
Esok harinya...
Suara burung berkicau menyadarkanku dari alam mimpi yang indah. Desiran angin membelai wajahku agar segera terbangun dari tidur. Tapi, tubuhku terasa enggan untuk membuka kedua mata. Sampai akhirnya pikiranku telah sempurna tersadarkan. Seketika itu juga aku ingat jika hari ini harus masuk bekerja. Lantas kubangunkan pria yang sedang memeluk tubuhku dari belakang.
"Tuan, bangun. Anda tidak bekerja?" tanyaku seraya mengusap lengan kekarnya yang memeluk tubuhku.
Semalam kami menghabiskan waktu bersama hingga menjelang fajar. Tidak tahu kenapa aku bisa menyerah begitu saja padanya. Jackson seperti memiliki sihir yang tidak bisa dikalahkan. Dia dengan mudahnya menaklukkan hatiku. Aku jadi tak kuasa untuk melawannya.
Kuakui jika dia tampan dan juga hartawan. Mungkin hartanya tidak lagi terhitung triliunan. Jika Zea menginginkan setengah hartanya dia biasa saja, itu berarti tidak ada apa-apanya di matanya. Mungkin sekarang aku inilah yang dimanfaatkan olehnya untuk bercerai dengan istrinya. Jackson mempunyai seribu taktik yang sulit dibaca lawan. Apalagi dibaca oleh aku yang anak ingusan.
"Tuan, bangun." Aku kembali mencoba membangunkannya.
Semalam terasa begitu berbeda. Mungkin karena perasaan di hatiku yang membuatku menyerahkan diri sepenuhnya kepada Jackson. Jackson juga memperlakukanku amat lembut semalam. Dia memberikanku kepuasan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Mungkin dia sudah sangat berpengalaman atau banyak belajar tentang hal ini.
Bagiku Jackson tidak ada kurangnya. Di mataku dia begitu sempurna. Dia tampan, rupawan dan juga hartawan. Tapi, semakin lama bersamanya ada beberapa hal yang kusadari. Jackson mempunyai sifat asli yang mungkin hanya aku saja yang mengetahuinya. Dia adalah seorang pencemburu akut, amat egois dan selalu ingin dituruti.
Aku tidak mengerti hubungan jelas antara Zea dan Jackson selain resmi berstatus suami-istri. Tapi kalau dipikir-pikir, Zea seperti tidak pernah mendapatkan haknya dari Jackson. Entah karena Jackson yang tidak mau memberikannya atau memang karena alasan lain. Seingatku Jackson pernah berkata jika dia tidak mau bekasan orang. Itu berarti dia sudah mengetahui bagaimana Zea sebelumnya. Entahlah, aku belum tahu pasti. Tapi mungkin seiring berjalannya waktu aku akan mengetahui hal itu.
"Tuan, bangun. Susah sekali sih dibangunkan!" Aku mencubit lengannya, seketika itu juga dia terbangun.
"Cecilia." Dia makin memelukku erat dari belakang.
"Tuan, Anda tidak bekerja? Sudah pukul enam lewat. Ayo, bangun!" Aku membangunkannya lagi.
"Ini tanggal merah, Cecilia," katanya yang sontak menyadarkanku.
__ADS_1
Apa?! Tanggal merah?!
Lekas-lekas kulihat tanggalan kecil yang ada di atas meja samping kasurku. Dan ternyata benar jika hari ini tanggal merah. Bisa-bisanya aku lupa jika hari ini hari libur. Jackson benar-benar telah menguasai duniaku hingga membuatku melupakan segalanya.
Lantas aku beranjak bangun, melepaskan diri dari pelukannya. Kulihat dia tertidur manis pagi ini. Bisa-bisanya dia tersenyum sambil tertidur, padahal raut muram biasa menghiasi wajahnya.
Dia memang tampan jika di luar kantor.
Harus kuakui jika Jackson memiliki kharisma yang hanya bisa dilihat oleh lawannya. Jackson begitu terpandang dan juga kaya. Berbeda dengan aku yang hanya sebatang kara. Rasa-rasanya mustahil bagiku untuk memilikinya jika bukan hanya sebatas simpanan. Entahlah, lebih baik aku beranjak bangun saja.
Kuambil kain untuk menutupi tubuhku. Kubiarkan Jackson tertidur di bawah selimut. Mungkin dia amat lelah setelah permainan semalam. Jadi kutinggal saja dirinya lalu bergegas mandi. Kubersihkan tubuhku yang sudah terlanjur kotor ini. Tapi aku masih berharap kepastian itu akan kudapatkan.
Setengah jam kemudian...
Aku mengenakan daster putih bermotif bunga dan polesan make up minimalis. Setelah mandi aku bergegas membuatkan Jackson sarapan seadanya. Aku belum berbelanja karena belum gajian. Katanya sih sebentar lagi menjelang akhir bulan.
Enam tahun bergelut di bidang ini aku hanya dapat mempunyai tabungan sebesar itu. Padahal kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh Jackson. Setiap transaksi aku bisa mengantongi ratusan hingga milyaran. Tapi itu hanya gambaran kasar. Pada kenyataannya aku harus membeli ini dan itu untuk menunjang pekerjaan. Tidak mungkin juga berhadapan dengan bos besar memakai gaun ratusan ribu. Yang ada malah ditertawakan.
Aku mempunyai banyak gaun dan aksesoris yang kubeli sendiri. Setelah melunasi utang hidup dengan Angela, aku bisa membeli ini dan itu. Aku juga bisa membeli mobil. Dan sekarang hanya rumah saja yang belum aku punya karena pekerjaanku mengharuskan pindah ke sana dan ke sini.
Sebenarnya Angela tidak menganggap utang atas bantuannya membiayai hidupku selama sepuluh tahun yang lalu. Dia ikhlas membantuku. Lagipula aku tidak banyak meminta kepadanya. Sekolah gratis dan makan pun seadanya. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan belajar. Hingga akhirnya hampir semua aku bisa. Semua ini tidak terlepas dari bantuan Angela. Jika bukan karenanya, mungkin selamanya aku akan menjadi tunawisma.
Aku bertemu dengan Angela saat berusia dua belas tahun. Kami tanpa sengaja bertemu di sebuah warung makan saat aku ikut mencuci piring di sana. Pemilik warung memarahiku karena tanpa sengaja aku memecahkan piring. Dan hal itu terdengar oleh Angela yang baru saja keluar dari toilet. Dia kasihan melihatku dimarahi si pemilik warung. Hingga akhirnya dia mengajak ku bicara.
Saat itu Angela masih muda. Bisa dibilang dia baru menekuni bidang ini. Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun. Kami pun banyak berbincang dan akhirnya Angela berniat menolongku. Dia mengganti piring yang pecah lalu membawaku pergi ke kontrakan rumahnya. Dia baik hati sekali. Sampai akhirnya aku bisa bersekolah lagi, belajar menari dan memainkan alat musik. Semua berkat bantuannya.
__ADS_1
Aku berutang budi pada Angela. Selama sepuluh tahun aku ikut dengannya, dia mengajariku banyak hal. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia tahu bagaimana diriku dan kesulitan yang kuhadapi. Walaupun pekerjaannya seperti itu, tapi hatinya sangat baik. Mungkin benar apa kata orang, jika jangan pernah melihat sesuatu hanya dari sampulnya saja. Dan hal itu kubuktikan sendiri.
"Sedang masak apa?"
Tiba-tiba Jackson sudah berada di belakangku. Dia mengecup bahuku yang terbuka ini. Dia mulai bermanjaan padaku.
"Mandi sana. Kita sarapan bersama," kataku seraya tersenyum padanya.
Aku membuatkan nasi goreng dan menghangatkan makanan yang waktu itu dipesan olehnya. Masih tersisa jadi kuhangatkan saja untuk kusediakan di atas meja. Jadi nanti Jackson tinggal memilih mau menyantap nasi goreng buatanku atau makanan restoran yang dia pesan.
"Sepertinya enak." Jackson ingin langsung mencicipi nasi goreng buatanku.
"Hush! Mandi dulu sana!" Segera kutepiskan tangannya yang ingin mencicipi.
Kulihat dia terdiam sejenak. Mungkin tidak pernah melihat sisi keibuan dariku. Lantas dia mematikan kompor lalu memutar tubuhku, menghadap ke arahnya.
"Tenyata rubahku ini galak sekali, ya." Dia memasang raut wajah terkejut.
Seketika itu juga aku ingin tertawa mendengar kata-katanya, dan juga melihat ekspresi wajahnya yang terkejut. Lantas kututup mulutku karena tidak ingin dia melihatku tertawa. Saat itu juga kusadari jika Jackson tidak memakai apa-apa.
"Astaga!" Aku terkejut saat melihat ke bawah. "Pergi sana! Cepat mandi!" Aku pun mendorongnya ke kamar mandi.
"Iya-iya."
Jackson akhirnya menurut padaku. Entah mengapa dia jadi penurut seperti ini. Mungkin dia sedang kerasukan setan baik. Entahlah, lebih baik kusediakan saja makanan ke atas meja lalu sarapan pagi bersamanya.
__ADS_1
Tuan, entah mengapa aku bahagia sekali pagi ini. Seperti mendapat lampu hijau darimu.
Aku tersenyum sambil membawakan hidangan ke atas meja. Kubiarkan Jackson mandi, dan sambil menunggunya aku mencoba menyetel TV, melihat acara di pagi ini.