
Setengah jam kemudian...
Aku keluar dari mobil dengan tubuh terhuyung-huyung. Kepalaku pusing, rasa mual pun kembali menerjangku. Jackson tidak lagi memikirkan bagaimana kondisiku jika sudah marah. Dia berbuat seenaknya tanpa peduli dengan akibatnya. Dan kini aku hanya bisa menurut, mengikutinya masuk ke dalam hotel bintang lima yang ada di tengah kota. Aku mengekor padanya sambil memijat dahiku sendiri.
"Tuan, aku lelah."
Sedari tadi berjalan mengikutinya, dia tidak memedulikanku yang berada di belakangnya. Dia terus saja berjalan, seolah-olah aku ini tidak ada. Dia kejam sekali, tidak ingat bagaimana sikapnya yang begitu manja saat memadu kasih bersamaku. Semuanya serasa jadi tak berarti.
Menyebalkan!
Sedari tadi kami hanya berdiaman. Aku sudah mencoba bicara, tapi tidak ada satu katapun yang ditanggapi olehnya. Entah mengapa aku tidak tahan jika terus disikapi seperti ini. Aku juga manusia yang mempunyai hati. Jika didiamkan berlama-lama rasanya tidak enak sekali.
"Tuan!"
Jackson terus saja melangkahkan kaki hingga masuk ke natatorium hotel, sebuah kolam renang dalam ruangan yang bisa untuk melihat pemandangan langit malam hari. Sekeliling kolam terdapat kursi berjemur dan juga bunga pot yang berwarna-warni. Aku jadi betah melihat pemandangan ini. Lekas saja aku duduk di salah satu kursi berjemur, berniat melepaskan lelah sehabis berjalan cukup jauh. Tetapi saat itu juga...
"Suruh siapa duduk?!" Dia menatap dingin ke arahku yang hampir menempelkan pantat di kursi ini.
"Tuan, aku lelah. Kau tidak kasihan apa?" Aku memelas padanya.
Jackson tidak menjawab pertanyaanku, dia malah menghidupkan puntung rokoknya. Dia merokok dengan jarak yang sedikit jauh, mungkin ada sekitar tiga sampai lima meter dariku. Dia juga masih berdiri, sama sepertiku. Dia mengembuskan asap rokoknya dengan raut wajah dingin menatapku.
Bisa-bisanya dia seperti ini setelah melalui malam yang indah bersamaku.
Jackson menoleh ke arahku. Tatapan matanya menyiratkan kekesalan yang seperti sulit untuk diungkapkan. Aku tahu jika telah membuat kesalahan, tapi haruskah disiksa dengan tidak boleh duduk setelah berjalan cukup jauh? Dia tega sekali.
"Kau datang ke sana tanpa pamit padaku. Apa menurutmu itu baik, Cecilia?" Dia bertanya lalu duduk di kursi. Aku pun ikut duduk. "Suruh siapa duduk?!" Dia memarahiku yang ingin ikut duduk.
Arrghh. Dia mengesalkan sekali. Lama-lama kulempar sepatu hak tinggi. Seenaknya duduk sedang aku tidak boleh. Jika bukan karena cinta, pastinya sudah kutinggalkan begitu saja.
__ADS_1
Kadang aku bingung menghadapi si kulkas dua fungsi ini. Kadang menghangatkan, kadang juga membuat menggigil kedinginan. Aku tidak tahu harus bagaimana, karena sepertinya semua tindakanku salah di matanya. Entah jika kami sudah berumah tangga, apa dia akan tetap seperti ini juga?
"Baiklah. Kalau tidak boleh duduk di kursi, aku duduk di lantai saja."
Akhirnya aku mengalah, merendah di hadapannya dengan duduk di lantai, di pinggiran kolam ini. Kulepas high heels lalu mengurut kakiku. Kutahu jika tidak akan pernah bisa menang melawannya. Jadi, aku mengalah saja. Biarlah aku terlihat menderita, asal dia tidak merubah pikirannya. Aku takut Jackson melepas tanggung jawabnya lalu pergi begitu saja.
Sabar, Cecilia.
Kulihat sekilas dirinya yang tengah memerhatikanku. Dia menginjak puntung rokoknya lalu menghela napas panjang di hadapanku. "Aku sudah memintamu untuk beristirahat di rumah. Tapi kenapa malah membantah?" tanyanya seraya melihat ke arahku.
Aku melihat ke arahnya lalu menundukkan pandangan lagi. "Aku dipaksa Clara, Tuan," jawabku singkat sambil terus mengurut kakiku.
Kulihat dia diam sejenak lalu mengambil ponselnya. "Di mana kau, Clara?" Jackson ternyata segera menelepon Clara.
Astaga ... dia menanyakan langsung kepada Clara?!
"Aku di rumah, Tuan. Apakah ada pekerjaan untukku?" jawaban dari seberang terdengar saat loud speaker dihidupkan.
Seketika rasa curiga muncul saat mendengar jawaban itu. Clara seperti ingin mengajak ku bermain api.
"Cecilia sulit dihubungi, apa dia ada di sana?" tanya Jackson lagi. Jackson ingin mengetahui kebenaran yang terjadi.
"Tidak ada, Tuan. Aku di rumah sedari tadi. Cecilia juga belum tahu di mana rumahku," jawab Clara cepat.
Jackson kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Dia menatap ke arahku. "Mau alasan apa lagi?" tanyanya seperti menyudutkanku.
Aku beranjak berdiri. "Tuan, sungguh Clara berbohong. Jelas-jelas tadi dia menjemputku di kafe dan pergi bersamaku ke acara itu. Tidak mungkin dia ada di rumah. Dia berbohong!" Aku membela diri.
Jackson menghela napas, dia terlihat menelepon seseorang lagi. Dan tanpa perlu menunggu lama, teleponnya itu segera diangkat. Dia kemudian berkata, "Cepat cari Clara di acara Hadden, sekarang juga. Temukan dia bagaimanapun kondisinya." Jackson memerintahkan seseorang yang entah siapa itu untuk mencari Clara di acara dansa milik Hadden.
__ADS_1
Aku menelan ludah. Rasa-rasanya firasatku tak enak mengartikan sikap Clara selama ini. Dia seperti mempunyai maksud tersembunyi di belakangku. Namun sayangnya, aku tidak tahu apa itu. Yang kutahu Jackson sedang marah padaku sekarang karena merasa telah dibohongi lagi.
Aduh, apa yang harus kulakukan?
Tak lama kulihat Jackson mengangkat telepon masuknya. "Bagaimana?" Dia kembali menghidupkan loud speaker di hadapanku.
"Clara tidak ada di acara pesta tuan Hadden, Tuan," kata seseorang dari seberang.
Apa?!! Astaga ....
Saat itu juga aku terbelalak kaget mendengarnya. Tak percaya jika Clara tidak ada di pesta itu. Jackson pun segera mematikan sambungan teleponnya. Dia melangkahkan kaki ke arahku dengan tatapan membunuh.
"Sampai kapan kau akan terus berbohong, Cecilia?" tanyanya yang kini bertatapan muka denganku.
"Tuan, aku tidak berbohong. Sungguh aku diajak Clara." Aku mencoba meyakinkannya.
Dia membuang pandangannya lalu kembali menatapku. Namun, dia tidak berkata apa-apa. Mungkin dia kesal tapi tidak bisa melampiaskan karena sedang menjaga kerja kerasnya. Aku pun seperti bingung untuk menjelaskan mengapa bisa hadir di acara Hadden tadi.
Oh, ya ampun. Adakah cara aman untuk keluar dari situasi ini?
Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana. Jackson sudah marah dan seperti tidak menaruh kepercayaannya lagi padaku. Mungkin karena dulunya aku banyak berbohong, jadi dia tidak percaya. Ditambah Clara yang beralibi malam ini, seolah aku berbohong lagi. Lengkap sudah. Tinggal menunggu saja hal apa yang akan dia lakukan untuk menghukumku.
Jackson mengambil rokoknya, berniat untuk menghidupkannya. Namun, segera kutahan agar dia tidak merokok lagi. "Kenapa?" tanyanya dengan intonasi kesal saat aku menahannya.
"Tuan, jangan banyak merokok. Tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana jika menyusu saja?" tanyaku tanpa berpikir panjang.
Aku tidak tahu mengapa bisa berucap seperti itu. Perkataan itu keluar begitu saja dari mulutku. Kulihat Jackson menatap dalam wajahku. Dia menarik pinggangku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Kau merayuku, Cecilia?" Napasnya sampai terasa di permukaan pipi ini.
__ADS_1
"Tu-tuan, aku tidak—"
"Kita pulang ke apartemenku sekarang," katanya lalu melepaskanku. Sepertinya aku telah salah ucap malam ini.