
Sepanjang perjalanan Bimo tak bisa tidur barang sedetikpun. Ia memang menutup kedua matanya. Tapi, pikirannya terus saja bekerja. Menduga duga siapa otak dalang insiden kebakaran itu.
Dari laporan anak buahnya tak ada jejak yang bisa dicurigai. Rekaman CCTV di setiap sudut cafe juga tak ada yang mencurigakan. Dan hasil penyelidikan sementara pihak berwajib, ini murni kecelakaan dari korsleting listrik. Jauhnya cafe Bimo dari pemukiman warga, membuat damkar telat datang.
Bimo yang tak bisa tidur itu, akhirnya membuka kedua matanya yang terasa panas. Gimana tidak panas. Ia tak ada istirahat, hingga kini mobil sudah masuk ke gerbang perkebunannya.
Ia menatap sedih sang istri yang tidur di pangkuannya. Dengan lembut ia membelai pipinya Rara yang sedikit pucat. Bimo merasa galau saat ini. Kalau ia benar benar tumpur bagaimana? ia pasti tak akan bisa membahagiakan Rara. Istrinya itu sejak kecil sudah terbiasa hidup mewah. Dan sekarang hidup bersamanya jadi orang susah.
Gerakan jemari lembutnya Bimo di pipi sang istri, membangun kan istirnya itu. Bertepatan dengan mereka sudah sampai di depan rumah.
Rara membuka kedua matanya dan langsung disuguhkan dengan wajah sang suami yang terlihat murung itu. Rara tersenyum manis, ia tak boleh ikut sedih. Seperti sang suami saat ini. Kalau ia ikut sedih, suaminya itu pasti tertekan.
"Kita sudah sampai?" tanyanya lembut, berusaha bangkit dari tidur
"Sudah," Bimo membantu sang istri untuk duduk.
"Kamu istirahat di rumah ya. Aku harus ke cafe sekarang." Ujar Bimo, ia ingin langsung ke cafenya. Tak ingin singgah di rumah dulu.
"Aku ikut cinta!" wajahnya Rara memelas.
"Gak usah, kamu pasti capek, istirahat saja dulu." Ayo turun..!" Bimo memilih turun duluan dari dalam mobil, agar istrinya itu ikut turun.
"Naik cinta, aku ingin lihat cafe kita. Ini masalah kita bersama. Aku harus ikut andil di dalamnya." Ujar Rara tegas, ekspresi wajah nya sangat memaksa.
__ADS_1
"Kamu gak usah ikut campur dalam masalah ini. Kamu harus istirahat. Aku gak mau nanti kamu sakit." Bimo memang tak mau membebani Rara. Ia sudah parno, ia tak mau Rara meninggalkannya. Ia tak mau Rara mengetahui semua masalah ini.
"Sudah deh sayang, jangan egois. Aku juga ingin tahu keadaan cage kita yang terbakar itu. Ayo kita ke sana!" ujar Rara dengan ekspresi mulai kesal. "Ayokkk..!" menjuktkan tangan, menarik lengan sang suami yang dari tadi berdiri.
Bimo akhirnya masuk lagi ke dalam mobil. Supir membawa mereka ke cafe yang ludes menyapu tanah, yang dilahan sijago merah.
Hatinya Bimo sakit melihat pemandangan kelam di hadapannya. Yang tersisa dari bangunan cafenya hanyalah arang dan abu. Lesehan yang berantai miliknya hangus semua. Gimana tak cepat hangus. Lesehan dan pondok nya terbuat dari kayu dan bambu.
"Astaghfirullah....!"
Ia mengelus dadanya yang berdenyut denyut perih itu. Cafe miliknya baru berdiri dua bulan dan lagi lagi rame rame ya dua Minggu terakhir ini.
"Sabar Sayang ..!" Rara merangkul Bimo dari samping. Mereka hanya bisa menatap cafenya yang sudah jadi abu dari laut police Line.
"Maaf Pak, saat kejadian memang aku dan Aswin sedang tak ada di tempat. Pukul sebelas malam, kami pulang ke rumah. Orang tua saya lagi sakit. Jadi, setelah semua kerjaan selesai. Kami meninggalkan cafe." Ujar Candra, karyawan yang dipercaya jaga cafe, diberi tempat tinggal di cafe itu bersama Candra.
Laporan yang ia terima, penyelidikan dari pihak berwajib tak ada hal ganjal atau pihak tertentu yang sengaja melakukan tindak pidana. Walau sebenarnya Bimo tidak yakin dengan itu semua. Ia merasa ini kerjaan seseorang.
"Walau hasil penyelidikan mengatakan ini kejadian murni, kita tak boleh percaya begitu saja. Ini harus diselidiki." Ujar Bimo pada karyawannya semua. Kini mereka sedang berkumpul di depan cafe yang terbakar itu.
"Iya pak, kami siap memberi kesaksian." Jawab Candra.
"Kamu cari bukti, kalau ini ada unsur kesengajaan. Kita tak boleh tinggal diam. Setiap kejahatan pasti meniggalkan jejak." Jelas Bimo tegas.
__ADS_1
"Ia pak." Jawab semua karyawannya dengan menunduk sedih. Cafe hangus, tentu mereka tak ada pekerjaan lagi.
Huuffttt..
Bimo menghela napas dalam. Ia mengajak Rara pergi dari tempat itu. Berlama lama di tempat itu membuat kepalanya semakin sakit.
Sesampainya di rumah, Rara bergegas masuk ke kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami.
"Sayang.. Mandi dulu, biar seger!" ujar Rara lembut. Kini Bimo sedang sibuk mengotak Atik ponselnya di atas ranjang.
"Ia kah?" tanya Bimo dengan wajah lelahnya Masalah berat, ditambah tak tidur samalaman membuat wajahnya terlihat kusut. Walau wajah terlihat kusut. Tapi, ketampanannya tetap berbinar.
"Ia, jangan gara gara masalah. Jadi lupa mandi, makan bahkan lupa istri sendiri." Rara sudah berdiri di hadapan Bimo yang duduk di tepi ranjang.
"Kalau lupa istri sendiri ya gak lah." Meraih tangan Rara dan mengecupnya lembut. Rara tersenyum manis.
"Peluk aku..!" pinta Bimo manja, seperti seorang anak yang minta gendong pada ibunya.
Ucapan polosnya Bimo membuat Rara tersenyum. Ia pun memeluk Bimo yang kini masih duduk di tepi ranjang mereka.
"Ini empuk dan hangat. Lebih dalam lagi .!" ujarnya, sambil mengendus endus gundukan kembarnya Rara.
"Iihh...!" kalau yang itu gak pernah lupa."
__ADS_1
Rara mengendur kan pelukannya. Tapi Bimo malah mengangkat tubuh sang istri dan merebahkannya dibatas ranjang.
TBC