
Awali pagimu dengan rasa sayang. Sayang dengan diri sendiri. Sayang dengan orang di sekitarmu. Maka dunia akan menyayangimu.
Rara terbangun mendapati dirinya didekap erat oleh sang suami. Hatinya menghangat, matanya mengerjap ngerjap menatap lembut wajahnya Bimo di hadapannya. Sampai saat ini, ia sering tak percaya kalau sudah jadi istri, pria yang telah menjaganya dari bayi itu. Senyum penuh kesyukuran tercetak di wajah bantalnya. Jari lentiknya Rara tergerak untuk membelai wajah tampannya Bimo. Menatap takjub ciptaan sang Khalik di hadapannya. Kenapa suaminya ini semakin tua semakin tampan.
"Eemmm.... Sudah puas menatap wajah tampanku?" suara serak Bimo mengejutkan Rara. Ia cepat menarik tangannya dan berontak kecil dari dekapan sang suami. Ternyata suaminya itu sudah bangun. Padahal matanya masih tertutup.
PD sekali dia.
"Eeemmm... Semakin tua paman itu semakin narsis. Sok kegantengan jadi orang." Ujar Rara sudah berubah posisi jadi terduduk.
Bimo mendaratkan cepat kepalanya di pangkuannya Rara. Matanya masih tertutup dan sesekali menguap. "Aku memang ganteng. Limited edition, bersyukur kamu dapat aku."
Hahahaha...
"Bilang saja bujang lapuk gak laku-laku..!" ejek Rara, mengangkat kepalanya Bimo yang terpaku di pahanya. Bimo kesal dikatakan bujang lapuk.
"Hei sayang .. Ayo bangun, waktu shubuh sudah mepet ini." Masih berusaha menjauhkan kepalanya Bimo dari atas pahanya.
"Gak, enak saja bilang bujang lapuk!" merajuk seperti anak kecil. Wajahnya merengut sudah.
"Kan kenyataan nya begitu. Sudah berumur belum nikah juga. Jangan mudah tersinggung deh. Iihh... Berat tahu kepalanya..!"
Bimo sedikit tersinggung dengan ucapan Rara. Ia mengubah posisinya duduk di tepi ranjang membelakangi sang istri.
__ADS_1
"Jodoh, maut, rezeki itu sudah ada ketentuannya. Jadi jikalau ada orang nikah telat. Jangan bilang bujang lapuk, perawan tua. Itu kata kata yang kejam. Semua orang pasti ingin cepat dapat jodoh. Tapi, kalau belum datang jodohnya mana bisa dipaksa." Ujar Bimo dengan nada kesal.
Kening Rara mengerut mendengar ucapan sang suami. Kenapa jadi sensitif?
"Iya, maaf...! tadi hanya bercanda koq." memeluknya erat Bimo dari belakang. "Aku sangat bersyukur bisa berjodoh denganmu cinta. Dari kecil aku sudah mendambakanmu, mengidolakanmu. Gak disangka, keinginanku dikabulkan Tuhan." Menciumi ceruk leher sang suami lembut. Yang membuat Bimo terpancing.
Bimo melirik jam yang bertengger di dinding kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.50 Wib. Waktu subuh tinggal ujungnya saja. Ingin rasanya ia menjamah Rara pagi ini. Karena miliknya memang sejak bangun sudah tegang. Tapi, mana cukup lagi waktunya.
"Eemmm... Ayo sholat..!" Melepas belitan tangannya Rara di pinggangnya. Ia bangkit, meraih handuk yang tergantung di balik pintu. Keluar dari kamar menuju kamar mandi.
"Beneran marah?" ucap Rara bingung. Ia pun mengambil peralatan mandinya. Ia akan mandi di kamar mandi lain.
Waktu pun terus berputar, hingga siang hari Bimo terlihat bersikap dingin padanya. Suaminya itu terlihat sibuk. Berpergian dengan beberapa orang kampung dan tak mengajaknya. Bahkan habis makan pagi, Bimo juga langsung menjauh darinya. Mencari teman bicara, adik iparnya.
"Kak di kamar saja, gak usah ikut masak." Ujar Adiknya Bimo yang bernama Tuti dengan ramah. Kini mereka sedang di dapur, mempersiapkan makan malam.
"Bosan di kamar terus." Jawabnya dengan tersenyum tipis, membantu adiknya Bimo mengiris bawang.
"Eeem.... Emang ada apa ya kak? koq kelihatannya sibuk?" tanya Rara pada adiknya Bimo.
Adiknya Bimo tertawa tipis. "Jangan panggil kakak. Aku yang harus manggil kakak. Kalau gak manggil eda saja." Ujar adiknya Bimo masih dengan senyum ramahnya.
"Kan kamu lebih tua dariku. Kenapa gak boleh manggil kakak?" tanya Rara bingung.
__ADS_1
"Dalam ada Batak ada namanya partuturon, atau Tutur sapa. Kita bagusnya manggilnya eda. Nanti deh, eda bisa belajar dengan Abang Bimo." Ujarnya ramah.
"Ooohh gitu." Rara mengulum senyum. Adiknya Bimo asyik diajak bicara. Mengerti akan dirinya. Gak tahu deh, karena ini masih awal, atau memang aslinya adiknya Bimo memang baik dan hangat.
"Mak.... Mak... Ada tamu datang, pakai mobil Bagus!" lapor anaknya Tuti.
Rara dan Tuti langsung menoleh ke asal suara. Tapi, kini kedua matanya Rara sudah berkabut. Karena ia sedang mengiris bawang.
"Siapa?" tanya Tuti heran. Tamu dengan mobil yang bagus.
"Gak tahu Mak, gak kenal." Jawab si anak.
"Sebentar ya Eda, aku lihat tamu kita dulu." Ujar Tuti.
Rara yang merasakan matanya pedih, hanya bisa manggut manggut. Ia tak tahan lagi dengan perih akibat mengiris bawang. Maklum bekas anak sultan, mana pernah iris bawang.
"Oouuwwhhh..!" karena tak hati hati, pisau ditangan melukai jarinya dengan pisau kater yang tajam nya setajam silet itu.
"Rara...,! kamu kenapa..?"
Suara yang ia kenal terdengar penuh kekhawatiran.
TBC
__ADS_1