tirai jendela lantai enam bergerak. Aku pun segera menarik ikat pinggang Hadden agar dia masuk ke dalam mobilku. Aku panik, aku takut Jackson melihat kedatangannya. Namun, tak disangka aku malah kehilangan keseimbangan.


Aku ....


Hadden lantas mengulurkan tangannya untuk melindungi punggungku dari benturan. Tapi, saat itu juga kudengar suara patahan dari dekat. Hadden pun seketika terlihat membantu.


Astaga! Suara apa itu?!


Kulihat wajah Hadden memucat. Dan baru kuingat jika tadi meletakkan kaca mata hitam di tengah kursi. Lantas saja kulihat apa yang terjadi. Ternyata kaca mataku patah dan mengenai tulang pinggulnya. Aku pun segera memeriksa celananya karena panik. Namun, tanpa sengaja tanganku malah mengenai miliknya.


"Tu-tuan, maaf." Aku segera meminta maaf dan menarik tanganku kembali dari celananya.

__ADS_1


__ADS_2