
Beberapa jam kemudian...
Angela sedikit-banyak menceritakan tentang percakapannya bersama Alexander. Dia juga sudah mencoba untuk menghubungi Jackson. Tapi, sampai sekarang Jackson belum juga membalas pesan atau teleponnya. Sehingga dia merasa tidak bersalah jika meminta Alexander untuk menjagaku.
Angela bilang jika dia tidak selalu bisa berada di sini karena harus mengurus restorannya. Tapi jika sudah senggang, dia akan segera datang. Dan aku memakluminya. Bagaimanapun pekerjaan adalah mata pencaharian untuk bertahan hidup. Jadi aku tidak boleh egois untuk selalu memintanya menemaniku. Dia juga punya kehidupan yang harus terpenuhi kebutuhannya, sama sepertiku.
Kini aku sedang diperiksa oleh seorang perawat perempuan, sebelum makan siang diantarkan. Dan ya, Angela masih berada di sini untuk menemaniku. Tapi dia tidak bisa berlama-lama karena harus pergi ke restorannya. Di sini juga sudah ada Alexander yang kembali datang untuk menjagaku. Dia menepati janjinya kepada kami.
Dia gigih sekali walau aku sudah menolaknya berkali-kali.
Alexander datang bersamaan dengan perawat yang ingin mengecek kondisi kesehatanku. Pria berkaus putih yang terbalut kemeja biru itu seperti tidak jemu-jemu untuk mengejarku. Dia seolah tidak peduli bagaimana perasaanku yang menginginkannya menjauh. Dia terus saja berjuang untuk mendapatkanku tanpa mengenal rasa lelah dan letih. Aku jadi penasaran, apa sikapnya ini hanya untuk mengejar target yang diberikan Hadden atau memang murni dari dalam hatinya?
Kadang ada rasa khawatir yang melanda pikiranku saat berhadapan dengannya. Bak batu karang yang terkena tetesan air setiap hari, suatu saat nanti bisa berlubang terkena tetesannya. Dan hal itu jugalah yang aku takutkan terjadi padaku. Dimana Alexander terus berjuang untuk menggoyahkan hatiku.
Aku ini wanita biasa yang terkadang logika mengambil alih perasaan. Pekerjaanku sebelumnya bisa dibilang tidak mempunyai perasaan sama sekali. Tapi setelah berhadapan dengan Jackson, semuanya jadi berubah. Aku kembali ke Cecilia yang sebelumnya. Dimana hatiku rapuh dan membutuhkan cinta. Dan aku amat berharap Jackson bisa memberikannya.
Kini yang kubisa hanya berdoa dan terus berdoa. Setelah kejadian ini siapa saja yang akan mendampingi hidupku, aku sangat berharap dia juga bisa menerima masa laluku. Aku bukanlah wanita baik-baik yang belum pernah terjamah. Kehidupan sebelumnya memaksaku untuk melepaskan keanggunan ini sebagai seorang wanita. Dan ya, aku ingin Alexander mengetahuinya sebelum dia melangkah lebih jauh untuk mendekatiku. Aku khawatir bila sudah jatuh hati, dia malah pergi meninggalkanku.
"Tensi darah sudah mulai normal, Nona. Tekanan jantung juga sudah stabil. Nona bisa melakukan rawat jalan setelah ini," tutur perawat yang memeriksaku.
"Apakah aku bisa bertemu dengan dokter sekarang?" tanyaku padanya.
"Dokter spesialis akan tiba pukul lima sore nanti. Saat ini hanya ada kepala perawat saja. Saya sarankan jika memang ingin pulang hari ini, Nona melakukan pemeriksaan intensif terlebih dahulu, untuk memastikan keadaannya baik-baik saja." Perawat itu menuturkan.
"Baik." Aku pun mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi." Perawat itu lekas berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya. Dia tersenyum lalu beranjak pergi dari hadapanku.
Angela lalu mendekat ke arahku. "Cecilia, kau sudah bisa tenang sekarang. Sudah tidak perlu rawat inap lagi." Angela tersenyum.
__ADS_1
Aku mengiyakan lalu mencoba melihat Alexander yang sedang mengucapkan terima kasih kepada perawat itu. Dia kemudian membukakan pintu untuknya. Dia begitu ramah sekali. Sepertinya dia adalah tipikal pria yang bersikap ramah kepada setiap wanita. Aku pun jadi ragu dengan kesungguhan perasaannya terhadapku.
"Nona Angela, Nona bisa meninggalkan Cecilia di sini bersamaku. Aku sedang senggang." Alexander menawarkan diri untuk menemaniku di rumah sakit hari ini.
Angela menoleh. "Ah, maaf kalau sudah banyak merepotkan, Tuan. Suamiku memang sudah menelepon dan meminta untuk kembali." Angela seperti tidak enak hati kepada Alexander.
"Cecilia." Angela beralih kepadaku. "Aku tinggal tidak apa-apa, ya. Nanti malam aku akan ke sini bersama suamiku. Sekarang beristirahatlah." Angela mengusap-usap lenganku.
"Terima kasih, Angela." Aku pun mengizinkannya pergi.
Lantas Angela berpamitan kepada Alexander. Dia segera keluar dari ruangan rawat inapku. Meninggalkanku bersama pria berambut pirang itu. Alexander pun mengantarkan Angela sampai ke depan pintu. Dia terlihat menghormati Angela seperti kepada kakak sendiri. Dia kemudian kembali masuk ke dalam ruangan lalu mendekatiku. Menarik kursi dan duduk di samping kasur pembaringanku.
"Cecilia, kau sudah boleh pulang. Aku ikut senang." Dia tersenyum manis sekali.
Aku mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa padanya.
Tuan ....
Saat itu juga hatiku merasa teriris. Ternyata ibu Alexander benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada kami. Dia menganggap kami masih berhubungan baik. Padahal kenyataannya, aku sedang menjaga jarak dari putranya. Tidak ingin dia dekat-dekat kembali. Tapi sepertinya, aku harus menerima kebaikannya sementara waktu karena Jackson tidak ada di sampingku. Entah sedang apa dirinya sekarang.
.........
...Alexander...
.........
Jackson tidak menjawab teleponku. Dia juga tidak membalas pesanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Tapi aku tetap berusaha berpikiran positif tentangnya. Mungkin dia sedang sibuk dengan berbagai macam urusan. Dan aku di sini hanya bisa menunggu kabar darinya.
__ADS_1
Cecilia, fokuslah terhadap penyembuhkanmu sebelum memikirkan yang lainnya. Aku yakin Jackson pasti baik-baik saja di sana.
Teringat kembali akan perkataan Angela yang memintaku untuk tidak mengkhawatirkan Jackson. Tapi bagaimana aku tidak khawatir, dia belum juga datang menjengukku. Pesanku pun tidak dibalas olehnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi semoga saja dia tidak marah lagi.
Sore harinya...
Alexander membantu mendorong kursi rodaku sampai masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan. Dan kulihat dokter berjas putih itu sudah menungguku bersama seorang perawat yang berjaga. Aku pun meminta Alexander untuk menunggu di luar. Aku tidak ingin dia mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi padaku.
"Cecilia, kau yakin aku tunggu di luar?" Alexander tampak khawatir. Dia keberatan meninggalkanku sendirian di dalam.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ada perawat juga di sini. Tunggu, ya," kataku padanya.
"Em, baiklah. Kalau ada apa-apa, teriak saja." Dia mengangguk lalu meninggalkanku setelah masuk ke dalam ruangan. Kusadari jika dia begitu sabar dalam merawatku.
Jack, sedang apa dirimu sekarang? Kenapa belum juga menjengukku?
Perawat yang berjaga menyambut kedatanganku. Dia segera membantu mendorong kursi rodaku hingga sampai ke hadapan dokter kandungan. Kulihat dokter spesialis kandungan itu sedang sibuk melihat hasil USG pasien lainnya.
"Selamat sore, Dok." Aku menyapanya.
"Selamat sore, dengan Nona Cecilia?" tanyanya.
"Benar, Dok. Saya diminta check up sebelum meninggalkan rumah sakit." Aku menuturkan.
"Oh, baiklah. Mari segera kita lihat kondisinya."
Dokter itu kemudian mengarahkanku agar tidur di atas kasur yang mana terdapat banyak peralatan di sana. Di ruangan ini juga terdapat layar besar yang sepertinya digunakan untuk mengecek kandungan, sejenis alat USG. Aku pun berdiri dari kursi rodaku dengan dibantu oleh dokter dan suster yang berjaga. Aku merebahkan diri di atas kasur pemeriksaan ini.
"Tadi suaminya, Nona? Kenapa tidak disuruh masuk saja?" tanya dokter kepadaku, sambil mengecek alat USG-nya.
__ADS_1