Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tidak Akan Terlupakan


__ADS_3

...Cecilia dan Jackson liburan di pantai...







.........


Deru ombak menemaniku di atas kapal pesiar yang datang menjemput. Jackson ternyata menelepon seseorang untuk menyewa kapal pesiar. Katanya sih dia ingin menyelam di tengah laut untuk melihat keindahan terumbu karang yang ada di sini. Sekalian latihan pernapasan agar lebih panjang. Tapi sampai sekarang dia masih bergelayut manja padaku di atas anjungan kapal ini.


"Katanya mau menyelam?" tanyaku seraya menoleh sedikit ke arahnya.


"Nanti saja. Aku masih ingin menghirup udara segar," jawabnya.


Jelas-jelas sedari tadi dia menghirup bahuku, memelukku dari belakang dan mencium bahuku ini. Kedua tangannya pun melingkar di perutku dan susah sekali untuk dilepaskan. Sampai-sampai aku merasa geli karena terkena kumis tipis dan deru napasnya yang menerpa permukaan bahuku.


"Cecilia." Dia menyebut namaku.


"Apa?!" tanyaku ketus padanya.


"Hei, tidak bisa lembut? Ingin kuhukum?" Dia seperti mengancamku.


Sejujurnya aku ingin meminta kembali status darinya. Tapi rasanya hal itu tidak akan dia berikan. Untuk saat ini aku hanya bisa menjadi tempat pulangnya, belum menjadi tempat tinggalnya. Aku ingin sekali ada status yang jelas di antara kami. Tapi aku juga sadar diri siapa aku di cerita ini.


"Maaf," kataku seraya menunduk.


Jarinya langsung menarik daguku agar melihat ke arahnya. "Cecilia." Dia memperhatikan bibirku. "Kau telah membuatku gila," katanya lalu mencium bibir ini.


Tuan ....


Jackson lagi-lagi menciumku. Di atas kapal pesiar dia memelukku sambil mencium bibir ini. Aku pun seperti tidak dapat melawannya. Kubalas ciumannya lalu melakukan hal yang sama. Kuakui jika tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Toh, dia sudah mengetahui semuanya.


Dia kemudian membalikkan tubuhku, menghadapnya. Membelai wajahku dengan jari-jemarinya lalu mengusap bibir merahku ini. Dia memperhatikan setiap apa yang ada di wajahku.


Tuan, sebenarnya apa yang kau inginkan?

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Yang kutahu kini kami sedang bersama. Lantas aku pun mencoba untuk mengusap wajahnya, bibirnya, lalu turun ke lehernya. Jari-jemariku menyusuri tubuhnya. Aku membelai dada bidangnya yang semalam menghimpit dadaku dengan kehangatan. Jackson telah berhasil meluluhkan hati ini.


"Tuan, kau orang yang berkuasa. Kenapa tidak mencoba membantu untuk mencari ayah dan ibuku?" tanyaku padanya. Menjelang siang ini aku mencoba mengorek sedikit tentang isi hatinya.


"Sudah kubilang status itu tidak penting, Cecilia." Dia menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang mengejutkan.


"Ja-jadi?"


"Selama merasa nyaman, kenapa tidak?" Dia seperti memberiku angin segar.


Seketika itu aku tersenyum padanya, sedang Jackson masih menatapku erat. Saat ini kami terasa begitu dekat sekali. Tidak ada jarak dan penghalang lagi di antara kami. Walaupun pada kenyataannya, aku bukanlah siapa-siapa baginya. Ya, anggap saja saat ini sedang berpura-pura menjalin cinta.


"Tuan, bagaimana jika aku jatuh cinta sungguhan padamu?" tanyaku seraya mengusap wajahnya.


"Jadi selama ini bohongan?" Dia balik bertanya padaku.


Err ... sepertinya aku telah salah bicara. "Em, Tuan. Maksudku bukan seperti—"


"Mmmuachh."


Lagi, belum sempat meneruskan kata-kata Jackson mengecup bibirku lagi. Mungkin dia sudah tahu bagaimana perasaanku padanya. Hanya saja dia belum bisa memutuskan bagaimana langkah ke depannya untuk hubungan kami.


Lantas aku memeluknya. "Tuan, jangan sakiti aku," pintaku seraya merebahkan kepala di dadanya.


Aku berharap selalu bisa mendengar detak jantungmu, Tuan. Aku sudah terlanjur basah. Tolong aku.


Menjelang siang ini kami berpelukan di atas kapal pesiar, seperti mencurahkan perasaan yang tengah bersemi di hati. Aku pun merelakan diri ini didekapnya, disentuhnya, dibelainya. Aku rela karena aku cinta. Kuakui cinta ini memang tidak mengenal logika. Dan aku mengalaminya sendiri.


Beberapa jam kemudian...


Lama sudah kami bermain di tengah laut. Jackson mengajariku bagaimana cara bernapas panjang di dalam air. Dia mengajariku menyelam tanpa alat pengaman sama sekali. Katanya sih latihan jika tiba-tiba harus menceburkan diri untuk menyelamatkan nyawa dari incaran musuh. Jadi ya aku menurut saja. Kebetulan aku bisa mengambang di dalam air.


Setelah menyelam, kami akhirnya kembali ke vila di tepi pantai. Kami segera membasuh tubuh yang sehabis panas-panasan ini. Dan ternyata, Jackson tidak ingin mandi sendiri, dia ingin ditemani olehku. Dan ya, tahu sendiri bagaimana dirinya. Pasti saja minta lebih jika ditemani. Dia tidak kira-kira jika memerintah orang.


Kini kami baru saja selesai mandi dan menghanduki rambut. Aku mengenakan setelan pakaian berwarna biru dengan bawahan rok seperti tadi. Kuikat saja bagian perutnya agar terlihat seperti pakaian pantai. Jackson juga kembali mengenakan kaus oblongnya yang berwarna hitam. Tulisan di kausnya itu membuat hatiku GR sendiri. A better you, lebih baik kamu.


Ah! Jadi GR!


"Kita makan siang dulu. Sudah jam satu." Jackson mengajak ku keluar vila.


"Makan di mana?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Di dekat ayunan," jawabnya, lalu mengulurkan tangan kepadaku.


Aku pun segera menyambut uluran tangannya. Aku menurut saja apa yang dia katakan. Kutunjukkan jika aku adalah calon istri idaman. Terserah bagaimana nantinya, yang jelas saat ini aku masih bersamanya. Tinggal bagaimana mempersiapkan diri untuk menemui konsekuensi terbesar karena hubungan ini. Dan aku berharap aku siap menghadapinya.


.........


...Jackson...



.........


Di pesisir pantai...


Di bawah pohon rindang kami menyantap makanan yang Jackson pesan lewat kapal pesiar. Hidangan laut khas restoran yang ada di seberang pulau ternyata begitu menggugah selera hingga semuanya habis tersantap oleh kami. Ini pertama kalinya kami makan tanpa malu-malu. Entah mengapa saat di pantai memang bawaannya terasa lapar. Dan ya aku juga tanpa segan menghabiskan semua yang disajikan.


Setelah menyantap makan siang, Jackson mengajak ku berjalan-jalan di pesisir pantai sambil membawa kamera digitalnya. Kami berfoto-foto di sini dan juga di bebatuan pantai. Gilanya dia memintaku berpose yang aneh-aneh. Sampai akhirnya dia kepanasan sendiri melihat poseku. Alhasil dia melepas kaus dan celana jeans-nya. Dan kini dia bertelanjang dada di depanku dan hanya mengenakan celana hawainya saja.


Dia memang tipikal pria yang mempunyai hasrat terpendam begitu besar.


.........


...Cecilia...





.........


Jackson kemudian mengajak ku untuk tiduran di atas ayunan. Aku tidur di sisi kanannya sambil menatap indah pemandangan langit siang ini. Kami tidur di atas ayunan jaring yang tidak terlalu tinggi. Sepertinya kuat untuk menahan bobot kami. Dan ya aku pun bersantai menikmatinya. Tapi, tiba-tiba suasana berubah saat Jackson merebahkan kepalanya di dadaku.


"Tuan?!"


Dia menggerak-gerakkan kepalanya di dadaku seperti sedang mencari posisi yang enak untuk tidur. Tubuhku didekapnya erat seperti bantal guling saja. Aku pun mau tak mau memiringkan badan ke arahnya. Dan akhirnya entah mengapa naluri keibuan itu muncul dari dalam diriku. Kuusap lembut kepalanya agar dia tenang dan lekas tertidur. Dan benar saja, Jackson tertidur pulas di dadaku.


Ya Tuhan, dia ini. Kami sudah seperti sepasang kekasih sungguhan.


Aku mencoba melihat wajahnya yang tertidur pulas di dadaku. Ternyata Jackson begitu nyaman tidur sempit-sempitan seperti ini. Aku pun membiarkannya saja, mencoba untuk ikut tidur sambil berharap tidak ada orang lain yang menganggu.

__ADS_1


Biarlah langit dan bumi menjadi saksi atas perjalanan cinta ini. Aku hanya bisa mengikuti alurnya saja. Entah mau dibawa ke mana, asal bersamanya aku rela.


__ADS_2