
Pasar seni ibu kota...
Aku dan Alexander duduk di sekitaran panggung teater terbuka. Udara malam yang dingin mulai membuat tubuhku kedinginan. Alexander pun menyadarinya. Dia segera melepas jaket hitamnya lalu dipakaikan kepadaku.
"Terima kasih."
Aku pun tersenyum sambil terus menghabisi es krim di tanganku. Dia juga dengan setia memegangi es krim satunya. Aku pikir dia akan memakannya. Tapi ternyata, dia membelikanku dua es krim sekaligus. Hanya saja demi menjaga perasaanku, dia memegang satu es krimnya. Mungkin agar aku tidak dilihat kelaparan oleh orang. Kuakui jika caranya begitu halus memperlakukanku.
"Lagi," kataku.
Setelah satu es krim habis, aku meminta es krim yang ada padanya. Aku pun tanpa malu mengambil es krim dari tangannya. Dan dia hanya tertawa melihatku. Sama sekali tidak merasa keberatan dengan sikapku.
"Habis ini mau langsung makan?" tanyanya yang duduk di sisi kiriku.
Kami sedang melihat latihan teater siswa-siswi SMA sambil menunggu jalanan tidak macet lagi. Dan saat ini sudah hampir setengah tujuh malam. Sejujurnya aku memang lapar, tapi gengsi jika habis makan dua es krim langsung makan malam. Nanti dia malah ilfeel padaku. Ya, namanya juga lagi pendekatan. Sebisa mungkin menunjukkan sikap baik dan imutnya saja. Berbeda nanti jika sudah menikah, singanya akan keluar semua.
"Nanti saja. Belum lapar," jawabku.
Saat jawabanku berakhir, saat itu juga perutku keroncongan. Alexander pun terkejut mendengar suara perutku ini. Dia terdiam sejenak lalu tertawa lepas di sampingku.
"Hahahaha. Cecilia-Cecilia."
Mungkin dia tidak habis pikir denganku yang bisa seterbuka ini. Apa adanya saja, tanpa dibuat-buat ataupun bersandiwara. Aku pun malu sendiri karena suara perutku. Musnah sudah jaga image di depannya.
"Em, maaf." Aku jadi tak enak sendiri.
"Tak apa, tak apa. Hahahaha." Dia masih saja tertawa.
Aku merasa Alexander mengejekku dengan tawanya. Entah mengapa hatiku tiba-tiba kesal sekali. Lantas segera saja kusumpal mulutnya dengan es krim di tanganku ini. Alhasil dia pun gelagapan, tidak bisa bicara.
"Rasakan!" Entah mengapa aku kesal sekali padanya.
"Mmmh?!!" Dia pun kesulitan untuk bicara.
"Habiskan!" kataku seraya melipat kedua tangan di sampingnya.
Aku pikir Alexander akan membersihkan es krim itu dengan tisu. Tapi ternyata, dia menghabiskannya. Dia memakannya tanpa rasa jijik jika itu bekasku. Dia membuatku terperangah dengan sikapnya.
"Sudah," katanya seraya menjilati sisa-sisa es krim di bibirnya.
"Ya, sudah." Aku juga ikut berkata seperti itu.
__ADS_1
"Eh, masih ada?" Dia memperhatikanku.
"Apanya?" tanyaku.
"Itu masih ada es krim di sudut bibirmu." Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ingin melahap sisa es krim di sudut bibirku.
"Tuan, kau menyebalkan!" Aku mendorongnya.
"Eh?!" Dia pun bingung.
Aku beranjak pergi, ngambek padanya.
"Cecilia, mau ke mana?!" Dia mengejarku.
Aku tidak mengindahkan pertanyaannya. Aku terus saja berjalan. Aku kesal karena dia meledekku. Aku kurang terima dengan tawanya yang seakan-akan meledek suara perutku. Aku kesal sekali.
Dia menyebalkan!
Terus saja aku berjalan menjauh darinya hingga sampai ke parkiran mobil. Tapi entah mengapa aku malah tidak mendengar suaranya. Lama-kelamaan aku kehilangan jejaknya. Aku pun menghentikan langkah kaki ini karena tidak mendengar pergerakan darinya. Lantas aku berbalik untuk melihat di mana gerangan dirinya berada. Dan ternyata...
"Tu-tuan?!!" Ternyata dia sudah berada di belakangku.
"Cecilia, jadilah kekasihku." Dia tersenyum seraya memberikan setangkai bunga mawar merah kepadaku.
"Terima! Terima! Terima!"
Tak lama kudengar siswa-siswi mendukungnya. Mereka berjalan mendekati kami seraya membawa setangkai bunga mawar merah. Aku pun seperti tidak bisa berkata apa-apa.
Ini?!! Apa dia sudah merencanakan semuanya?
Aku tak mengerti. Sungguh tak mengerti mengapa bisa jadi begini. Hatiku pun terenyuh dengan kejutan yang diberikan olehnya. Dia pintar sekali membuat hatiku berbunga-bunga. Aku pun seolah tak berdaya dibuatnya. Lantas aku mengangguk untuk menanggapi ucapannya.
"Yeay!!!"
Sorak-sorai para siswa akhirnya terdengar memeriahkan suasana pasar seni malam ini. Mereka semua melempar bunga mawar ke udara. Mereka terlihat senang dengan anggukan kepalaku, padahal aku tidak menjawab mau apa tidak jadi kekasihnya.
Maaf, Tuan. Anggukanku bukan berarti mau menjadi kekasihmu. Tapi karena menghargaimu agar tidak malu di hadapan mereka. Maaf, ya.
Kulihat Alexander pun tersenyum di depanku. Dia sepertinya malu karena sorak-sorai siswa mewarnai pernyataan cintanya. Entahlah, aku juga bingung mengapa bisa seperti ini. Dia mungkin sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari.
Lantas kuterima saja bunga mawar merah darinya. Kuhirup aromanya dalam-dalam. Dan sesaat kemudian baru kusadari jika ternyata bunga mawarnya palsu, bukan asli. Tapi ya sudahlah, kuterima saja. Syukuri apa yang ada.
__ADS_1
.........
...Alexander...
.........
Satu jam kemudian...
Setelah makan malam di pinggir jalan, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Alexander pun mengantarkanku pulang ke apartemen dengan mengendarai mobilnya. Sedang mobilku katanya nanti akan diantarkan oleh karyawannya. Jadinya kami bisa terus bersama. Dia memang bisa saja mengatur waktu kebersamaan kami.
Kini kami masih dalam perjalanan pulang. Dan kulihat Alexander tidak henti-hentinya memperhatikanku seraya melajukan mobilnya. Aku sendiri merasa geli dengan apa yang terjadi di pasar seni tadi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.
"Maaf jika tidak memberi tahumu sebelumnya," katanya seraya menoleh ke arahku.
"Tak apa." Aku pun tak berani melihat wajahnya.
"Cecilia, kau tidak menjawab mau atau tidak. Apakah kau menolakku?" tanyanya.
Aku segera menoleh ke arahnya. "Kau serius tadi?" Aku memastikannya.
"Astaga." Dia menyandarkan kepala di kursi mobil. "Jadi kau pikir aku bohongan?!" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. "Iya. Soalnya bunga mawarnya juga bohongan, kan?" Aku harap-harap cemas mengatakannya, khawatir dia marah padaku.
"Hahahaha." Dia tertawa. Entah apa yang ada di pikirannya, mendengar tawanya itu terasa cukup untuk menenangkan hatiku. "Kau terlalu ragu padaku, Cecilia. Maaf, jika aku terkesan terburu-buru." Dia tiba-tiba terlihat kecewa.
"Tuan, bukan begitu." Segera kupegang lengannya.
"Lalu apa?" tanyanya seraya menoleh ke arahku, lalu kembali fokus menyetir.
"Aku ingin kau tahu siapa diriku dulu. Jika sudah tahu rasa di hatimu masih sama, maka aku akan mempertimbangkannya." Aku jujur saja.
Dia mengangguk, seperti mengerti dengan maksudku. Aku pun mencoba mengalihkan pembicaraan ini agar suasana tidak terasa canggung.
"Besok akhir pekan. Kau ada acara, Tuan?" tanyaku.
Dia menggelengkan kepala tanpa menjawab, membuatku merasa tidak enak sendiri. Segera saja kurebahkan kepala ini di bahunya. Aku menyadari hal apa yang harus kulakukan jika pria sudah marah. Bermanja ria.
"Tuan, maaf. Aku masih butuh waktu. Kita jalani saja, ya." Aku meminta seraya menatapnya. Aku juga menggembungkan pipi ini agar dia tidak marah lagi padaku.
__ADS_1
Dia menatapku, memerhatikan wajahku lalu kembali fokus ke depan. Perlahan-lahan satu tangannya memegang tanganku. Dan tangan lain tetap fokus menyetir. Aku merasa dia sungguhan mencintaiku. Tidak ada kepura-puraan.
Entahlah benar atau tidaknya. Aku juga tidak tahu. Aku masih ragu untuk menebak apa isi hatinya.