
Alexander menelan ludahnya. "Cecilia, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sungguh-sungguh ingin mengetahui apa yang terjadi padamu. Mengapa tadi kau menangis saat memeluk ibuku? Apakah ada sesuatu hal yang membuatmu sampai meneteskan air mata?" tanyanya, menunjukkan kepedulian yang begitu besar terhadapku.
Semakin lama kami bersama, semakin gundah-gulana hatiku. Sifatnya amat berseberangan dengan Jackson. Alexander begitu peduli dengan keadaanku. Berbeda dengan Jackson yang seolah tidak peduli sama sekali. Dan tidak tahu mengapa, rasanya aku ingin terus menangis saja. Hatiku seperti terombang-ambing dan tidak menemukan arah jalan pulang. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Lantas sebisa mungkin aku tersenyum. Kutepiskan kedua tangannya dari pundakku lalu melihat ke arah taman, mengalihkan pandangan darinya. Aku tersenyum seraya melihat kekejauhan. Saat itu juga aku jadi teringat dengan perkataan ibu Alexander kala kami di dapur tadi. Dia cukup banyak menceritakan tentang putranya padaku.
"Alexander S3 Arsitektur. Dia mengambil kuliah di luar negeri. Dia memang belum mempunyai perusahaan besar saat ini, tapi dia sudah membangun CV sendiri." Ibu Alexander mengatakan padaku.
"Sudah lama, Bu?" tanyaku.
"Dia lulus S3 saat berusia dua puluh lima tahun. Dia anak yang pintar. Masa mudanya digunakan untuk belajar dan belajar. Ibu bangga padanya." Raut bahagia tersirat dari wajah ibunya.
Saat itu juga aku hanya bisa tersenyum.
"Ibu berharap dia bisa menemukan wanita yang tepat. Yang mengerti bagaimana pekerjaannya dan juga yang menyayangi ibu serta kedua saudaranya," katanya lagi. Kulihat harapan besar dari wajah ibunya.
"Ayah sendiri?" Aku ingin tahu lebih lanjut.
Sejenak ibu Alexander terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam. "Kami sudah bercerai, satu tahun setelah adik Alexander menikah," jawabnya.
"Astaga! Jadi?"
"Selama ini Alexander yang memenuhi kebutuhan keluarga. Dia amat giat bekerja. Bahkan rumah ini juga dia yang membuatkannya untuk ibu."
Ibu Alexander menceritakan sesuatu yang membuat hatiku tersentak. Saat itu juga aku mengagumi bagaimana sosok Alexander yang sesungguhnya.
"Cecilia." Dia berkata lagi. "Jika kau menyukainya, segeralah menikah. Ibu sudah tua tapi belum juga menimang cucu. Kedua saudaranya belum bisa memberikan cucu." Tersirat keinginan besar dari dalam hati ibunya.
__ADS_1
Kini aku tahu di mana posisiku sekarang. Rasa-rasanya apa yang dikatakan oleh Jackson waktu itu tidaklah benar. Alexander ternyata memang benar ingin menikah. Dan karena hal itu aku merasa seperti tertekan. Di satu sisi aku mencintai Jackson, di sisi lain ada yang amat mengharapkanku. Lantas siapa yang harus kupilih?
"Cecilia." Alexander membuyarkan lamunanku.
"Tuan?" Aku pun segera tersadar jika dia masih berada di sampingku.
Kami kembali berdiri berhadapan. Kedua mata kami juga saling bertatapan. Cahaya lampu teras seolah menyinari dengan terang tempat di mana kami berada. Aku pun merasakan ada sesuatu pada diriku. Mungkinkah ini adalah awal kehidupan baruku?
Alexander memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya. Saat ini yang kutahu kau ada di hadapanku. Cobalah untuk membuka hatimu, Cecilia. Lihat aku di sini. Aku menunggumu," katanya yang membuat hatiku terenyuh.
Hujan di malam ini menjadi saksi. Dinginnya angin malam seolah membuat kami terhanyut dalam suasana yang semakin dalam. Dia kemudian perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Memiringkan sedikit kepalanya untuk meraih sesuatu. Saat itu juga jantungku berdegup kencang tak menentu.
Tuan ....
Aku tidak tahu harus bagaimana saat wajahnya semakin mendekati wajahku. Hingga akhirnya dahi kami pun bersentuhan, hangat napasnya bisa sampai kurasakan. Saat itu juga aku seperti tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhku tertarik kuat olehnya.
Tuan, apakah ini ...?
Dari telapak tangan ini aku bisa merasakan betapa cepat detak jantungnya. Hingga akhirnya ujung hidungnya mulai menyentuh ujung hidungku. Hangat napasnya pun terasa semakin melambat. Dan kulihat dia memejamkan matanya sambil terus mendekati bibirku.
Tuan, jangan ....
Kedua tangannya mengusap pipi ini lalu perlahan-lahan menuju ke tengkuk leherku. Saat itu juga aku merasakan sensasi aneh pada tubuhku. Hormon kebahagiaan mulai kurasakan dan membuatku tak berdaya. Hingga akhirnya jarak bibir kami semakin dekat saja. Aku pun ikut memejamkan mata.
"Aduh!"
Tiba-tiba saja aku merasa perutku sakit sekali. Seperti dicubit dari dalam saat bibirnya hampir menyentuh bibirku. Sehingga akhirnya dia tidak jadi mencium bibirku, melainkan rambutku. Karena rasa sakit itu ternyata membuatku membungkukkan badan dalam sekejap di hadapannya.
__ADS_1
"Cecilia, kau tidak kenapa-kenapa?" Saat itu juga dia panik melihatku memegangi perut ini.
"Tu-tuan, aku ke kamar mandi dulu." Aku pun segera pergi menuju kamar mandi.
"Cecilia!" Dia memanggil, ingin mengejarku.
"Sudah tidak usah diantar! Aku bisa sendiri!" Cepat-cepat aku pun masuk ke kamar mandi.
Malam ini hampir saja terjadi peristiwa yang tidak akan pernah bisa terlupakan dalam sejarah hidupku. Hampir saja aku berciuman dengan pria berambut pirang itu. Namun, tiba-tiba perutku sakit, sehingga akhirnya menggagalkan ciuman kami. Tak tahu apa yang ada di pikirannya, aku mencoba untuk melupakan. Anggap saja jika tadi aku terhanyut dalam suasana yang dia ciptakan.
Beberapa saat kemudian...
Aku memutuskan untuk segera beristirahat di dalam kamar saudara perempuannya. Sambil mencoba melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Hampir-hampir saja dia mencium bibirku malam ini. Tapi aku bersyukur karena hal itu tidak sampai terjadi.
Saat ini kudengar alunan musik yang diputar berulang dari kamar sebelahku, tempat di mana Alexander berada. Sepertinya dia memang sengaja memutar dua lagu itu untuk mengungkapkan perasaannya padaku. Dan sepertinya aku tahu lagu siapa yang diputarnya. Aku juga berharap suatu hari nanti bisa menonton konsernya.
All That I Need dari Boyzone dan As Long As You Love Me dari Backstreet Boys, terputar berulang kali dari dalam kamarnya. Aku rasa dia memang sedang jatuh cinta sehingga memutar lagu itu terus-menerus. Kuakui jika dirinya memang lebih lembut jika dibandingkan dengan Jackson. Dia juga lebih muda dari pria bermuram wajah itu.
Tuan, sedang apa kau di sana?
Lagi-lagi aku teringat padanya. Aku pun mencoba melihat status terakhirnya online. Tapi sayang, dia sengaja menonaktifkan status terakhir sehingga aku tidak bisa melihatnya. Aku hanya bisa melihat logo Samudera Raya di foto profilnya.
Jackson memang jarang sekali memasang foto profil sendiri. Mungkin dia memang tidak suka mengekspos urusan pribadi di media sosialnya. Kuakui jika dia amat realistis dan juga berkompeten. Tapi sayang, dia tidak bisa menghargai bagaimana perasaanku padanya.
Sedang apa ya dia?
Jujur saja aku rindu. Tapi aku juga bodoh karena rindu pada suami orang. Transaksi ini membuatku terjebak ke dalam permainan sendiri. Hingga akhirnya aku terperangkap dan tidak bisa lari.
__ADS_1
Aku tidak bisa keluar dari jebakan yang kubuat. Aku hanya bisa bertahan sampai ada yang menyelamatkan. Tapi masalahnya, siapakah yang akan menyelamatkanku? Jika keadaannya seperti ini, kecil kemungkinan jika Jackson lah yang datang. Sampai saat ini pun dia belum menghubungiku.
Entah apa yang terjadi di sana, aku juga tidak tahu. Lebih baik aku tidur saja karena hari semakin larut. Aku harus segera beristirahat dari rasa lelah hati dan pikiranku.