
Setengah jam kemudian...
Malam ini langit dipenuhi bintang, tidak ada awan mendung berarak di angkasa. Sungguh indah pemandangan langit malam ini, mungkin seindah hatiku sekarang. Begitu indah karena bisa bergandengan tangan dengannya.
Jackson mengajak ku masuk ke salah satu hotel mewah. Aku pikir dia akan mengajak ku bermalam di sini. Tapi nyatanya, aku salah. Dia mengajak ku ke lantai paling atas dari gedung ini. Dan kini kami baru saja keluar dari lift dengan masih bergandengan tangan.
Malam ini kami seperti pacaran sungguhan. Bukan seperti rekan kerja yang sedang ingin menemui relasinya. Pakaian yang kami kenakan seperti pakaian kencan orang dewasa. Dan aku sangat terpukau dengan ketampanannya. Dia amat tampan sekali.
"Silakan, Tuan."
Jackson ternyata mengajak ku ke sebuah restoran ekslusif yang berada di lantai teratas gedung ini. Namun, tidak di dalam restorannya, melainkan di atapnya. Jackson mengajak ku ke teras atap gedung. Dan saat pelayan mengantarkan kami, kulihat ada satu set meja makan berserta sofa untuk bersantai. Sepertinya dia sudah mempersiapkan hal ini sebelumnya.
"Tuan, ini?"
Aku tidak tahu apa tujuannya mengajak ku kemari. Dia hanya diam, tidak berkata apapun. Namun, dia memberi tanda agar aku duduk di kursi. Dan akhirnya kami duduk berhadapan di depan meja makan ini.
Sebagai seorang wanita dan juga bawahannya, tentu saja aku harus memberikan pelayanan yang terbaik tanpa perlu diminta. Saat kami duduk, aku segera mengambilkan sajian dan juga menuangkan air minum untuknya. Kulihat Jackson memperhatikanku dengan saksama.
Tuan, tak apa ya jika malam ini aku mencurahkan isi hatiku?
Lantas kunikmati makan malam ini dengan mencicipi udang tepung yang telah disajikan. Rasanya begitu berbeda, kaya akan rempah dan tidak ada duanya. Benar-benar luar biasa.
Malam ini rambutku memang sengaja dibiarkan tergerai. Dan karena hal itu rambutku tersapu angin, sehingga membuat waktu makanku sedikit terganggu. Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba saja dia membantu menyampirkan rambutku ke belakang telinga. Di saat itu juga jantungku berdetak tak karuan. Aku seperti sedang berkencan sungguhan dengannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan setelah ini." Dia berkata dengan ekspresi datar.
Sungguh dia bersikap datar saja aku sudah suka, apalagi jika tersenyum padaku. Hatiku serasa tak karuan di depannya, seperti ingin lari saja. Jackson begitu memukau pandangan mataku.
Kuakui jika di kantor dia amat dingin. Jarang sekali bicara dan sekali bicara hanya sepatah dua patah kata. Raut wajahnya pun begitu muram, seperti tidak peduli. Namun, di depanku dia sedikit berbeda. Atau ini hanya sebatas perasaanku saja? Sungguh aku ingin mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya.
"Baik, Tuan." Aku mengiyakan seraya tersenyum padanya.
__ADS_1
Lantas kami menyelesaikan makan malam dengan hati yang berdebar. Di depanku kini ada seorang bos besar yang disegani kawan maupun lawan. Dia adalah Jackson Baldev, pria yang menjadi target sasaran untuk kutaklukkan. Namun, pada kenyataannya malah aku yang ditaklukkan olehnya.
Dua puluh menit kemudian...
Teras atap gedung ini begitu sepi. Tidak ada orang lain selain kami. Seusai makan malam, barulah pelayan datang membereskan meja makan. Dan Jackson memesan makanan untuk dibawa pulang. Cukup banyak jika untuk dihabiskan sendiri. Mungkin selera makannya sedang bagus hari ini.
Kini kami duduk di sofa panjang dengan sedikit berjauhan. Mungkin lebih tepatnya aku yang sedikit menjauh karena tidak enak jika terus bermanja padanya. Lagipula perutku sudah kenyang, khawatir jika tiba-tiba bersendawa. Nanti yang ada dia malah tertawa mendengarnya.
"Aku ingin bertanya padamu, Cecilia." Dia menghidupkan puntung rokoknya.
"Tentang apa, Tuan?" tanyaku yang duduk di sebelah kanannya.
"Tentang semua hal sebelum ini." Dia berkata lagi.
Seketika aku menelan ludah sendiri. Rasa-rasanya percakapan malam ini akan membuka semua kebenaran tentang diriku.
"Tanyakan saja, Tuan. Sebisa mungkin aku akan menjawabnya." Aku berlagak tenang, padahal hati sudah dag-dig-dug tak karuan.
Dia menanyakan siapa yang mengenalkan aku kepada istrinya?!
Jackson malam ini seperti ingin menginterogasiku. Entah apa maksudnya, aku tidak tahu. Namun, aku ingin meminta imbalan dari pertanyaan yang diajukannya kepadaku.
"Tuan, apakah Anda akan melepaskanku jika menjawabnya dengan jujur?" tanyaku, meminta kepastian.
Dia menatapku tajam.
"Em, maksudku ... apakah setelah semua pertanyaan kujawab, Anda dapat mengampuni kesalahanku?" Aku merendahkan diri di hadapannya.
Dia memutar sedikit tubuhnya ke arahku. "Cecilia, aku sangat menghargai kejujuran. Bagaimana sikapku ke depannya, sesuai dengan bagaimana kejujuranmu padaku. Kau mengerti?" Nada bicaranya seperti membunuhku.
Aku lantas mengangguk, menelan ludah karena takut. Jackson sudah berubah menjadi dirinya yang lain. Dia tidak berlaku lembut lagi padaku.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Aku akan menjawabnya dengan jujur." Akhirnya aku menyerah kepadanya. "Aku mengenal nyonya Zea dari temannya temanku," jawabku padanya.
"Begitu. Bagaimana proses perkenalan kalian?" tanyanya dengan raut wajah amat serius.
"Em, aku ... mendapatkan pekerjaan karena temanku sudah pensiun. Jadi dia memberikan pekerjaan ini padaku." Aku terus terang padanya.
"Pensiun?" Dia menatapku penuh curiga.
"Benar, Tuan. Temanku sudah menikah, jadi dia memutuskan untuk tidak melakukan pekerjaan ini lagi. Dan akhirnya aku yang mengambilnya." Aku menjelaskan.
Jackson mengangguk pelan lalu mengembuskan asap rokoknya ke atas. Gaya merokoknya memang seperti bos besar. Dia amat menjaga setiap gerak-geriknya. Sangat santai namun mematikan.
"Lalu bagaimana jika kau berada di posisi temanmu?" tanyanya tiba-tiba.
Sontak aku merasa pertanyaannya ini seperti ingin menyelidiki diriku yang sesungguhnya. Dia bertanya bagaimana jika aku sudah menikah, apakah akan tetap melakukan pekerjaan ini? Sungguh dia sudah tahu jawabannya, tapi sepertinya ingin mendengar langsung dariku.
"Tuan, jika sudah menikah aku tidak akan mungkin menerima pekerjaan ini. Aku sudah menjadi milik suamiku dan harus patuh padanya. Aku tidak mungkin mengkhianati teman hidupku sendiri." Kuutarakan isi pikiranku.
"Bagaimana jika suamimu tidak mempunyai pendapatan yang cukup, sedang bayaran dari pekerjaan ini amat besar kau dapatkan? Apakah kau tetap tidak akan menerima pekerjaan ini?" tanyanya lagi.
Aku mengambil napas dalam agar bisa tenang dalam menjawab pertanyaannya. "Tuan, aku mencintaiku suamiku. Kurang atau lebihnya tetaplah suamiku. Jika dia tidak mempunyai pendapatan cukup, aku akan bekerja. Itu pun jika dia mengizinkannya. Aku akan membantunya mencari tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami. Karena aku ingin selamanya bersama suamiku, suka atau duka. Aku hanya ingin satu untuk selamanya."
Aku mengatakannya dengan sepenuh hati, hingga tanpa sadar air mataku jatuh menetes membasahi pipi. Jackson pun melihatnya, dia segera mengambilkan tisu untukku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku terima saja tisu darinya lalu mengusap air mata ini.
"Kau punya keluarga?" tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala seraya menyeka air mataku.
"Punya saudara di kota ini?" Dia bertanya lagi padaku.
Aku masih menggelengkan kepala.
__ADS_1
Lantas kudengar dia mengembuskan napasnya dengan berat, seperti sedang berpikir tentangku.