
Tak terasa waktu terus bergulir. Tiga hari sudah Rara berada di pondok sang ibu. Ia merasa tingkat spiritualnya meningkat. Ia juga merasa sangat tentram, nyaman dan terhibur di pondok itu.
Rani selalu memintanya untuk pulang. Karena ia takut, Bimo salah paham padanya. Takut, Bimo beranggapan Rani menahan sang putri di pondok itu untuk menemaninya. Tapi, Rara selalu menolak untuk pulang. Dengan alasan masih belajar agama.
Pak Kusuma dalam tiga hari ini, dalam sehari dua kali datang menjenguk anak dan mantan kekasihnya itu. Pagi dan malam, tentu saja membawakan banyak makanan. Semua jemaah pasti dapat buah tangan dari Pak Kusuma.
Kabar burung pun berhembus. Para jemaah mengatakan Rani dan Pak Kusuma akan rujuk. Rani hanya menggeleng menyayangkan berita tak benar itu. Mau rujuk seperti apa? emang orang itu pernah cerai? emang pernah nikah?
Rani tak mau mengkomentari gosip itu. Ia tetap fokus beribadah. Dan tak mau memikirkan kabar burung yang beredar.
"Nak, ini Bimo mau bicara denganmu." Pak Kusuma berkunjung pagi ini. Seperti biasa, ia sarapan di pondok itu.
Tangan pak Kusuma masih menjulur, memberikan ponsel pada Rara.
"Nanti saja pak, kan lagi makan." Jawabnya lemas.
"Rara... Hapemu kenapa gak aktif aktif sayang?"
Eehh..
Bimo langsung nyerocos di telpon. Suaranya yang kuat sangat jelas terdengar. Apalagi pak Kusuma hidupkan speaker.
"Habis baterai!" Jawab Rara cepat. Ya mereka hanya melakukan panggilan suara.
"Kenapa gak dicarger?" kini nada bicara Bimo sudah merendah.
"Gak bawa charger."
Rara melirik sang ayah dan mamanya sekilas. Karena memang sang ayah dan mama menatapnya terus.
"Kamu kapan pulang sayang?" tanya Bimo lagi dengan sendu. Ia sudah sangat merindukan istri nya itu.
Dalam dua Minggu ke depan. Bimo sangat sibuk. Selain menyelesaikan urusan kerja. Juga kasus Jenifer yang menggelapkan uangnya dan membunuh Romi. Pihak kepolisian masih membutuhkan keterangan darinya.
Apalagi kasus Alva juga sudah disidangkan. Ia juga dipanggil ke pengadilan. Kesaksian Rara juga diperlukan, karena Rara gak hadir dalam persidangan. Tim pengacara nya Alva akhirnya berhasil memenangkan persidangan. Alva dinyatakan tak bersalah. Tentu saja Ibu Dewi, ibunya Alva seneng. Karena putra nya bebas dari jeratan hukum.
"Gak pulang pulang lagi, aku mau mondok di sini. Boleh ya?"
"Apa..? gak boleh!" tegas Bimo, suara paniknya Bimo membuat Rani dan Pak Kusuma menahan tawa. Mereka merasa Bimo sangat lucu saat ini.
"Masak gak boleh? istri mau belajar agama dilarang. Aneh!" ketus Rara. "Sudah ya, Assalamualaikum...!" Rara mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia memberikan ponselnya pada sang ayah. Kemudian melanjutkan makannya.
Saat Pak Kusuma hendak memasukkan ponselnya ke sakunya. Ponsel itu kembali berdering. Ia melihat nama Bimo yang memanggil. Ia pun mencancel panggilan itu, tapi dengan cepat mengirim pesan pada Bimo.
Bim, jangan Maksa. Sabar ya!
__ADS_1
Pesan terkirim pada Bimo.
Pak Kusuma sudah tahu karakter putrinya yang sama dengan Rani. Kalau dipaksa, maka akan berontak. Makanya tiga hari ini pak Kusuma datang setiap hari ke pondok, bawa makanan dan tak pernah bahas masalah mereka. Ia ingin memberikan kenyamanan pada Rani.
"Ayah gak kerja? koq tiap hari datang ke sini?" tanya Rara penasaran dengan pak Kusuma. Setahu dia pak Kusuma menetap di Kota Berastagi.
"Kerja sayang, di sini kita juga punya usaha." Jelas Pak Kusuma lembut. Ia akan memulai mempromosikan diri. Ini kesempatan bagus, sang anak yang memulai pembicaraan, bukan dirinya.
"Emang ayah usahanya apa aja sih?" Rara memang tak tahu apa apa tentang ayahnya ini.
"Banyak sayang, ada pariwisata, perhotelan, perkebunan dan properti juga." Jawab Pak Kusuma dengan gaya bicara merendah.
"Waaawww... Baru tahu, kalau ayah kaya juga. Bantuin suamiku dong ayah, lagi butuh modal dia." Rara terlihat memelas.
"Sudah ayah tawarkan, dianya gak mau sayang." Jawab Pak Kusuma tersenyum tipis.
"Itu memang laki laki aneh, syok kali jadi orang. Tapi, kena tipu juga." Ujar Rara dengan ekspresi wajah masamnya.
"Itu namanya bukan aneh, tapi punya prinsip dan gak mau buat orang susah." Sahut Pak Kusuma. Setiap kali bicara, ia pasti curi curi pandang pada Rani.
"Entahlah ayah, gak ngerti aku cara berfikir nya." Rara menyudahi acara makannya. Hari ini mereka sarapan nasi gurih. Ya sesuai dengan makanan kesukaan Rani. Pokoknya Pak Kusuma setiap hari bawakan makanan kesukaan Rani yang seleranya wong deso.
"Kamu harus bangga punya suami seperti itu. Bimo itu pekerja keras, mandiri. Sama kayak ayahmu ini."
Uhuk
Uhuk
Uhuk
"Ma, Mama kenapa?" Rara menyodorkan gelas berisi air putih, yang langsung disambut Rani
"Gak apa apa sayang, keselek. Gara gara dengar ucapan orang narsis." Melirik sinis Pak Kusuma, yang senyam senyum tak jelas di hadapan mereka.
"Gara gara ayah ini. Ngomongnya ke PD an, aku aja mau muntah dengannya." Protes Rara, yang membuat Pak Kusuma terhenyak dan malu sekali.
"Koq salah kan ayah sih? Kam faktanya seperti itu." Ujar Pak Kusuma, menebalkan mukanya.
Huufft..
Rani menghela napas dalam, beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet umum.
"Sayang, bujuk ibumu agar mau balikan sama ayah ya?" Ujar Pak Kusuma memelas.
"Gak usah ayah suruh, sudah Rara lakuin itu. Tapi, seperti nya ibu masih ingin sendiri ayah. Dari curhatannya sih, ia tak mau pusing mikirin asmara. Mau hidup sendiri saja, gak mau ribet mikirin perasaan orang lain." Ujar Rara penuh penghayatan. Punya pasangan itu tak selalu buat happy. Kadang ada saja hal yang buat jengkel.
__ADS_1
"Iya sayang, terima kasih ya!" mengusap lembut kepala sang putri. "Ibumu di sini sampai kapan sayang?"
"Kata ini sih selamanya?"
"Apa..?" Pak Kusuma terkejut bathin mendengar jawaban sang putri. Pria itu mengira Rani mondok hanya sebulan. Eehh.. Katanya selamanya.
"Ayah tenang, aku pasti bujukin mama, agar mau sama ayah lagi. Tapi, ayah juga harus perbaiki diri dulu dong. Agar bisa bersaing dengan pria pria yang sudah kirim proposal untuk Mama." Jelas Rara.
"Proposal?" tanya Pak Kusuma bingung.
"Iya ayah, itu sudah ada tiga proposal nikah, mau ta'aruf gitu sama Mama. Kan jema'ah di sini tahunya Mama itu janda. Jadinya ada keluarga jemaah yang ingin Mama jadi istri anak dan cucunya gitu. Pokoknya Mama tu disini banyak yang nawarin jadi mantunya gitu."
"Iya kah?" Pak Kusuma langsung lemas. Ternyata ia banyak saingan. Padahal mantannya itu berada di tempat tersembunyi. Ya namanya wanita cantik, pasti cepat dilirik orang.
"Iya ayah, jadi besok kalau ayah mau ambil hati Mama. Ayah nanti azan di sini. Terus pakai baju kek ustadz gitu." Ujar Rara mengulum senyum. Ia merasa lucu, ingin mengerjai ayahnya.
"Ia nak, ayah sih bisa adzan dan sholat. Tapi, ayah suara jelek kakau azan. Ayah gak PD nak." Ujarnya lemas, kenapa mendekati Rani, semakin sulit.
"Ya ayah banyakin belajar dan latihan dong, kalau mau ambil hati Mama." Jelas Rara.
Eehhmmm
Deheman Rani, membuat ayah dan anak itu terdiam. Tapi mata keduanya melirik Rani.
"Ada apa?" tanya Rani heran, dengan tatapan pak Kusuma dan Rara.
Keduanya menggeleng kan kepala cepat.
"Anda gak pulang? Besok besok gak usah datang lagi kesini ya pak. Aku sudah merasa terganggu dengan komentar jemaah tentang anda." Ujar Rani tegas.
Deg
Cara bicara Rani sungguh kejam. Pak Kusuma sedih mendengar nya.
"Ini terakhir kali Anda kemari." Rani pun masuk ke dalam pondok. Meninggalkan Rara dan Sang ayah di halaman dengan tercengang.
"Sabar pak, bapak pulang dulu. Aku akan bantuin bapak. Kita calling calling an aja nanti." Ujar Rara menyemangati sang ayah.
"Iya sayang, bantu ayah ya?"
"Iya ayah." Tersenyum pada Pak Kusuma.
"Baiklah ayah pulang, jaga ibumu nak. Nanti ayah telpon. Cas hapemu ya?!"
"Iya ayah " Rara pun melambaikan tangan pada pak Kusuma, yang terlihat lemas berjalan ke pos satpam.
__ADS_1
TBC