
Malam harinya...
Cuaca malam ini terlihat mendung sekali. Aku pun baru saja mandi setelah sampai di apartemenku. Tapi aku tidak sendiri di sini, melainkan bersama Alexander. Hari ini telah kuhabiskan waktu bersamanya. Berbagi cerita dan juga mengeluarkan resah gelisah yang melanda hati. Hari ini juga aku mulai mengetahui bagaimana sifat aslinya. Ternyata dia begitu perasa di balik kharismanya yang bersahaja. Dan aku mencoba untuk memahami sifatnya.
Seusai video call bersama ibunya, aku segera minta pulang ke apartemenku. Alexander pun bergegas mandi lalu mengenakan kemeja biru gelapnya untuk mengantarkanku pulang. Dan kini dia sedang memandangi perkotaan dari teras apartemenku. Dia menungguku keluar kamar karena tidak berani masuk ke dalam tanpa persetujuanku. Kuakui jika dia lebih sopan jika dibandingkan dengan Jackson.
"Dear, aku tidak masak. Kita makan malam di restoran bawah saja, ya?"
Aku keluar dari kamar dengan mengenakan blus merah kotak-kotak. Blus merah ini pernah kupakai saat kami makan malam di restoran Jepang. Dan kini kupakai lagi karena pakaianku sudah masuk ke dalam koper semua. Jadinya yang mudah saja kuambil. Mungkin bisa dibilang blus ini juga kupakai untuk menyesuaikan hari yang sudah malam. Jadinya mengenakan pakaian yang serba panjang. Dan juga agar tampak serasi dengan kemeja biru gelapnya.
Alexander menoleh ke arahku. Dia memperhatikan rambutku yang masih tampak basah karena sehabis mandi. "Cecilia, apa tidak sebaiknya kau tinggal di apartemenku saja?" tanyanya seperti itu.
"Eh?!" Aku berjalan mendekatinya.
"Aku khawatir jika Jackson atau Zea kemari. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa lagi." Dia melanjutkan.
Aku kemudian menyisir rambutku di depannya tanpa sungkan. "Jangan menakutiku. Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka," kataku sambil menyisir rambut ini.
Dia memperhatikanku yang berdiri di hadapannya. "Sini kubantu." Dia kemudian mengambil sisir yang kupegang lalu membantuku menyisir rambut. "Jarak apartemen ini dan apartemenku sekitar lima belas menit perjalanan jika tidak macet. Aku khawatir dengan jarak tempuh selama itu tidak bisa cepat datang saat keadaan darurat. Mau ya tinggal bersamaku?" pintanya lagi.
Aku tersenyum, merasa ini hanya akal-akalannya saja karena selalu ingin bersamaku. Lantas aku membalikkan badan menghadapnya. "Dear, kau mulai banyak maunya. Sedang aku belum meminta sesuatu apapun darimu." Kucubit hidung mancungnya itu.
Alexander tersenyum, dia menahan tawanya. Kulihat dia menggerak-gerakkan hidungnya yang terkena cubitanku. Dia tampak lucu sekali. Bisa saja menghibur hatiku ini. Dan entah mengapa mulai ada perasaan di hatiku yang takut akan kehilangannya. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta?
"Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja. Apakah salah?" Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Dear, jangan membangunkan singa tidur.
"Aku sudah berjanji pada ibu untuk menjagamu. Tak inginkah kau dijagaku, Cecilia?" Dia bertanya lagi.
Aku pura-pura berpikir. Kuputar kedua bola mata ini di hadapannya. Dia pun memerhatikan dengan saksama sikapku. Lalu tiba-tiba saja dia mengangkat tubuhku.
"Dear!" Aku pun terkejut dengan sikapnya.
__ADS_1
Tubuhku diangkat tinggi-tinggi olehnya. Dadaku pun tepat berada di depan wajahnya. Entah mengapa aku merasa dia mulai berani mencurahkan perasaannya padaku. Seperti tidak malu-malu lagi.
"Akan kujaga dirimu seperti menjaga permata indah di hatiku, Cecilia." Dia menatapku sungguh-sungguh yang lebih tinggi darinya.
Lantas aku terdiam memperhatikannya. Kulihat dia tersenyum manis sekali. Aku pun merasa begitu dimanja olehnya. Tanganku ini tanpa sadar bergerak sendiri untuk memegang wajahnya. Kuusap wajahnya, Alexander pun memejamkan matanya seraya tersenyum di depanku. Rasanya aku tidak salah mengambil keputusan saat ini.
"Dear, kita sudah sama-sama dewasa. Apa tidak berbahaya jika tinggal bersama?" tanyaku yang membuatnya menurunkan tubuhku ini.
"Jadi kau tidak percaya padaku?" Dia terlihat pundung.
"Eh, bukan begitu. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Hanya saja aku belum terbiasa berbagi kasur," jawabku polos.
"Hahahaha." Dia tertawa. Mungkin sudah menduga jawabku akan seperti itu. "Baiklah. Kalau itu alasannya, aku akan meminta kasur lagi kepada pihak manajemen apartemen. Jangan khawatir." Dia meyakinkanku.
"Em ...," Dia memasukkan kedua tangan ke saku jeans-nya. "Itu tergantung Tuan Putri. Hamba pasrah saja," katanya seraya meletakkan tangan kanan di dada.
"Dear ...." Saat itu juga aku seperti berada di istana dan dia adalah pangerannya.
Lantas aku mencoba menimbang ulang perkataannya. Aku harus berpikir matang-matang sebelum melangkah. Dan akhirnya aku mencoba menelepon Angela untuk meminta pertimbangan. Angela pun ternyata menyetujuinya. Mungkin dia ingin agar ada yang menjagaku. Jadi ya sudahlah. Kucoba saja. Toh, apartemennya juga luas. Semoga dia benar-benar menjagaku di sana. Jika tidak, miliki aku sepenuhnya, My Dear...
.........
...Cecilia...
.........
...Alexander...
__ADS_1
.........
...Cecilia...
.........
...Alexander...
.........
7 Februari...
Beberapa hari ini aku tinggal di apartemen Alexander. Tak terasa sudah memasuki minggu ke dua di bulan Februari. Rasanya begitu cepat waktu berlalu. Aku pun semakin memantapkan hati untuk memilih. Tidak ada keraguan di dalam hatiku untuknya. Untuk seorang pria yang selama ini telah menjagaku dengan susah payah.
Beberapa hari ini Alexander sampai rela menghamparkan kasur di ruang TV yang ada di depan kamar yang kutempati. Aku tidur sendiri di kamarnya. Mungkin sudah dua atau tiga malam ini. Dan selama itu juga dia tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh padaku. Dia benar-benar menjagaku, bahkan selalu menjaga jarak jika aku sudah mulai memancingnya. Mungkin ingin membuktikan jika dia adalah pria yang memegang ucapannya.
Aku sendiri begitu bahagia tinggal di sini. Aku betah dan rasanya ingin segera dilamar saja. Tak tahu kapan, tapi sepertinya tanda-tanda keseriusan itu sudah ada. Dia diam-diam melihat wedding organizer tanpa sepengetahuanku. Dia juga sudah menandai gaun pengantin pilihannya. Entah untuk siapa? Tapi mungkin saja untukku. Apa aku salah mengira?
Kini aku sedang membuatkan kue untuknya. Alexander berulang tahun hari ini. Aku sudah membeli semua bahan kue dan tinggal membuatnya saja. Lantas segera kupersiapkan segala yang kubutuhkan sambil melihat tutorial cara membuat black forest di YouTube. Pada akhirnya adonan kueku pun sudah jadi. Tinggal memanggang dan menghiasnya saja. Aku rasa kue ini tidak gagal untuk ukuran pemula sepertiku.
"Baiklah, mari kita panggang kuenya."
Kumasukkan adonan ke loyang bundar lalu kupanggang di dalam oven. Kuatur waktu pemanggangannya agar sama seperti tutorial yang kutonton. Lalu sambil menunggunya aku melihat-lihat isi ponsel pintarku. Aku duduk di depan meja makan seraya melihat pesan masuk di ponselku. Dan ternyata, terdapat dua panggilan tak terjawab dari Aurel.
"Ada apa, ya?"
Lantas aku mengirimkannya pesan. Kulihat sekarang sudah hampir pukul sebelas siang. Sedang panggilannya sekitar pukul sepuluh pagi. Itu berarti satu jam yang lalu Aurel meneleponku tapi tidak sempat terangkat. Entah apa yang ingin dibicarakannya.
__ADS_1