
Selesai sholat magrib, pasangan pengantin baru itu kembali melanjutkan acara mencetak anak. Rara baru tahu, kalau suaminya itu ternyata tipe pria yang semakin me sum, disaat merasa lelah dan banyak pikiran. Semangat bercintanya sangat berhasrat dan bergelora. Sentuhan sangat terasa dan membuat mabuk kepayang. Rara sampai merem melek tersenyum penuh kepuasan. Tak bisa dipungkirinya. Ini permainan mereka paling dahsyat.
"Aku sudah pesan kursi kamar sutra. Besok katanya akan diantar." Ujar Bimo tersenyum geli melirik Rara yang ada dalam dekapannya.
Nyut...
Satu cubitan mendarat di Puti-ng nya Bimo, cubitan lembut itu membuat Bimo menggelinjang karena tak tahan dengan gelinya.
"Otaknya mikir kesitu mulu." Ujarnya melepas tangan Bimo yang memeluknya erat.
"Namanya juga cowok sayang. Apalagi kalau sedang dengan wanita pujaannya. Tentulah inginnya begituan. Itu kan salah satu bentuk dari curahan rasa cinta dan kasih sayang. Saling bercumbu dan menikmati setiap inchi tubuh pasangan." Ujar Bimo, ikut beranjak dari atas ranjang empuk itu.
"Iya sayang." Sahut Rara, memakai bajunya. Tapi, tangannya kini dihentikan sang suami.
"Koq sudah pakai baju?" tanyanya, menahan tangannya Rara yang sedang memakai baju. Rara menepis lembut tangannya Bimo yang menahannya untuk memakai baju.
"Jadi, kita gak pakai baju?" tanya Rara heran menatap sang suami yang mukanya masih pengen. Menepis lembut tangannya Bimo yang menahannya untuk memakai baju.
"Once again..?" ucapnya lembut tatapan sangat mendamba, jari telunjuk ngacung minta satu ronde lagi
"No, No no i am hungry baby..!" ujarnya mempercepat acara pakai baju. Dan Rara pun ngacir ke lantai satu.
"Ya ampun... Itu anak buat gemes!" umpat Bimo, mengambil baju di lemari dan menyusul sang istri ke lantai satu.
__ADS_1
Saat sampai di ruang makan, Rara memeriksa tudung saji. Semua makanan sudah disiapkan Bi Sakinah. Rara tersenyum melihat cara kerja Bi Sakinah yang sangat total itu. Sangat loyal pada mereka. Tanpa dikasih tahu, Bi Sakinah sudah tahu apa maunya.
Bimo yang sudah sampai di ruang makan, langsung memeluk sang istri dari belakang. Rara sedang menyendok nasi dan lauk ke piring mereka berdua.
"Eemm... Aroma masakannya Bi Sakinah enak. Seenak kamu!" bisik Bimo manja di daun telinga Rara. Yang membuat wanita itu kegelian.
"Masakan Bi Sakinah, terus saja di puji
Masakanku gak pernah." Rara menampilkan ekspresi wajah masam.
"Emang kamu pernah masak sayang?" Bimo yang gemes dengan sang istri yang pura pura merajuk, menggelitik pinggangnya Rara.
Tawa Rara pecah di ruang makan itu, ia gak tahan dengan gelitikan.
"Masak apa?" kini Bimo sudah di kursi, menatap Rara dengan senyam senyum. Malam ini ia merasa bahagia sekali. Walau dapat masalah banyak, yang penting sang istri tetap mensuport.
"Masak air. Hehehe... Sudah ahhkk... Kita makan, lapar... "
"Habis makan, aku akan makan kamu lagi. Jadi kamu harus makan yang banyak. Agar ada tenaga bergulat nanti. Malam ini kita lembur ...!" ujar Bimo semangat, menyendok kan lagi nasi ke piring sang istri.
"Oh tidak, makan banyak karbohidrat bisa buat Endut...!" Rara memindahkan nasi dari piring nya yang diambilkan Bimo, ke piringnya Bimo.
"Aku suka cewek Endut...!" ujar Bimo menyiapkan nasi ke mulutnya Rara.
__ADS_1
Rara merasa senang karena disuapi.
"Aku tak mau Endut...!" jawab Rara tertawa kecil.
"Ya jangan Endut kali lah. Berat badan 60 kilo gram, mangap itu. Kamu harus nambah berat 15 kilo lagi. jar enak meluknya. Dan ini agar tambah besar." Menyomot gunung kembarnya Rara sebelah kiri.
"Iihhh... Nyebelin....! kita lagi makan...!" Protes Rara kesal. Tapi, wajahnya terlihat lucu, karena menahan tawa. Ia merasa mereka jadi seperti anak anak yang ribut saat makan.
"Iya, kita diam sekarang." Bimo kembali fokus ke piring di hadapannya. Walau sesekali ia melirik Rara.
Saat asyik menyantap makanan, terdengar suara bel dengan tak sabarannya.
"Siapa yang datang ?" tanya Rara melirik Bimo dengan serius. "Apa ibunya Alva lagi?"
"Gak tahu sayang. Semoga bukan ibunya Alva."
Bimo hendak beranjak dari duduknya. Tiba tiba saja Bi Sakinah keluar dari kamar.
"Aku saja tuan yang buka." Ujar Bi Sakinah ramah.
"Ia bi, kalau tamunya ibu Dewi. Jangan bukain pintu ya?!" ujar Bimo dengan malasnya. Ia sedang senang saat ini. Jangan sempat Ibu Dewi tamu itu. Bisa bad mood dia.
"Iya tuan, saya mengerti." BI Sakinah mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. Sedangkan Rara dan Bimo, terlihat tak benafsu lagi untuk makan.
__ADS_1
TBC