
"Cecilia!" Dia menghambur ke arahku lalu memelukku.
"Aurel?!" Sungguh aku terkejut dengan kedatangannya.
"Em, maaf?" Kudengar Alexander menegur kami.
Aurel melepaskan pelukannya. Dia kemudian beralih ke Alexander. "Maaf, Tuan. Aku Aurel, teman kerja Cecilia." Aurel menceritakan.
"Oh." Alexander pun mengangguk. "Kalau begitu kalian bicara dulu. Aku mau keluar sebentar." Alexander seperti mengerti maksud Aurel datang. "Cecilia, tak apa kutinggal?" Dia kemudian bertanya padaku.
"Tak apa, Tuan. Terima kasih," kataku seraya tersenyum kepadanya.
"Kalau begitu aku titip Cecilia padamu, Nona Aurel." Alexander berpesan sebelum pergi meninggalkan kami.
"Baik." Aurel pun menyanggupi.
Alexander kemudian pergi. Setelah kepergiannya, Aurel kembali memelukku sambil menangis. Aku pun jadi bingung dengan apa yang terjadi. Seketika rasa penasaranku muncul dan ingin tahu.
"Aurel, apa apa?" tanyaku padanya.
Aurel menangis tersedu-sedu. Entah pura-pura atau sungguhan, aku tidak tahu. Namun, air matanya bisa kurasakan membasahi bajuku ini.
Ada apa sebenarnya? Kenapa aku melihatnya seperti orang ketakutan?
Lantas aku mengajaknya untuk duduk di sofa. Tenangaku mulai pulih sehingga sudah kuat untuk berjalan. Aku pun ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku penasaran.
Beberapa menit kemudian...
Aurel menceritakan padaku bagaimana sikap Jackson saat datang ke Angkasa Grup. Dia menyuruh semua karyawan tidak ada yang boleh pulang sebelum kedatangannya. Dia juga meminta satpam untuk berjaga agar karyawannya tidak ada yang mencoba melarikan diri. Jackson terkesan kejam sekali.
Belum sampai di situ, Jakson mengajak seluruh karyawan yang masuk di akhir pekan untuk membuat lingkaran setelah kedatangannya. Wajahnya terlihat tidak enak dipandang. Dia kemudian mengeluarkan pistolnya. Seketika itu juga seluruh karyawan Angkasa Grup ketakutan. Termasuk Aurel yang berada di sana.
"Tuan Jackson sampai bersikap seperti itu?" Aku tak percaya mendengar cerita Aurel.
"Benar, Cecilia. Aku takut sekali. Aku takut tiba-tiba dia menembakku. Dia meminta kami untuk mengaku siapa yang telah membuatmu sampai dilarikan ke rumah sakit. Aku takut." Aurel menceritakan dengan ekspresi amat panik.
"Lalu?"
"Pada akhirnya dia mengancamku, dia memintaku untuk mengaku. Tapi aku bersikeras jika bukan aku pelakunya. Tapi tuan Jackson menodongkan pistolnya ke kepalaku." Aurel menangis semakin kencang di depanku.
__ADS_1
"Astaga ...." Saat itu juga aku menyadari betapa emosinya sulit dikendalikan. "Aurel, bukankah kau datang saat nyonya di ruanganku?" tanyaku.
Aurel mengangguk. "Aku takut berkata terus terang karena tahu bagaimana nyonya Zea. Namun akhirnya, aku mengatakannya juga. Tuan Jackson mengancam akan melakukan hal yang sama jika aku tidak mau mengaku. Akhirnya kukatakan padanya jika nyonya Zea lah yang telah melakukannya." Aurel berkata jujur.
Saat itu juga aku menyadari betapa sulit posisinya. "Lalu bagaimana dengan karyawan Angkasa Grup lainnya?" tanyaku.
Aurel menyeka air matanya. "Mereka mengiyakan jika nyonya datang. Saat itu juga tuan langsung pergi. Aku tidak tahu ke mana. Tapi sepertinya menemui nyonya Zea," katanya lagi.
Aku menelan ludah. Tidak bisa kubayangkan apa yang akan Jackson lakukan terhadap Zea.
Jack, aku harap kau bisa mengendalikan dirimu saat menemuinya. Kau masih punya perjanjian dengan ayahnya. Aku khawatir kau akan menderita kerugian besar karenaku.
Entah mengapa aku masih terus memikirkan keselamatannya walaupun sampai detik ini dia belum juga menghubungiku. Aku harap dia baik-baik saja di sana. Aku mencoba terus berpikiran positif tentangnya.
Cerita Aurel tentu saja menjadikan pondasi kuat bagiku untuk terus bertahan. Jackson ternyata amat memedulikanku sampai bertindak menakutkan seperti itu, hanya untuk mencari tahu siapa penyebab aku sampai masuk rumah sakit. Tapi masalahnya, bagaimana setelah dia menemui Zea? Aku ingin tahu hal apa yang terjadi di sana.
"Aurel, kau tenang saja. Kau pasti lebih mengenal bagaimana karakter tuan dibandingkan aku. Jika dia tetap menyalahkanmu, aku akan membela. Karena bukan dirimu pelakunya." Aku menenangkan.
Aurel mengangguk lalu memelukku. "Terima kasih, Cecilia." Kurasakan kesedihannya mulai berkurang.
Kutahu jika kedatangan Aurel ke sini bukan untuk menjengukku, melainkan untuk meminta bantuan dariku. Dia ketakutan saat Jackson bersikap seperti itu. Dia tidak mau sampai merenggang nyawa karena emosi bosnya. Dan aku mencoba memaklumi posisinya. Kutahu jika Jackson belum bisa mengendalikan emosinya.
.........
.........
Satu jam kemudian...
Malam ini cuaca tampak mendung. Tak kulihat bintang ataupun bulan yang bersinar. Rintik-rintik hujan pun mulai turun membasahi perkotaan. Kutatap indah pemandangan itu dari balik kaca jendela mobil Angela. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Sepertinya tidak ada tanda-tanda jika Alexander hanya pura-pura menyukaimu, Cecilia." Angela membuka percakapan setelah dia berbicara kepada suaminya.
Angela menjemputku bersama suaminya. Sedang Alexander segera berpamitan setelah memastikan keadaanku baik-baik saja. Aku berutang jasa padanya. Tapi tidak tahu bagaimana cara harus membayarnya.
"Benar, kah?" Aku menanggapi perkataan Angela.
"Kurasa begitu. Atau memang penipu sudah mulai tertipu? Hahaha." Dia seperti mengejekku.
__ADS_1
"Hah ... entahlah. Aku inginnya Jackson," jawabku.
Angela melihatku dari kaca tengah mobil. "Kudengar terjadi pertengkaran hebat di keluarga Liandra." Angela menuturkan.
"Apa?!" Seketika aku antusias menanggapinya.
"Ya, katanya. Tapi belum pasti. Aku hanya mendengar kabar burung. Mungkin kau bisa menanyakan langsung kepada Jenny tentang hal ini." Angela menyarankan.
Seketika aku tersadar jika memiliki nomor Jenny.
Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku untuk menelepon Jenny? Siapa tahu dia bisa memberi informasi tentang Jackson di sana. Karena sampai saat ini Jackson belum juga menghubungiku.
"Angela."
"Ya?"
"Jackson menghubungimu?" tanyaku lebih lanjut.
Kulihat suami Angela diam saja. Dia sepertinya fokus menyetir sehingga tidak menghiraukan pembicaraan kami. Mungkin karena usianya sudah tua, jadi malu untuk bergabung dengan yang lebih muda.
"Pesanku kemarin hanya dibaca olehnya. Dia tidak membalas pesanku. Mungkin dia masih sibuk, Cecilia." Angela menduga.
Aku jadi berpikir. Pesanku juga sama hanya terkirim dan terbaca olehnya. Dia tidak membalas pesanku. Kenapa, ya?
Aku takut Jackson marah lagi karena beberapa hari ini Alexander yang menemaniku di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya karena teleponku saja tidak pernah diangkat atau ditanggapi olehnya. Entah mengapa.
"Apa ... Jackson marah padaku, ya?" Aku menduganya.
"Karena Alexander yang menjagamu?" tanya Angela seraya menoleh ke arahku yang duduk di belakang mobil.
"Iya. Dia cemburu jika aku dekat dengan Alexander," jawabku jujur.
"Hahaha. Ada-ada saja." Angela tertawa. "Yang namanya darurat itu apa saja diperbolehkan, Cecilia. Daripada terjadi hal yang lebih buruk lagi ke depannya. Kau tahu sendiri aku punya pekerjaan, sedang Alexander menawarkan bantuan. Apa kita harus menolaknya? Belum tentu jika menyewa penjaga bisa seteliti dirinya. Bukankah Alexander yang membantumu minum obat dan lainnya?" Angela seperti memberi dukungan kepadaku untuk bersama Alexander.
Aku terdiam. Mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi, sebelum memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Dimana Alexander menyuapiku memakan bubur lalu membantuku untuk meminum obat. Dia lembut sekali. Aku seperti diperlakukan bak seorang putri.
"Ayo, tambah lagi. Biar lekas sehat."
Kuingat dia tersenyum padaku. Kusadari jika dia begitu memanjakanku. Tapi karena hal itu jugalah aku merasa bersalah padanya. Dia terus saja mengejarku walau sudah tahu aku tidak mencintainya. Rasanya aku jadi bingung untuk melangkah. Aku harus bagaimana?
__ADS_1