
Aku melihatnya, tapi menunduk kembali. Aku merasa kami sudah semakin dekat saja. Aku juga semakin khawatir bila terus berada di situasi ini. Bisa-bisa karena seringnya bertemu hal itu membuat kami semakin dekat dan ketergantungan. Bukankah semua bisa karena terbiasa? Dan aku khawatir akan jatuh cinta karena terbiasa bertemu dengannya.
"Temanku mengajak surfing. Mungkin kau mau ikut. Kau bisa surfing, Cecilia?" tanyanya, memecah lamunanku.
Aku masih menunduk, tidak berani melihatnya. "Tuan, sebenarnya aku takut jika kita sering bertemu." Aku mulai jujur padanya.
Dia berjalan lalu duduk kembali di depanku. "Kenapa?" tanyanya dengan tatapan yang tidak ingin kulihat.
Alexander begitu manis. Senyumnya itu melunakkan hati. Terlebih bibir merah mudanya menggoda pandangan. Sedang aku ini wanita biasa. Pastinya jika melihat yang bening-bening, pikiranku sudah ke mana-mana. Berandai-andai jikalau, andaikan, bilamana dia bersamaku menjalin kasih bersama.
"Tuan, aku takut pacarmu marah dan aku dilabraknya," kataku ragu.
Kulihat dia tersenyum manis sekali. Bahkan dia sampai tertawa mendengar kata-kataku. "Astaga, Cecilia." Dia sepertinya heran padaku.
Tuan, kau sadar tidak sih jika dirimu itu tampan? Kau itu menggoda pandangan. Tolong jangan mengejarku. Nanti aku bisa luluh.
Alexander merebahkan punggungnya di sofa. Dia kemudian mengambil ponsel pintarnya dari saku celana. "Ini. Periksa saja sendiri. Apakah aku mempunyai pacar?" katanya seraya menyerahkan ponsel kepadaku.
"Ap-apa?!" Aku pun terkejut dengan tindakannya.
"Em, baiklah. Mungkin masih belum cukup. Ini ponselku yang satunya lagi. Berisi semua relasi pekerjaan." Dia mengeluarkan semua ponselnya.
Aku pun jadi galau akhirnya.
Dia meletakkan semua ponselnya ke atas meja. Dia membuatku semakin bingung dengan nasibku sendiri. Apakah dia jodohku? Yang akan selalu menguatkanku, sesulit apapun masalah yang kuhadapi? Atau dia hanya sekedar numpang lewat di kehidupanku? Aku jadi bingung harus memberikannya kopi atau hati.
__ADS_1
"Cecilia, aku masih sendiri. Sungguh. Apa yang harus kulakukan agar kau percaya jika aku masih sendiri? Apa aku harus melompat dari apartemen ini?" tanyanya nekat.
Seketika aku terkejut mendengar perkataannya. "Ti-tidak, Tuan. Aku hanya takut bila jatuh hati karena kita sering bertemu. Itu saja," kataku padanya.
Entah mengapa aku malah jujur tentang perasaanku. Aku juga tidak tahu mengapa bisa sampai berkata seperti itu. Yang ada di pikiranku hanya takut jika dia benar-benar melompat dari apartemen ini.
Dasar Cecilia bodoh! Jelas-jelas dia mengejarmu dan kau berkata seperti itu. Kau memberi harapan padanya?!!
Sebenarnya yang aku inginkan adalah Jackson. Tapi tidak tahu kenapa, aku malah merasa senang saat Alexander berada di dekatku. Mungkinkah ini pertanda alam jika sebenarnya Alexander lah yang akan mendampingi hidupku? Atau ini ujian hubunganku dengan Jackson? Sungguh aku tidak tahu. Andai tahu bagaimana akhirnya, tentu saja aku akan berjaga-jaga dari sekarang. Sayangnya, skenario itu bukan di tanganku.
Duh, hatiku. Jangan goyah ....
Alexander menopang wajah dengan kedua tangannya. Dia kemudian tersenyum seraya memperhatikanku. "Jika itu benar terjadi, memangnya kenapa?" tanyanya, seolah sedang menggodaku.
Seketika aku tersentak dengan tingkahnya ini. Tak tahu mengapa aku mulai merasa dekat dengannya. Ingin sekali kucubit hidung mancungnya itu. Tapi, aku takut jika ini jebakan. Aku khawatir terjebak ke dalam permainan yang tidak kuketahui. Aku takut Alexander tidak benar-benar tulus kepadaku.
Karena khawatir berlama-lama di apartemen, aku mengajaknya keluar makan saja. Aku takut semakin lama melihat wajahnya, pertahanan hatiku bisa runtuh. Aku harus bisa bertahan sebelum kami lebih jauh. Ya, anggap saja sikapku sebagai rasa terima kasih karena dia telah menggratiskanku untuk tinggal di apartemen ini. Toh, sampai detik ini pun Jackson belum menghubungiku sama sekali.
Makan malam...
Aku terpaksa berganti pakaian saat keluar bersamanya. Kukenakan blus merah kotak-kotak dengan celana pensil biru. Tak lupa memakai sandal kasual dengan sedikit hak agar terlihat lebih tinggi. Karena jika tidak memakai hak, aku seperti sangat pendek di hadapannya.
Semakin kami dekat, semakin aku menyadari jika Alexander ternyata lebih tinggi dari Jackson. Mungkin berbeda sekitar tiga sampai lima senti. Ditambah tubuh Alexander yang sangat berisi. Lengkap sudah. Mata mana yang akan berpaling darinya? Dia adalah tipikal pria bertubuh idaman bagi kebanyakan wanita.
Ingat Jackson, Cecilia.
__ADS_1
Saat ini aku berusaha memposisikan diri. Katakanlah jika sedang menyenangkan hati dari luka yang belum terobati. Jackson seperti mengabaikanku setelah kejadian di ruangannya itu. Aku merasa sudah tidak berarti lagi baginya. Atau mungkin dia memang sengaja bersikap seperti ini selama masa peperangan? Entahlah, aku tidak tahu.
"Jangan melamun. Wanita secantikmu tidak baik melamun saat berjalan bersama pria." Alexander membuyarkan lamunanku.
Kini kami baru saja keluar dari mobil sesampainya di depan sebuah restoran. Sepertinya restoran yang kami tuju adalah restoran Jepang. Malam ini terlihat ramai sekali, sampai-sampai mobil harus diparkirkan di dekat tepi jalan. Dan entah mengapa saat keluar dari mobil, hatiku dag-dig-dug tak karuan.
Mungkin aku takut jika Jackson tiba-tiba memergokiku. Mungkin juga aku takut terjadi perkelahian di antara mereka. Tapi jika ingat kejadian kemarin, aku mempunyai sedikit alasan mengapa mau makan malam bersama Alexander. Katakanlah jika dia sedang menjadi pelarianku dari Jackson. Jahat sih, tapi mau bagaimana lagi. Semoga saja Alexander bisa mengerti.
"Tuan, kau suka makanan Jepang?" tanyaku padanya.
Dia menoleh ke arahku. "Kebetulan aku suka yang berbau Jejepangan, Cecilia." Dia tersenyum.
Sejenak aku terdiam dalam pikiran yang tak menentu. Aku jadi berpikir jika dia adalah tipikal pria yang menyukai kelembutan. Memang kalau dilihat dari tampangnya, Alexander begitu setia terhadap pasangan. Entah benar atau tidak, tapi jika diizinkan aku juga mau dengannya.
Dasar maruk!
"Cecilia, awas!"
Tiba-tiba saja Alexander menarik tubuhku ke dekatnya. Dia meraih tanganku lalu memegang punggungku ini. Aku pun terkejut dengan sikapnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Jantungnya ....
Telapak tanganku menahan dadanya yang dekat sekali dengan tubuhku. Ternyata saat ini aku tengah berada di pelukannya. Harum tubuhnya, hangat napasnya, terasa sampai menyentuh kalbu ini. Entah apa yang terjadi, aku rasa aku mulai nyaman bersamanya.
"Pengendara itu tidak melihat lagi ada kubangan air di tepi jalan." Alexander menggerutu sambil melihat ke arah pengendara yang lewat.
__ADS_1
Saat itu juga aku berpikir. Ternyata Alexander dengan sigap melindungiku dari cipratan air akibat laju kendaraan yang melewati kami. Entah mengapa aku merasa sudah dekat sekali. Entah hanya sebatas perasaanku atau dia juga ikut merasakannya. Dan aku rasa ... aku mulai menyukainya.