
Beberapa jam kemudian...
Satu per satu karyawan pulang ke rumah masing-masing saat sudah pukul sebelas malam. Dan kini tersisa hanya aku dan Jackson di gedung PT Samudera Raya. Kami akhirnya bisa beristirahat sejenak sebelum memeriksa laporan terakhir hari ini. Jackson ingin sebelum libur panjang semua sudah aman dan terkendali.
"Mau gantian dipijat?"
Ada saja ulah si bos mesum ini. Setelah semua karyawan meninggalkan kantor, dia mulai melancarkan aksinya padaku. Dia memintaku memijatnya sampai tanganku ini pegal. Karena bukan hanya punggung saja yang dipijat, tapi juga yang lainnya. Terkecuali yang itu.
"Tidak perlu. Nanti kau nakal." Akhirnya aku bisa merebahan diri di sofa ruang kerjanya.
Jackson memakai kembali kemejanya, celananya dan juga sabuknya. Dia sudah mandi tadi, sekitar jam sembilan malam. Dia mandi di kantor karena hari ini pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Jadi aku juga tidak enak hati jika pulang ke rumah. Karena si bos saja sampai lembur gila-gilaan.
"Baiklah. Aku buatkan kopi untukmu." Dia beranjak ke meja teh.
"Eh?!" Aku jadi heran padanya.
"Tidak apa. Kopi ini aman." Dia menyeduh kopi yang tidak kuketahui merek apa. Tapi sepertinya memang kopi yang dikhususkan untuk ibu hamil.
Astaga! Jadi dia mengira ...?!!
Kutelan ludahku. Sampai saat ini aku memang belum menceritakan yang sesungguhnya kepada Jackson. Aku masih memendamnya sendiri. Kami amat sibuk hari ini sehingga tidak ada waktu untuk bicara.
"Santailah sejenak." Dia memberi secangkir kopi yang telah dibuatnya.
Jackson mengajakku bersantai sambil menikmati pemandangan kota dari balik kaca jendela ruangan yang dibiarkan terbuka. "Clara bilang apa padamu?" tanyanya tiba-tiba yang membuatku teringat dengan apa yang Clara katakan tadi.
"Em, tidak bilang apa-apa." Aku mencoba menutupi.
Dia meneguk kopinya. "Aku tidak suka jika ada pria lain mendekatimu," katanya lalu menghidupkan puntung rokok.
"Tuan, aku tidak—"
"Ya, tetap saja. Jangan berpikir aku main-main." Dia seperti sedang menegaskan perkataannya padaku.
Sungguh aku merasa senang jika Jackson merasa memilikiku. Itu berarti dia juga akan menjaga perasaanku ke depannya. Tapi, sikap posesif dan over protektifnya tidak begitu kusukai. Aku jadi merasa terkekang olehnya. Ya, mungkin saja karena sebelum-sebelumnya hidup bebas, jadi merasa canggung saat menghadapi situasi seperti ini.
"Tuan, yang semalam meneleponmu?" tanyaku ingin tahu.
Jackson menjauhkan dirinya, duduk di sofa seberang. Mungkin dia tidak ingin aku sampai terpapar asap rokok.
__ADS_1
"Peter Liandra, ayah Zea." Jackson mengatakan sambil mengembuskan asap rokoknya.
Aku menelan ludah saat mengetahui jika ayah Zea yang menelepon Jackson waktu itu. "Lalu?" Aku ingin tahu lebih lanjut.
Jackson duduk santai, dia menatapku dengan tatapan seperti menahan tawa. Tapi aku diam saja karena masih menunggunya bicara.
"Kau khawatir?" tanyanya.
"Tentu, Tuan," jawabku segera.
Dia tersenyum. "Tidak perlu terlalu khawatir. Semua baik-baik saja. Peter tidak seperti anaknya yang bisa bersilat lidah," katanya lagi.
"Maksudnya?" Aku jadi semakin penasaran.
Jackson menghela napas seraya menatap ke arahku. "Kau begitu penasaran, Baby? Seberapa penting informasi ini untukmu?" tanyanya seperti menuduhku.
"Tuan, aku ingin tahu semuanya. Bukankah hal ini berkaitan juga dengan masa depanku?" Kuutarakan isi pikiranku pada Jackson.
Jakson menghisap puntung rokoknya seraya melirik ke arahku dengan lirikan nakal. Sorot matanya tertuju ke arah perutku. Sontak aku menutup perut ini karena merasa risih sendiri.
"Aku ingin banyak, kau sanggup?" tanyanya tiba-tiba.
"Baby, jika sudah bekerja aku tidak pernah setengah-setengah." Dia seperti menggodaku.
Ih, apaan sih dia ini?!
Lantas Jackson mematikan puntung rokoknya lalu mendekat ke arahku. Dia duduk di sampingku sambil merangkul lengan ini. Sedang satu tangannya memegang perutku.
"Aku tidak keberatan jika sehari harus lima atau tujuh kali," katanya, yang sontak membuatku menjauhkan diri.
"Dasar mesum!" Lekas-lekas aku menjauhkan diri darinya lalu kembali ke meja kerjaku.
Jackson memang tidak bisa diberi waktu luang karena pikirannya pasti ke mana-mana. Dia memang harus selalu bekerja agar tidak memikirkan hal itu saja.
Ya ampun, dia ini. Ternyata oh ternyata, wajah muramnya menipuku.
Kami akhirnya meneruskan pekerjaan. Aku membantu Jackson mengecek laporan hari terakhir. Setelahnya segera menginput ke dalam komputer agar didapatkan hasil akhir yang maksimal. Dan ternyata amat melelahkan setelah bekerja seharian. Aku jadi capek sendiri.
Pukul tiga pagi...
__ADS_1
Akhirnya tutup buku akhir tahun berjalan dengan lancar. Kami bisa segera pulang ke rumah dengan tenang. Dan kini aku baru saja masuk ke dalam mobil Jackson, berniat untuk pulang. Sedari tadi pria berwajah muram ini memperhatikanku yang sedang membantunya menutup buku akhir tahun. Entah apa yang dia pikirkan, mungkin dia terharu dengan kesungguhanku.
Lantas Jackson masuk ke dalam mobil setelah menghabiskan satu puntung rokoknya. Tapi dia tidak segera melajukan mobil untuk mengantarkanku. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya lalu diberikan padaku. Sontak aku terkejut dan penasaran dengan pemberiannya ini.
"Bukalah," pintanya saat memberikanku sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Jantungku berdegup kencang, hatiku riang dan juga deg-degan. Tak bisa kubayangkan jika Jackson memberiku cincin tunangan. Rasa-rasanya aku bisa melayang dalam sekejap. Namun, ternyata isinya...
"Anting?" Aku sedikit kecewa saat melihat isinya anting.
"Kau suka? Ini anting mutiara asli dengan logam emas murni," katanya.
Hah ... kirain cincin.
Sungguh yang kuinginkan adalah cincin, bukan anting. Jika anting aku juga punya banyak, berbagai jenis. Tapi tak apalah, mungkin Jackson hanya bisa memberikanku anting sebelum cincin itu diberikannya. Toh, antingnya juga serba asli. Mutiara asli dengan logam emas asli. Jadi ya sudah kuterima saja.
"Terima kasih, Tuan." Aku tersenyum kemudian mengecup pipinya.
Jackson juga tersenyum, dia lalu memakaikan antingnya padaku. Dia sendiri yang memakaikannya.
Tuan, kapan cincin itu akan kau berikan padaku?
Setelah memakaikan antingnya, Jackson mencubit pelan pipiku. "Kucicil boleh?" tanyanya yang membuat sifat manjaku keluar seketika.
"Tuan ...." Aku pun segera bergelayut manja di pundaknya.
"Kita ke rumahmu." Jackson kemudian melajukan mobil ke rumah kontrakanku di dekat kantor.
Pagi-pagi buta Jackson memberikan kejutan padaku. Rasanya begitu nyes-nyes di hati ini. Jangan salahkan aku jika semakin mencintainya, tapi salahkan dia yang memanjakanku.
Jackson-Jackson, jangankan dicicil. Diberi janji saja aku sudah sangat senang. Dasar, Cecilia. Sudah tidak tahan punya gandengan.
Sesampainya di rumah kontrakan...
Jackson langsung merebahkan diri di kasur kamarku. Dia sudah sangat kelelahan. Aku pun merebahkan diri di sampingnya tanpa mengganti pakaian terlebih dulu. Kutemani pria berwajah muram ini tertidur, sambil memandangi wajahnya. Aku pun tersenyum sambil membayangkan suatu hari nanti bisa memilikinya. Andai itu terjadi, tentunya aku amat bahagia.
Tuan, apakah hanya aku satu-satunya wanita yang bisa melihatmu seperti ini?
Kupandangi wajah Jacksonku. Dia sepertinya amat kelelahan sampai tidurnya mendengkur. Lantas aku pun menarik selimut lalu mulai memejamkan mata. Aku tidur di sampingnya sambil berharap mimpi itu menjadi nyata. Hidup bahagia bersama Jackson, melahirkan anak-anaknya dan berumah tangga sampai akhir masa. Aku mencintainya, Jackson Baldevku.
__ADS_1