Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kenangan


__ADS_3

Sepulang Jackson dari apartemenku, aku segera menyeduh secangkir kopi latte untuk menemani kesendirian di malam ini. Aku berdiri di depan jendela apartemen sambil melihat pemandangan kota dari sini. Rasanya aku memang sudah benar-benar membutuhkan tempat untuk berlabuh. Seusiaku sepertinya sudah cukup matang untuk menjadi seorang istri. Tapi masalahnya, siapa yang mau menikahiku setulus hati?


Malam ini jujur saja hatiku seperti taman bunga yang sedang bermekaran. Aku merasa bahagia sekali. Janji kebebasan itu kudapatkan sekaligus ciuman hangat darinya. Aku merasa jika Jackson benar-benar menyayangiku.


Benar atau tidaknya, sepertinya hal itu tidak perlu dijadikan masalah. Walaupun sesungguhnya ada sepercik harapan kepadanya. Aku cukup tahu diri siapa aku di cerita ini. Namun, andai boleh meminta aku ingin bahagia bersamanya. Walau kutahu hal itu tidak mudah untuk kujalani.


Awal pertemuanku dengan Jakson adalah karena istrinya sendiri. Zea meminta bantuanku agar membuat Jackson melakukan kesalahan besar, sehingga dia bisa memenangkan perceraian dengan mendapatkan setengah harta yang Jackson miliki. Gila memang ada seorang istri yang seperti itu kepada suaminya. Tapi, lambat laun aku mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Ternyata Zea berselingkuh dengan Andreas, General Manager Jackson sendiri.


Ada satu hal yang masih menjadi misteri dan ingin sekali kuketahui. Apakah benar Andreas mencintai Zea sepenuh hati? Atau hanya sekedar alibi untuk mendapatkan PT Samudera Raya? Jika Andreas hanya memanfaatkan Zea untuk mendapatkan perusahan, sayang seribu sayang nasib Zea begitu malang. Dia melepas Jackson hanya untuk dimanfaatkan.


Kuakui cinta memang terkadang tidak mengenal logika. Tapi ada baiknya sebagai wanita menimbang ulang godaan dari luar sana. Belum tentu yang ke dua setulus yang pertama. Dan belum tentu orang baru bisa menerima kekurangan kita tanpa tujuan lain. Aku cukup mengetahui tentang masalah rumah tangga selama bergelut di bidang ini. Dan rata-rata berkisar di kebutuhan ekonomi atau biologis. Selain itu sepertinya tidak ada.


Nada pesan berbunyi...


Tak lama kudengar nada pesan di ponsel berbunyi saat baru saja membangun anganku. Lantas segera kulihat pesan yang masuk, dan ternyata dari Jackson.


/Tidurlah. Jangan telat datang ke kantor besok./


Jackson mengirimiku pesan. Dia seperti tahu jika aku belum bisa tidur malam ini. Dia juga seperti mengingatkanku agar datang lebih awal ke kantor besok. Aku merasa diperhatikan olehnya.


/Baik, Tuan./


Aku membalas pesannya dan pesan pun terkirim. Namun, dia tidak membalasnya lagi. Mungkin dia baru saja sampai di apartemennya lalu segera merebahkan diri. Ya, sudah. Aku pun lebih baik cepat tidur untuk menjalani esok hari. Kali-kali saja ada cinta kutemukan di kantor. Ya, semoga saja.


Mungkin ini adalah awal kehidupan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Kurebahkan diri di atas kasur yang menjadi saksi cinta satu malamku bersamanya. Kuusap kasur ini sambil mengingat kehangatan tubuhnya yang memelukku. Teringat jelas bagaimana dia memperlakukanku malam itu. Dia begitu lembut sampai membuatku terhanyut dalam permainannya. Dan aku berharap dia juga merasakan hal yang sama.


Esok harinya...


Hari ini sinar mentari hangat menemani langkah kakiku masuk ke dalam gedung PT Samudera Raya. Jam di pergelangan tangan kiriku baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi aku sudah sampai di sini. Kulihat gedung masih sepi, belum banyak karyawan yang datang. Sampai akhirnya aku duduk di depan meja kerjaku sendiri.


Kukenakan setelan seragam bisnis berwarna hitam putih dengan rok menutupi lutut. Hari ini aku mengenakan seragam kantoran biasa, tidak seketat atau semini dulu. Karena kupikir hal itu tidak kuperlukan lagi. Saat ini aku memang benar-benar bekerja di kantor, bukan menggoda seperti pelakor yang kulakukan dulu. Semoga dengan perubahan penampilanku bisa merubah pandangan orang, jika aku melakukan hal itu dulu hanya demi pekerjaan.


Kuletakkan tasku di bawah laci meja kerja. Lantas aku mulai menghidupkan komputer seraya bersih-bersih sebentar di area kerjaku. Tak lama terdengar langkah kaki para karyawan teladan yang datang. Dan ya, kantor pun semakin lama semakin ramai.


Hari ini aku membawa surat perjanjian dengan Zea waktu itu. Aku tidak menemukan jalan selain meminta Jackson untuk membantuku. Semoga setelah surat perjanjian ini diterima olehnya, Zea tidak menerorku.


Aku sudah berjuang keras untuk memenuhi permintaannya, tapi Jackson bukanlah pria yang mudah untuk dijatuhkan. Mata-matanya ada di mana-mana. Dan mereka bekerja secara sistematis sesuai apa yang Jackson perintahkan. Sekuat apapun aku menutupi sesuatu, pasti Jackson akan mengetahuinya juga. Dan ya lebih baik jujur daripada harus tertangkap basah lagi olehnya. Semoga saja setelah pengakuanku semalam, Jackson benar-benar membuktikan, membantuku bebas dari Zea. Untuk saat ini aku hanya bisa berharap kepadanya.


Setelah selesai, aku segera mengerjakan tugas harianku. Melihat jadwal Jackson untuk satu minggu ke depan dan menyusunnya dengan baik. Tak lama Clara pun datang menyerahkan dokumen untuk kuserahkan hari ini kepada Jackson. Ya, sudah. Kujalani pekerjaanku dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta.


Beberapa menit kemudian...


Jackson datang melewatiku. Aku pun segera berdiri untuk menyambutnya. Kulihat dia tersenyum kemudian segera masuk ke ruang kerjanya. Dia membawa koper kerja dengan setelan jas berwarna hitam. Dan entah mengapa senyumnya itu membuat hatiku berbunga-bunga. Aku semakin bersemangat menjalani aktivitas hari ini.


Beberapa menit kulalui, kupikir Jackson akan memanggilku agar masuk ke dalam ruangannya. Tapi, ternyata tidak. Sampai jam masuk kantor pun dia masih di dalam sendiri. Mungkin sedang sibuk menelepon sana-sini. Dan ya aku melanjutkan pekerjaanku saja.


"Cecilia!"


Kulihat seorang wanita berkemeja putih berdiri di hadapanku dengan wajah penuh amarah. Wanita ini pernah bersaing denganku dalam memperebutkan pembelaan Jackson waktu itu. Dan kini dia datang lagi dengan wajah jeleknya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku santai.


"Heh! Lu jangan pura-pura baik, ya! Lu masih nggak sadar diri lu itu siapa?!" Dia main tancap gas saja pagi-pagi.


"Maksudnya?" Aku tidak mengerti.


"Gara-gara lu hubungan gue berakhir, tahu nggak?!" Dia menudingku dengan satu jarinya.


"Aurel, kenapa malah menyalahkan orang. Itu salahmu sendiri," kataku, masih mencoba sabar menghadapinya.


Dia adalah Aurel, kepala administrasi perusahaan ini. Dia yang dulu mencaciku habis-habisan di kamar mandi. Dan caciannya itu sampai terdengar olehku sehingga aku menampar wajahnya.


"Lu pasti ngerayu tuan Jackson kan biar bisnis tuan gue dibatalin? Lu memang nggak tahu diri, Cecilia!"


Wanita di hadapanku ini semakin menjadi-jadi. Aku diamkan dia malah semakin berani padaku. Dia mengacak-acak meja kerjaku seenaknya. Saat itu juga aku berdiri lalu mendorongnya. Aku terpancing emosi.


"Lu hati-hati kalau punya mulut. Lu nuduh orang tanpa bukti!" Akhirnya aku kesal juga padanya.


"Alah, sudah lagi, Cecilia. Gue tahu lu itu cewek kayak apa! Jangan munafik!" Dia mencaciku.


Lantas aku semakin kesal mendengarnya. Akhirnya kami pun bertengkar di dekat meja kerjaku tanpa menghiraukan karyawan lain yang menontonnya. Aku mendorongnya sampai jatuh, dia kemudian bangkit lalu menjambak rambutku yang digulung rapi. Akhirnya rambutku acak-acakan karenanya. Di saat itu juga Jackson keluar dari ruangan.


"Ngapain lu orang?!" tanyanya, saat melihat kerah bajuku sedang ditarik oleh Aurel.


Seketika itu juga Aurel melepaskan tangannya dari kerah bajuku.

__ADS_1


__ADS_2