Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Pertemuan


__ADS_3

Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku sendiri bingung langkah apa yang harus kuambil sekarang. Saat ini aku sedang berada di dalam mobilnya. Apa iya aku harus menyemprotkan parfum ajaib agar dia pingsan. Tentunya aku juga akan ikut pingsan karena ikut menghirup aromanya.


"Tuan." Lantas aku menatap wajahnya. Aku mencoba memberikan pengertian. "Maaf, aku tidak ada maksud untuk membuatmu kesal. Aku hanya khawatir jika ibu beranggapan lain tentang hubungan kita. Terlebih kita baru kenal." Aku menuturkan isi pikiranku.


Alexander masih memegang tanganku. Dia menatapku dalam-dalam. "Cecilia. Kumohon cobalah sekali-kali bersikap luwes padaku. Jangan menjaga jarak. Kau pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangku, bukan?" Dia menduga pikiranku.


Aku menggelengkan kepala, berusaha meyakinkannya. "Tuan, kita baru hitungan minggu kenal. Aku tidak mau memunculkan harapan." Aku jujur padanya.


Dia menghela napas panjang di depanku. "Baiklah. Jadi apa yang kau inginkan?" tanyanya seperti menyerah dengan keadaan. Dia juga melepaskan pegangan tangannya padaku.


Saat dia bertanya, saat itu juga aku diterpa kegelisahan. Aku bingung harus menjawab apa, seperti tidak menemukan jalan keluar.


"Ikut aku sebentar ke rumah ibu, lalu setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Dia berjanji kembali.


Aku menarik napas dalam-dalam. Aku berharap tidak salah dalam mengambil keputusan. "Baiklah. Tapi jangan lama-lama." Akhirnya aku memenuhi permintaannya.


Seketika dia terlihat amat senang. Wajahnya semringah sekali. Dia kemudian mencium tanganku, entah sadar atau tidak. Dia segera menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai melaju. Kulihat dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi. Mungkin dia amat mengkhawatirkan ibunya di sana. Ya sudahlah. Kita lihat saja bagaimana akhir ceritanya.


Beberapa saat kemudian...


Cuaca mendung mengantarkan kami ke pedesaan yang ada di pinggiran kota. Mungkin jika ditarik garis lurus dari ibu kota ke desa, jaraknya sekitar satu setengah jam perjalanan. Dan akhirnya kami pun tiba di sebuah halaman rumah yang minimalis. Terdapat banyak bunga-bunga pot di sini. Berbagai macam bunga menghiasi halaman. Dan semua bunga itu begitu tertata rapi. Sepertinya ibu Alexander memang suka bercocok tanam bunga hias.

__ADS_1


"Ayo masuk, Cecilia."


Alexander mengetuk pintu. Aku pun ikut berdiri di sisinya sambil menunggu pintu dibukakan. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk kami.


"Alexander?!"


Wanita itu mengenakan baju terusan berwarna hitam. Dia masih terlihat muda, mungkin belum menginjak kepala lima. Rambutnya disanggul dengan hiasan gelang mutiara di tangannya. Sepertinya dia adalah ibu kandung dari Alexander. Wajahnya mirip sekali.


"Ibu, aku datang. Kenalkan ini Cecilia."


Alexander memperkenalkan aku dengan wanita yang disebut ibu olehnya. Wanita itu pun seperti terkejut melihat kedatangan kami. Dia melihat ke arah Alexander dan aku secara bergantian. Dia sepertinya tidak percaya dengan kedatanganku kemari.


"So-sore, Tante." Aku bingung harus menyapanya dengan sebutan apa.


Seketika itu juga Alexander tertawa, mendengarku menyebut ibunya sebagai tante. Wanita itu pun terheran-heran melihatku, entah mengapa.


Aku melirik ke arah Alexander, namun Alexander semakin tertawa. Dia sepertinya merasa geli dengan sikapku saat bertemu ibunya. Pada akhirnya aku dan wanita itu saling melirik satu sama lain. Kami bingung berhadapan dengan siapa. Aku pun tak mengerti mengapa bisa jadi kaku seperti ini.


Lima belas menit kemudian...


Wanita yang disebut ibu oleh Alexander ternyata memang ibunya. Ibu Alexander sepertinya amat terkejut dengan kedatanganku. Dan kini aku sedang duduk berseberangan dengannya di sofa ruang tamu. Rumah ibu Alexander ini tampak minimalis dengan susunan perabotan rumah tangga yang rapi. Rumah ini juga terlihat luas walau tidak terlalu besar. Mungkin desain interiornya tidak bisa dibilang sembarangan walaupun di pedesaan. Dan sepertinya aku mulai menyukai tipe rumah seperti ini.


Alexander ternyata mengajak ku ke rumah ibunya yang ada di pedesaan. Dia mengambil jalur cepat dari pantai ke desa. Jarak tempuh perjalanan kami hanya sekitar empat puluh lima menit saja. Dan sesampainya di sini cuaca terasa lebih dingin, tidak seperti di ibu kota. Entah karena mau hujan atau memang cuacanya begini. Tapi, suara burung berkicau dari teras belakang mampu membuatku merasa tenang. Entah mengapa.

__ADS_1


"Silakan diminum, Cecilia."


Alexander membuatkanku teh. Dia membawa teko beserta tiga cangkir teh yang cantik. Dia juga membawa beberapa kue sebagai cemilan sore ini. Dan dia menuangkan teh untukku dan juga ibunya. Sedang aku hanya bisa terdiam tanpa bersuara. Aku merasa telah salah waktu datang kemari.


Alexander duduk di kursi tunggal yang ada di antara kami. Dia tersenyum lalu melihat ke arahku. "Panggil saja ibuku dengan sebutan ibu." Dia meminta. "Ibu tidak keberatan, bukan?" Dia bergantian bertanya kepada ibunya.


Ibu Alexander terlihat memijat dahinya sendiri. Sepertinya dia pusing dengan kedatanganku. Atau merasa heran dengan penampilanku? Wanita paruh baya berdres hitam itu tampak tak percaya jika anaknya membawaku datang kemari. Sedang aku ... aku lebih tak percaya dengan perasaan yang ada di hatiku.


Jadi begini rasanya berhadapan dengan calon ibu mertua?


Tiba-tiba saja pikiranku langsung tertuju ke arah sana. Apalagi? Saat pria membawa seorang wanita ke rumah, pastinya akan dikenalkan ke ibunya. Secara tidak langsung dia berkata, "Bu, ini calon mantu ibu."


Astaga. Memikirkannya saja aku merasa tak sanggup. Benarkah jika dia jodohku? Lalu bagaimana dengan Jackson? Kenapa dia belum muncul juga sampai sekarang? Apa dia rela aku diambil orang?


Ibu Alexander menghela napas di depanku. "Ibu pikir kau datang sendiri. Ternyata bersama Cecilia." Dia memulai perkataannya.


"Maaf, Bu. Aku khawatir jika tidak cepat datang kemari." Alexander menuturkan alasannya.


"Ya, ibu senang sekarang kau sudah sehat. Ibu juga tidak keberatan dipanggil ibu oleh Cecilia. Tapi, bagaimana dengan Cecilia sendiri? Apakah keberatan memanggil ibu dengan sebutan ibu?"


Ibu Alexander beralih kepadaku. Dia menatapku dengan lembut. Kasih sayang seorang ibu pun bisa kurasakan darinya. Sepertinya kerja keras Alexander untuk menarik perhatianku telah berhasil. Dia membuatku merasa nyaman. Dan kini dia membuatku merasa mempunyai seorang ibu.


Ya Tuhan, inikah perjalanan hidup yang harus kulalui? Hal yang kuinginkan akhirnya menjadi kenyataan. Tapi apakah semuanya ini murni? Sungguh aku takut jika semua ini hanya rekayasa. Aku takut terjatuh lagi.

__ADS_1


Aku tersenyum kepada ibu Alexander. "Cecilia tidak keberatan, Bu. Terima kasih."


Aku menjawabnya. Bersamaan dengan itu Alexander menatapku seraya menelan ludah. Sepertinya ini adalah pertanda awal untuk kami bersama. Entahlah, lebih baik jalani saja. Aku juga tiada berdaya untuk menolak skenario-NYA. Mau tak mau aku harus menerimanya.


__ADS_2