
Sepuluh menit kemudian...
Aku mampir ke apotek untuk membeli obat kontrasepsi. Lantas aku meminumnya sebelum pergi ke kafe. Sengaja kulakukan karena tidak ingin terjadi apa-apa akibat semalam. Aku ingin menghilangkan jejak dan tidak ingin berurusan lagi di kemudian hari.
Setelah meminum obat, kulajukan mobilku hingga sampai ke parkiran Moon Cafe. Kafe besar dengan suasana pedesaan yang begitu asri. Lantas kusiapkan diri sebelum keluar dari mobil. Aku berkaca di depan cermin seraya menyapukan lipglos berwarna oranye di bibir. Hari ini kukenakan make up dengan warna oranye yang mendominasi wajahku, agar tampak lebih cerah dan ceria, menutupi hatiku yang sedang berduka.
Lantas aku keluar dari mobil sambil mengenakan kaca mata hitam. Tubuhku terbalut seragam formal wanita pada umumnya. Kusampirkan tas kerja di bahu kiri lalu melangkah masuk ke dalam kafe. Dan kulihat Zea tengah menunggu di salah satu sudut kafe ini.
Langkah demi langkah kunikmati sambil menghirup udara dalam-dalam. Hari ini juga, detik ini juga, aku akan menyelesaikan perjanjianku. Lalu setelahnya kabur tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
"Maaf, Nyonya. Sedikit terlambat," kataku, menyapanya lalu segera duduk.
"Tidak mengapa. Aku juga sedang membaca-baca majalah di sini." Dia tersenyum pendek padaku.
Aku tidak ingin berbasa-basi kepada wanita berdres kimono biru ini. Tampilannya sedikit berbeda dari hari sebelumnya. Dia begitu anggun dengan rambut yang disanggul. Di lehernya juga melingkar kalung yang terbuat dari mutiara asli.
"Aku telah mendapatkan apa yang Anda inginkan. Dan aku ingin tambahan empat milyar atas kerja kerasku." Segera kututurkan keinginanku padanya.
Dia meletakkan majalah yang sedang dibaca. "Kau ingin bonus dariku?" tanyanya, lalu menyeruput secangkir teh hijau yang tersedia.
"Tentu saja." Aku segera mengambil amplop cokelat dari dalam tas. "Ini bukti yang Anda inginkan. Aku telah menyelesaikan perjanjian sebelum waktunya. Dan aku rasa orang seperti Anda tidak akan menyia-nyiakan kerja keras rekan kerja." Aku tersenyum, ingin semua ini cepat berakhir.
"Ya, ya. Kuakui kau memang hebat, Nona Cecilia. Jangan khawatir. Aku akan memberikan apa yang kau mau." Dia lalu mengeluarkan cek dari dalam tas kecilnya.
Zea menuliskan nominal yang aku inginkan di atas selembar cek tersebut. Aku pun memperhatikan saat dia menuliskan jumlah nominalnya. Dia lalu memberikan cek itu kepadaku dan aku menerimanya. Tapi, di saat mengangkat kepala, tiba-tiba kulihat Jackson sudah berada di depan mata.
"Tu-tu-tuan?!"
Aku terkejut bukan main. Seketika laju jantungku berdetak cepat tak terkendali. Ingin rasanya aku segera berlari dari tempat ini. Aku ketahuan, benar-benar ketahuan.
Zea lantas menyadari kegugupanku saat amplop yang kupegang jatuh ke atas meja. Foto yang ada di dalam amplop pun terlihat setengah, tepat memperlihatkan tanda lahir yang ada di pergelangan kakiku. Yang mana semalam Jackson pernah menciumnya dengan sekujur tubuh yang dibasahi keringat.
__ADS_1
"Suamiku ...."
Zea lantas berdiri, menyambut kedatangan Jackson dengan tenang. Dia berakting seolah tidak terjadi apa-apa. Aku pun mencoba membiasakan diri dari situasi yang membuat laju jantungku tak terkendali.
"Cecilia, simpan dulu barangmu." Zea memintaku menyimpan bukti yang aku berikan padanya.
Lantas segera kuambil kembali apa yang ada di atas meja. Dan kulihat Zea mulai membicarakan urusan rumah tangganya kepada Jackson. Sedang aku diam di tempat tanpa bergerak.
"Suamiku, jangan lupa untuk pulang ke kediaman keluarga besar pada tanggal dua Januari. Akan ada acara makan malam bersama di sana." Zea berpesan kepada Jackson.
Kulihat Jackson diam saja. Zea lantas memegang wajah suaminya dengan lembut. Tapi, tatapan Jackson tetap mengarah kepadaku. Tatapan matanya seperti ingin membunuh.
Astaga ... dia seperti ingin menghabisiku.
Kuhirup udara dalam-dalam lalu mengambil ponsel dari tas. Aku mencoba bermain ponsel saat keduanya tengah berbincang. Rasa grogi dan takutku tidak boleh disadari oleh Jackson. Dia nanti bisa mencurigai apa yang aku lakukan di sini.
"Kenapa ada di sini, Suamiku? Apa mempunyai urusan juga pagi ini?"
"Aku hanya kebetulan bertemu klien di lantai atas. Kau sendiri?" tanya Jackson kepada Zea dengan intonasi curiga.
Mereka lalu berbasi-basi sebentar sebelum akhirnya Jackson memutuskan untuk keluar dari kafe ini. Di saat itu juga aku berpamitan kepada Zea. Entah mengapa aku ingin mengejar Jackson. Dan Zea pun mempersilakanku untuk pergi. Mungkin dia tahu apa yang akan kulakukan.
Kenapa dia bisa ada di sini?
Kulangkahkan kaki secepat mungkin untuk mengejarnya. Dan kulihat mobilnya ada di sebuah jalan yang paling terpencil. Dari seberang jalan aku bisa melihat Jackson tengah merokok di dalam mobil.
Ke sana tidak, ya?
Hatiku tiba-tiba gundah saat memutuskan untuk menemuinya atau tidak. Tapi kulihat supirnya juga ikut melambaikan tangannya ke arahku, seolah memintaku agar segera datang. Lantas aku berjalan menghampirinya. Toh, jika aku langsung pergi, dia juga pasti akan mengejarku nantinya. Jadi lebih baik menemuinya saja terlebih dulu.
"Tuan Jackson," panggilku, setelah masuk ke dalam mobil. Sedang supirnya menunggu di luar.
__ADS_1
Kulihat Jackson membuka dasinya. Dia lalu melemparkan dasi itu dengan kesal ke kursi co-pilot. Dia kemudian menarik paksa tasku hingga lepas dari peganganku. Dia lantas mengeluarkan selembar cek dari dalam amplop yang kuterima. Dan dia juga melihat video berdurasi satu jam yang telah kuedit menjadi delapan menit lebih.
“Mau kabur, ya?” tanyanya, sambil memiringkan badan ke arahku.
Aku diam. Aku tahu situasi apa yang terjadi saat ini. Aku telah mengkhianatinya. Aku telah membohonginya. Dan mungkin aku juga telah mempermainkan hatinya. Hingga kini tidak ada lagi tersisa rasa percaya di hatinya terhadapku.
"Ak-aku—"
“Empat miliar cukup?” Dia menyela perkataanku.
"Tu-tuan, Anda—"
"Cecilia, mau main muka dua denganku, ya?"
Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan untukku menjawab. Hal ini membuatku ketakutan. Aku menyadari jika telah berbuat hal yang paling tabu baginya. Penipuan, jebakan, kebohongan. Aku telah melanggar tiga batas kesabarannya dalam semalam dan kini tertangkap basah olehnya.
Dia lantas mencubit wajahku dengan amat gemas sampai aku merasa kesakitan. "Sudah kuperingatkan, apapun yang kamu dapatkan, Zea tidak juga akan menang! Cerai dan menghancurkanku tidak semudah yang kalian bayangkan!"
"Tu-tuan ...."
Pipiku sakit sekali. Dia mencubit pipiku hingga mulutku sulit untuk menutup. Kulihat dia memandangi apa yang ada di dalam mulutku. Mungkin dia sedang mengingat lidahku yang semalam bergerilya di tubuhnya.
"Mulutmu ini suka sekali berbohong. Menurutmu aku tega nggak, Cecil?"
Kemarahan tergambar jelas di wajahnya, dan sekarang dia semakin acuh tak acuh padaku. Aku ketakutan. Dia lantas mencekik tenggorokanku. Dan kini aku tidak bisa bersuara sama sekali, bahkan untuk menelan ludah saja sulit.
"Kak ... Jackson ...."
Aku kehilangan udara. Kupegang tangannya dengan kedua tanganku agar bisa terlepas dari leherku. Tapi dia tidak juga melepaskannya. Hingga akhirnya, pandanganku mulai kabur. Tanganku pun tidak lagi bertenaga untuk melepaskan cekikannya. Di saat itu juga Jackson melepaskan tangannya dari leherku.
Hampir saja ....
__ADS_1
Kini aku terduduk lemas di kursi mobil sambil terbatuk-batuk. Pagi ini nyawaku hampir melayang di tangan seorang pria yang mengambil keperawananku. Pandanganku kabur melihat sekeliling. Bahkan untuk melihatnya saja aku tidak mampu. Aku hampir kehilangan kesadaran di depannya.