Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kok, Kamu Lagi?


__ADS_3

...Oliver...



.........


Pukul satu siang...


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi, Tuan, Cecilia."


Aurel berpamitan padaku dan Oliver setelah tahu apa tugasnya di perusahaan ini. Dia menebarkan senyuman yang tidak biasanya. Seperti sedang ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak boleh diketahui orang lain. Entah apa itu, aku mencoba tidak peduli. Aku fokus saja dengan apa yang diperintahkan Jackson padaku.


Aurel keluar ruangan. Oliver lalu menyerahkan satu map kepadaku. Map berwarna hitam yang entah apa isinya. Dia kemudian meneguk teh yang telah disediakan sekretarisnya tadi.


"Nona, tuan Jackson telah membeli saham atas namamu sebanyak seratus milyar. Dan kini kau berhak atas 2,3 % saham yang ada di Angkasa Grup. Kau bisa ikut andil di perusahaan ini." Oliver memberi tahuku.


Apa?! Seratus milyar?!!


Sungguh kaget bukan main hatiku saat mengetahui kabar ini. Jackson benar-benar membuktikan ucapannya. Dia telah membeli saham Angkasa Grup atas namaku. Seratus milyar, nilai yang begitu fantastis untukku.


Dia begitu percaya. Jackson benar-benar nekat.


Sejujurnya aku sama sekali tidak mengerti dunia bisnis. Tapi kini entah mengapa aku merasa seperti mempunyai tanggung jawab yang begitu besar terhadap perusahaan dan juga dirinya. Aku seperti terikat dan tidak bisa lari lagi. Jackson telah mengunciku dengan kekuasaannya.


"Baiklah. Lalu apa yang bisa kubantu?" tanyaku, pura-pura mengerti dunia bisnis ini.


Oliver menghela napas panjang. Penyakitnya seperti mulai kambuh. "Nona bisa melihat daftar pemegang saham Angkasa Grup. Semua nama dan identitas pemegang saham ada di map ini. Ke depannya, Nona bisa menyumbang pikiran untuk kemajuan perusahaan. Selamat bergabung, Nona Cecilia."


Oliver beranjak berdiri lalu mengajakku berjabat tangan. Dia mengucapkan selamat padaku seraya tersenyum. Aku pun seperti ragu-ragu untuk membalas jabatan tangannya.


"Jangan sampai seujung kuku pun dia menyentuhmu."

__ADS_1


Kata-kata itu teringat kembali di benakku. Seolah menegaskan jika aku tidak boleh membalas jabatan tangan Oliver.


"Em, maaf. Terima kasih atas ucapan Anda, Tuan Oliver." Kuletakkan tangan kanan di dada sebagai balasan untuk jabatan tangannya.


Oliver terdiam. Dia seperti kaget melihat sikapku. Entah apa yang dia pikirkan, pria tua itu sepertinya menyadari sesuatu tentangku dan juga Jackson. Namun, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut.


"Baiklah, Nona Cecilia. Mulai hari ini kau punya ruangan sendiri. Ruangmu berada di dekat pintu masuk lantai ini. Dokumen tentang Angkasa Grup akan secara bertahap diberikan kepadamu. Nanti kau bisa mengeceknya sendiri." Dia menjelaskan.


"Baik." Aku pun mengangguk.


"Kalau begitu, aku permisi. Aku ada urusan di luar kantor dan mungkin tidak akan kembali. Aku titip perusahaan padamu, Nona." Oliver tersenyum padaku.


Aku juga tersenyum lalu beranjak berdiri. Kuantarkan dirinya sampai ke depan pintu ruangan. Dia kemudian berpamitan lalu segera melangkahkan kaki dari hadapanku. Sepertinya dia mempunyai urusan yang sangat penting di luar sana sehingga tidak bisa lagi kembali ke kantor. Entah apa, aku fokus ke kerjaan saja.


Jam pulang kantor...


Hari ini aku bisa membaca semua dokumen utama milik Angkasa Grup. Siapa saja pemegang saham yang ada di sini dan siapa saja yang paling sering bekerja sama untuk membangun atau merancang sebuah lokasi. Dan ya, aku pikir Oliver memang sudah harus pensiun dari pekerjaannya. Selain sudah tua, dia juga mempunyai penyakit yang pasti akan berpengaruh besar terhadap kinerjanya.


Jackson juga tidak mengabariku sejak terakhir menelepon. Mungkin dia sedang mengadakan rapat di kantornya. Atau mungkin dia sedang sibuk di luar mengecek dana pasar. Kalau dipikir-pikir, dia memang tidak mempunyai waktu untuk bermain-main dengan banyak wanita. Waktunya diisi dengan aktivitas kerja semua. Ya, paling-paling pukul sepuluh malam baru bisa sampai di rumah.


"Akhirnya bisa pulang juga."


Kulihat jam sudah menunjukkan hampir pukul enam sore. Aku pun bergegas dari ruang kerjaku agar bisa segera pulang. Aktivitas hari ini memang tidak terlalu melelahkan. Hanya sekedar mengobrol, membicarakan pekerjaan dan membaca beberapa dokumen. Tapi mungkin karena yang di perut sedang tumbuh-kembang, jadinya aku tidak mempunyai banyak tenaga untuk lama-lama bekerja. Ya sudah. Kulangkahkan kaki menuju lantai bawah bersama yang lainnya.


Sesampainya di lantai satu Angkasa Grup...


Dering ponsel menyadarkanku jika ada panggilan masuk yang harus segera kuterima. Baru saja sampai di dekat pintu keluar, ponselku berdering nyaring. Untung saja sudah tidak terlalu banyak orang, jadinya tidak membuat bising. Ponsel memang sengaja dideringkan agar dapat segera terjaga dari aktivitas yang sedang dilakukan. Dan kulihat Jackson lah yang meneleponku.


"Halo?" Aku mengangkat teleponnya segera.


"Di mana, Babe?" tanyanya padaku.

__ADS_1


"Masih di Angkasa Grup. Baru saja mau pulang, Tuan." Aku menjawabnya.


"Jalanan macet. Supirku tidak bisa menjemputmu. Naik ojek saja," katanya.


What?!!


Seketika aku terkejut dan juga ilfeel mendengarnya. "Em, Tuan. Tidak perlu khawatir. Aku sudah besar. Aku pulang dulu, ya. Nanti disambung lagi," kataku.


Kumatikan segera teleponnya. Aku tidak ingin berlama-lama di sini karena khawatir hari terburu malam. Aku pikir Jackson tadi akan menawarkan diri untuk menjemputku. Tapi tahunya dia malah memintaku untuk naik ojek. Sungguh mengesalkan sekali. Hatiku meronta ingin diperlakukan lebih, tapi nyatanya tidak sesuai ekspektasi.


Cecilia, jangan terbawa perasaan. Jackson memang begitu.


Lantas kulangkahkan kaki menuju pos satpam yang ada di depan. Kulewati halaman parkir gedung sambil mendengus kesal. Aku ingin mampir sebentar ke kafe terdekat sebelum pulang. Kali-kali saja bisa menenangkan hati dari ulahnya yang membuatku kesal. Namun, alangkah terkejutnya diriku saat melihat Alexander tengah mengobrol bersama satpam gedung ini. Pria berkemeja hitam itu tersenyum saat melihatku.


Oh, ya ampun. Kenapa dia ada di sini lagi?


Aku ingin berbalik arah untuk menghindarinya. Tapi sepertinya hal itu tidak bisa kulakukan. Alexander segera berjalan menghampiriku sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Kuakui jika dia tampan dan juga berwibawa. Tapi, aku tidak boleh sampai tergoda olehnya.


"Nona Cecilia." Dia menyapaku.


Aku bingung harus bagaimana. Bisa-bisanya bertemu kembali dengannya. Padahal sebisa mungkin aku menghindarinya. Entah ini ujian atau cobaan. Entah ini juga takdir yang sudah digariskan. Aku merasa dia selalu ada di mana-mana.


"Tuan, Anda di sini?" Aku bertanya padanya.


Dia menebarkan senyumannya padaku. "Em, ya. Aku memang sengaja menunggumu pulang. Boleh kuantar?" tanyanya seraya melihatku.


.........


...Alexander...


__ADS_1


__ADS_2