
Beberapa menit kemudian...
Aku dan Alexander sedang duduk bersama di pelataran teras apartemennya. Dan kini aku sedang merebahkan kepala di dada bidang si pirang. Pria bertubuh maskulin nan atletis ini mengusap-usap kepalaku dengan lembutnya. Rasanya syahdu sekali. Ditambah lagi aroma parfumnya yang menenangkan, membuatku betah berlama-lama di pelukannya.
Aku kemudian menceritakan kabar yang baru saja kuterima dari Aurel maupun Angela kepada Alexander. Sungguh masih tak percaya jika Jackson tiba-tiba berubah sikap seperti ini setelah membuangku begitu saja. Masih teringat jelas perkataannya yang menyakitkan hatiku waktu itu. Tapi kini kudengar dia mencariku. Rasanya sedikit tak terima dan juga was-was sendiri. Aku khawatir dia sampai mencariku ke apartemen ini.
"Jadi kau merasa cemas dia akan mencarimu sampai ke sini?" Alexander bertanya padaku sambil terus membelai rambutku.
Aku mengangguk dalam dekapannya. "Ya. Aku khawatir saja. Aku juga tidak mengerti mengapa dia bisa seperti itu," kataku jujur.
Alexander terdiam. Kulihat dia seperti memikirkan masak-masak kabar ini. Dia kemudian menggenggam erat tanganku, mengecup kepalaku lalu memelukku dengan sepenuh hati. Terasa sekali energi kasih sayang yang dia berikan untukku.
"Dear?" Aku pun melihat ke arahnya.
Kulihat dia menghela napasnya. "Mungkin ... Jackson sudah menyadari kesalahannya sekarang. Dia tidak terima jika kau pergi begitu saja." Alexander mengungkapkan pemikirannya tentang Jackson.
Aku terdiam mendengarkannya.
"Sebagai seorang lelaki harus kuakui jika sisi egois dan ingin memiliki itu begitu besar terhadap wanita yang kami cintai. Dan aku berharap kau tidak goyah setelah mendengar kabar ini." Alexander melanjutkan seraya mengusap-usap lenganku.
Aku mengangguk, mengerti akan maksud ucapannya. Tapi sejujurnya aku takut jika tiba-tiba Jackson memaksaku untuk meninggalkan Alexander. Dia sangat berkuasa, pastinya bisa berbuat apa saja. Dan hal yang lebih aku khawatirkan dia sampai berbuat nekat kepada Alexander. Sedang aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun padanya. Mungkin bisa dibilang jika aku sudah berharap padanya.
"Cecilia."
"Ya?"
"Aku sudah memutuskan untuk memberimu uang jajan di setiap bulannya." Dia seperti ingin mengalihkan pikiranku dari ketakutan akan Jackson.
"Eh?" Aku pun menatapnya.
"Dua puluh juta setiap bulannya. Apakah kurang untuk uang jajan sebulan?" tanyanya padaku.
__ADS_1
"Ap-apa?! Dua puluh juta?!" Aku terkejut. Dengan segera melepaskan diri dari pelukannya.
Alexander menatap heran ke arahku. "Kenapa? Terlalu kecil, ya?" tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. Tak percaya jika dia akan berinisiatif untuk memberiku uang jajan. "Dear, kau serius?" tanyaku memastikan.
Dia mengangguk.
"Astaga ...." Saat itu juga kuusap wajahku sendiri.
"Kenapa Cecilia?" Dia seperti cemas melihatku.
Sungguh aku tak percaya jika dia akan memberiku uang jajan sebesar dua puluh juta dalam setiap bulannya. Itu sangat besar bagiku. Apalagi aku bisa mendapatkannya secara cuma-cuma tanpa harus bekerja.
"Dear, apa kau meminta imbalan atas uang jajan itu?" Aku memastikannya.
Dia menggelengkan kepala, lalu menarikku kembali ke pelukannya. "Apa selama tinggal di sini aku pernah menuntutmu untuk melakukan sesuatu?" Dia balik bertanya padaku.
"Dear?"
"Dear ...." Saat itu juga kupeluk dirinya dengan erat.
Dia menggenggam tanganku. "Aku akan berusaha melindungimu semampuku. Aku tidak akan membiarkan Jackson menyakitimu lagi." Dia berjanji.
Aku mengangguk dalam pelukannya.
"Nanti aku pulang agak telat. Besok akhir pekan dan ibu memintaku pulang di hari Sabtu. Kau mau menemaniku ke desa lagi, bukan?" tanyanya seraya melihatku.
Aku pun menatap bola mata birunya seraya mengangguk.
Dia mencium keningku. "Sudah, ya. Jangan sebut nama Jackson lagi di depanku." Dia mengarahkan tanganku agar memegang dadanya. "Rasanya sakit sekali di sini." Dia menunjukkan apa yang dia rasakan saat aku membicarakan Jackson di depannya.
__ADS_1
Dear ... ternyata kau benar-benar perasa.
"Aku sudah memperhitungkan waktu. Aku ingin segera menikahimu. Mungkin tiga atau empat minggu lagi semua kontrak kerja samaku selesai. Aku mohon tunggu aku." Dia mencium tanganku seraya memohon.
Aku pun seakan tidak bisa berkata apa-apa saat mendengarnya. Alexander begitu cepat mengambil tindakan atas hubungan kami. Dia benar-benar ingin segera menikahiku. Rasanya masih tak percaya jika akan melabuhkan bahtera bersamanya. Tiga atau empat minggu itu adalah waktu yang sebentar untuk memutuskan pernikahan. Apakah hatiku sudah siap untuk menerimanya sebagai suamiku?
"Nanti setelah menikah, aku akan menyerahkan setengah pendapatanku untukmu. Setengahnya kubagi dua bersama ibu. Apa kau keberatan?" tanyanya padaku.
Aku terkejut mendengarnya. "Kau sudah merencanakannya?" Aku tak percaya.
"Ya. Bagaimanapun kau adalah tanggung jawabku setelah menjadi istri. Tetapi aku juga tidak bisa melupakan kewajiban sebagai seorang anak laki-laki kepada ibu. Aku harap kau mau menerima pembagian gajiku ini." Dia amat berharap.
Aku tersenyum, menyadari jika dia adalah tipikal pria bertanggung jawab terhadap keluarganya. Aku rasa pembagian itu cukup adil bagiku.
"Bagaimana jika kita sudah punya anak?" tanyaku lagi, ingin tahu sambil mencolek dadanya.
Aku bersikap manja agar dia tidak berprasangka yang bukan-bukan terhadapku. Kulihat dia pun tersenyum seraya menunduk di sampingku. Dia kemudian menatapku kembali.
"Jika sudah punya anak, aku akan menyerahkan 75% pendapatanku. Sedang 25% tetap kuberikan untuk ibu. Bagaimana?" Dia bertanya sambil menggenggam tanganku ini.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" Aku merasa heran karena dia tidak kebagian jatah gajinya sendiri.
"Aku ... aku akan minta pada ibu," katanya lalu tertawa di hadapanku.
"Dear, kau ini." Aku pun mencubitnya.
"Hahaha. Cecilia-Cecilia. Ibu pasti mengerti akan hal ini. Ibu tidak akan membiarkan aku sengsara. Sudah jangan dipikirkan. Aku yakin pasti bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecil kita nanti. Asal kau tetap setia di sisiku." Dia penuh harap padaku.
Aku tersenyum lalu memeluknya. Aku rasa keterbukaan ini sudah cukup adil bagiku. Biarlah awan putih yang berarak di langit menjadi saksi atas ucapannya. Aku akan mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Karena nyatanya Alexander lah yang selalu ada dan setia mendampingiku.
Dear ... terima kasih. Kau benar-benar memenuhi ucapanmu.
__ADS_1
Rasanya bahagia sekali jika sejak awal sudah terbuka seperti ini. Aku merasa sudah seperti benar-benar menyayanginya. Mungkin inilah yang terjadi jika logika sudah mengambil alih perasaan seorang wanita. Dia tidak akan ingat lagi apa yang sudah terjadi. Yang dia tahu hanya apa yang ada di hadapannya. Dan saat ini Alexander lah yang ada di hadapanku. Bukan Jackson atau yang lainnya.
Tuhan, jika dia memang jodohku, tolong bantu aku agar tidak diganggu lagi oleh Jackson. Aku tidak ingin mengecewakan hati Alexander karena aku tahu bagaimana rasanya dikecewakan. Aku hanya ingin satu, sekarang dan selamanya.