
Bruk..
Hantaman keras benda tajam kearah seorang pemuda tampan membuatnya jatuh tersungkur ketanah dengan darah yang sudah memenuhi baju seragam putih abu abu yang ia kenakan
Matanya membulat menatap kearah pemuda yang menancapkan pisau kearah perutnya
"Itu peringatan dariku karna kau sudah merebut perhatian hana dariku" Sentak pemuda itu kemudian berbalik meninggalkan Rifky begitu saja
Ingin berteriak minta tolong namun tenggorokn nya sudah tak mampu untuk mengeluarkan satu katapun, ia hanya berdoa dalam hati semoga seseorang datang menyelamatkannya
"Kamu tidak apa apa dek?" Seorang perempuan berhijab menghampirinya saat turun dari angkot dan melihat seorang pemuda terkapar ditanah menahan sakitnya
"To..lo..ng.." Ucap pemuda itu dengan suara terbata dan sedikit pelan
Perempuan itu pun membantu Rifky untuk berdiri dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat
"Bertahanlah kita segera sampai di rumah sakit" Ucap perempuan itu dengan kekhawatiran nya
"Pak tolong lebih cepat lagi" teriak Nisa perempuan itu pada sopir taksi saat melihat pemuda itu sudah tidak sadarkan diri
Hanya 10 menit mereka sampai disebuah rumah sakit, Nisa segera memanggil perawat untuk membantu nya membawa Rifky kedalam
Nisa mondar mandir didepan ruang pemeriksaan Rifky tangannya meres kuat ujung bajunya meskipun ia tidak mengenal pemuda itu namun entah kenapa nisa merasa sangat menghwatirkan pemuda itu.
Clek..
Pintu ruangan terbuka nampak seorang dokter paru baya keluar dari ruangan pemeriksaan
"Bagaimana keadaannya dok" Tanya Nisa
"Lukanya cukup dalam tp kami sudah memberinya jahitan, Nona bisa menjenguknya jika pasien sudah di pindahkan ke ruang perawatan" ujar dokter tersebut
"Baik dok
Nisya menemani pemuda itu dengan sabar sampai pemuda itu siuman, nisya hanya ingin memastikan jika pemuda itu baik baik saja baru ia akan meninggalkannya sambil menunggu keluarga nya
"Aw..
Suara rintihan pemuda itu mengejutkan Nisya dari lamunan nya
"Kamu baik baik saja? apa nya yang sakit " Tanya Nisya sedikit khawatir
Rifky menggeleng sembari tersenyum manis kearah Nisya, "Terimakasih" Ucapnya kemudian
"Segeralah hubungi keluargamu mungin mereka sangat mengkhawarikan mu
Rifky diam sejenak memikirkan sesuatu,benar yang Nisya katakan mungkin abangnya saat ini sedang mengkhawatirkan nya
"Tolong kakak saja yang telpon abang" Pinta Rifky
Nisya meraih henpon Rifky yang sudah melakukan panggilan dengan nama yang tertera dilayar ponselnya Abang Dayyan
"Hallo Assalamualaikum dek kamu dimana" Tanya seoran laki laki disebran telpon
__ADS_1
"Walaikumsalam, Tuan bisa datang kerumah sakit jln xx Adik anda sedang dirawat dirumah sakit tersebut
Deg
Jantung Dayyan seolah ingin berhenti saat ini juga mendengar Adiknya di rawat dirumah sakit
"Hallo kamu masih disana?" Panggil Nisya saat merasa tak ada sahutan lagi dari sebrang
Nisya memberikan kembali ponsel milik Rifky..
Sebentar lagi abangmu akan datang kesini, Aku permisi pulang" Pamit Nisya
"Iya kak sekali lagi terimahkasih" Ucap Rifky tulus
Nisya hanya membalasnya dengan senyuman
Setelah kepergian Nisya tak lama pintu dibuka dengan keras dan masuklah dua orang pria tampan dengan wajah khawatir
"Dek.
"Abang
"Gimana ceritanya kamu sampai kayak gini "Tanya kakak sulung dari Rifky
"Aku di fitnah kak" Lirih Rifky
"Siapa yang menfitnah kamu dek" Kini Fathan kakak kedua Rifky yang angkat bicara
"Delon menuduhku merebut perhatian pacar nya" Rifky menunduk tak bisa menatap kakak sulungnya ia sangat takut jika kakaknya akan memarahinya
Sementara Dayyan sedari tadi hanya diam tak bersuara sama sekali padahal dalam hatinya sudah ingin membasmi semua orang yang menyebabkan Adiknya sampai terluka seperti ini
Namun ia tidak ingin memperlihatkannya, dayyan punya cara sendiri untuk membalas dendam terhadap orang orang mencelakai adik kesayangan nya
"Bang, lapar!" Rengek manja Rifky pada kedua abangnya
Meskipun usianya sudah terbilang remaja namun sikap manja Rifky selalu ia tunjukkan kepada kedua abang nya
Semenjak kedua orang tuanya meninggal Rifky dibesarkan oleh keduan abangnya, mereka hidup saling menguatkan semenjak kejadian naas yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal yang waktu itu Rifky masih berusia 5 tahun
"Fathan kamu belikan makanan anak ini" Kini kakak sulungnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam saja
"Baik bang!
"Bang
"Hm
Rifky mendengus kesal akan sikap cuek abangnya
"Abang marah?"
"Menurutmu?" Dayyan menaikkan sebelah alisnya menatap tajam kearah adik kesayangan nya
__ADS_1
"Maaf " lirih Rifky
Dayyan menarik nafas panjang kemudian berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
Dayyan sangat marah saat mendengar adiknya dianiyaya oleh temannya sendiri terlebih pada Rifky ia sangat kecewa pada sang adik karna tidak terbuka dengan masalah yang ia hadapi padahal mereka sudah berjanji jika diatara mereka tidak akan ada yang disembunyikan
"Maafkan aku bang bukan maksud ingin menyembunyikan masalah ini pada abang tapi aku hanya tidak ingin membebani abang terus" Suara Rifky terdengar sangat pelan dengan kepala yang sedari tadi menunduk tak berani menatap abangnya
Dayyan mengusap wajah kasarnya kekhawatiran nya terhadap adiknya membuatnya jadi emosi ingin rasanya ia menyeret sekarang juga orang yang menyakiti sang adik saat ini
Dayyan sangat menyayangi adik adiknya semenjak kedua orang tuanya meninggal ia yang harus berjuang sendiri membesarkan kedua adiknya sehingga melupakan untuk membahagiakan dirinya sendiri
Diumur nya yang sudah 32 ia bahkan belum memikirkan untuk berumah tangga prioritas utamanya saat ini hanya ingin melihat kedua adiknya bahagia tanpa satupun kekurangan
Tangan Dayyan terulur mengusap kepala Rifky ada perasaan bersalah karna ia telah lalai menjaga sang adik saat ini
"Maafkan aku bang" Lagi lagi ucapan itu keluar dari mulut Rifky
"Kamu istirahatlah" Titahnya
"Tapi aku lapar bang" ujar Rifky cemberut memanyungkan bibirnya seperti anak lecil
Tak lama pintu terbuka nampak fathan membawa bungkusan makanan ditangannya
"Nih kamu makanlah" Fathan menyodorkan bungkusan itu kedepan Rifky
"Abang tidak liat kalau Rifky gak bisa makan sendiri?
"lalu?"
"Ya suapin kek, masa abang tega " Sahut Rifky dengan muka seperti anak keci membuat Dayyan menggeleng kepalanya
"Manja!" Cibir fathan namun tak ubah iapun melakukan nya menyuapi sang adik
"Terimakasih bang" Ucapnya setelah menerimah suapan pertamanya dari fathan
"Hm..
Setelah selesai makan Rifky meminum obatnya setelah itu ia pun terlelap akibat pengaruh obat
Fathan menghampiri sang kakak yang kini tengah serius menatap lap top ditangannya
"Bang..
"Hm..
"Bagaimana dengan anak itu, "Tanya fathan sembari duduk didekat sang kakak
Terlihat Dayyan menghelang nafas berat kemudian beralih menatap adiknya yang ada didekatnya itu
"Jangan bertindak gegabah, jangan biarkan emosi menguasaimu beri saja pelajaran agar dia tidak mengulanginya lagi " kata Dayyan dan diangguki oleh fathan
Tiga hari sudah berlalu Rifky kini sudah berada dikediaman nya dokter sudah memperbolehkan nya pulang dengan syarat harus istirahat dan jangan banyak gerak
__ADS_1
Selama itu pula sang kakak kedua tidak pernah meninggalkannya