Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Relaks


__ADS_3

Sesampainya di apartemen...


Tepat pukul delapan malam, kami akhirnya sampai juga di apartemenku. Ternyata saat di parkiran, karyawan Alexander telah menunggu. Dia pun segera mengembalikan kunci mobil kepadaku. Dan saat ini karyawannya tengah menunggu Alexander selesai mengantarkanku.


"Tuan, terima kasih."


Kami berdiri di depan pintu. Kuserahkan segera jaketnya yang kupakai sedari tadi. Dan kulihat dia hanya diam saja, seperti enggan untuk berkata-kata. Entah mengapa aku merasa tak enak sendiri. Dia seperti kecewa karena aku belum menjawab pernyataan cintanya.


"Tuan, besok maukah berlibur bersamaku? Aku sudah senggang sekarang. Aku punya banyak waktu luang," kataku padanya.


Dia menunduk lalu menatapku lagi. "Cecilia, maaf jika aku terlalu memaksakan kehendak," katanya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Ti-tidak, Tuan. Aku malah senang bersamamu. Sungguh." Aku meyakinkannya.


Suasana kami terasa canggung sekali. Padahal baru saja ngedate untuk yang pertama kali. Ya, anggap saja jika di pasar seni tadi adalah ngedate pertama kami. Tapi entah mengapa, pulangnya malah terasa canggung seperti ini. Apakah aku harus bersikap luwes lagi?


"Besok aku akan menjemputmu. Tapi mungkin agak siang. Tak apa, ya?" tanyanya.


"Kau sibuk, Tuan? Kalau sibuk lain kali saja." Aku pun memakluminya.


"Tidak. Bukan begitu." Dia segera menepiskannya. "Aku hanya takut kau merasa risih karena selalu bertemu denganku. Aku tidak ingin membuatmu merasa kurang nyaman, Cecilia. Aku ingin memberikan kebahagiaan karena aku juga menginginkannya. Aku—"


"Tuan, jangan berkata seperti itu."


Belum sempat dia meneruskan kata-kata, aku segera menghambur ke pelukannya. Aku tidak peduli jika kami masih berada di koridor apartemen. Aku tidak ingin dia berprasangka yang bukan-bukan terhadapku. Aku tidak ingin melukai hatinya.

__ADS_1


"Aku hanya masih butuh waktu. Bisakah beri aku waktu?" tanyaku seraya mendengar alunan merdu detak jantungnya.


Aku memeluk Alexander. Kupeluk tubuhnya dan kurebahkan kepala ini di dada bidangnya. Harum tubuhnya seolah merasuk hingga ke dalam sanubariku. Detak jantungnya pun seakan mengiringi setiap hela napas ini. Aku tersadar jika mulai membutuhkannya. Tapi aku belum bisa memberikan jawaban. Aku masih membutuhkan waktu untuk memastikan apakah langkah yang kuambil ini benar? Aku tidak mau menjadikannya hanya sebagai bahan pelarian.


Sungguh aku ingin serius dalam menjalani hubungan sampai waktu yang memisahkan. Usiaku sudah cukup matang untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan aku ingin bahagia bersama keluarga kecilku. Aku tidak mau main-main lagi. Dan aku amat berharap Alexander dapat mengerti posisiku saat ini.


Dia membalas pelukanku, mengusap rambutku lalu memberatkan kepalanya ke kepalaku. "Besok aku jemput pukul sebelas, ya. Agar kau bisa beristirahat terlebih dulu. Nanti kita makan siang di pantai saja." Dia menjanjikan padaku liburan akhir pekan di pantai.


"Sungguh?" Aku pun menatap wajahnya.


Dia mengangguk. "Apapun yang kau minta selama aku bisa, aku akan memenuhinya, Cecilia." Dia mengucapkan kata-kata yang membuat dadaku terasa sesak.


"Tuan ...."


Aku pun tersenyum bahagia mendengarnya. Aku berharap tidak hanya sekedar janji manis atau bualan belaka. Jika dia memang serius padaku, maka aku akan lebih bisa serius padanya. Namun, ada satu hal yang masih aku khawatirkan sampai sekarang. Aku khawatir dia dan keluarganya tahu masa laluku. Apakah mereka akan mampu menerimanya?


Aku tahu jika Alexander butuh kepastian. Aku juga tahu jika dia lebih perasa dibanding Jackson. Hatinya lembut dan sikapnya amat penyayang. Aku amat beruntung jika bisa memilikinya. Tapi masalahnya, masih ada kendala di antara kami. Dan aku ingin menyelesaikannya terlebih dulu sebelum melangkah lebih jauh lagi. Aku ingin memastikan hidup tanpa rasa khawatir dicelakai orang. Aku ingin hidup tenang bersamanya.


"Hati-hati, Tuan."


Lantas aku melepaskan kepergiannya. Dia pun segera pergi dari hadapanku sambil melambaikan tangannya. Di berbalik lalu kembali fokus ke depan. Aku pun melihat bagaimana punggung kokohnya berjalan tegak di koridor apartemen ini. Membayangkan jika tangan kanan dan kirinya menuntun anak-anak kami. Rasanya pasti bahagia sekali.


Cecilia, dia sudah sejauh ini. Apalagi yang kau ragukan?


Aku pun segera mengambil kunci apartemenku. Kubuka pintu lalu segera masuk ke dalamnya. Kuhidupkan lampu dan mengunci pintu dari dalam. Aku ingin beristirahat sebelum dijemputnya esok hari. Semoga saja aku bisa memberikan keputusan agar dia tidak merasa digantung olehku. Aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir.

__ADS_1


Esok harinya...


Hari ini aku bangun lebih pagi. Entah mengapa lebih merasa semangat hari ini. Sejak jam enam tadi aku sudah berolahraga dengan berkeliling di sekitar kawasan apartemen ini. Seorang diri sih, tapi rasanya bahagia sekali. Dan kini aku sedang beristirahat dengan duduk-duduk di pinggir teras taman apartemen. Kulihat banyak orang lalu-lalang di jalanan sedang kendaraan masih sepi.


Aku memutuskan untuk hidup sehat setelah jiwa dan ragaku kacau-balau karena kejadian kemarin. Aku tidak ingin minum lagi, cukup di restoran Angela terakhir. Aku ingin menata hidupku yang porak-poranda karena cinta. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Cukup sudah aku terjebak ke dalam perangkapku sendiri. Aku ingin hidup yang lebih baik lagi.


Kadang aku merasa sedih dengan kisah ini. Baru pertama kali jatuh cinta sudah merasakan derita. Rasanya hidup tak adil. Seringkali kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan terkadang hati sulit untuk menerimanya. Tapi apalah daya, semua harus dijalani. Apapun yang terjadi dunia ini akan terus berputar sampai akhir nanti.


"Hah ... ternyata enak juga melihat pemandangan langit dari atas rerumputan taman."


Kutatap langit biru sambil merebahkan diri di atas rerumputan taman. Kebetulan masih sepi di sekitaran taman, jadinya aku cuek saja. Dan ternyata melihat langit itu bisa membuat masalah seolah terkikis sendiri. Aku merasa nyaman dengan kehidupan single-ku ini. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana dengan Alexander, ya?


Aku tidak tahu dia serius atau tidak padaku. Saat ini aku jalani saja karena belum mau merasa terikat lagi. Aku masih takut sakit hati. Tapi, sebisa mungkin aku akan mencoba membalas perasaannya. Ya, anggap saja sebagai ucapan terima kasih atas kebaikannya selama ini. Yang kuyakini jika dia benar-benar serius padaku, pastinya kami juga akan bertemu. Tapi untuk sementara ini jalani saja apa yang ada dengan suka cita.


Jam berapa ya ini?


Matahari mulai terasa terik. Lantas aku pun mengambil ponsel yang kubawa lalu melihat jamnya. Dan ternyata sudah pukul delapan saja. Lekas-lekas aku tinggalkan area taman lalu kembali ke apartemen. Aku ingin memanjakan diri dengan bermain busa sabun di dalam bathtub. Kucoba menikmati hari tanpa dirinya di sisi. Ya sudahlah.


.........


...Cecilia...



__ADS_1



__ADS_2