GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tamu itu


__ADS_3

"Ayo kita masuk aja sayang." Ucapan Rani didengar oleh Pak Kusuma. Ia pun mengalihkan tatapannya pada Rani dan Rara. Sebenarnya ia datang ke rumahnya Bimo. Mau bahas soal Rara yang dia klaim sebagai anaknya. Eehh... Gak tahunya istrinya sudah ada di rumah itu. Dan beberapa menit kemudian, Ezra malah datang juga ke rumah itu.


Jadilah Pak Kusuma mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Rara dan Rani. Karena istrinya Dewi malah datang ke rumah itu dengan tujuan berbeda dengannya yaitu, memohon agar kasus nya Alva dicabut.


"Ayo ma, kita tunggu saja kabar dari mereka Jangan memaksa." Pak Kusuma menarik kuat tangan sang istri. Ia tak mau istri nya itu buat keributan di rumah itu, yang menyebabkan Rara jadi menjauh nantinya.


Pak Kusuma berhasil membujuk sang istri agar keluar dari rumah itu.


"Bu, sudah saatnya pertanyaan Rara semalam dijawab." Ucapan Bimo yang tegas, menghentikan langkah Rara dan Rani yang kini menuju kamar.


Rani membalik badan, dan menatap Bimo dengan ekspresi wajah murung.


"Rara harus tahu semuanya Bu." Bimo kembali memberikan penekanan.


Rara menatap secara bergantian sang suami dan ibunya. Ia yakin suaminya itu sudah mengetahui sesuatu.


"Iya Ma, katakan padaku. Ayahku siapa?' Rara akhirnya mendesak Rani, menggoyang lemah tangan sang ibu.


Rani sudah mengubur dalam dalam kisah kelamnya ini. Dan akan selamanya menyembunyikannya. Tapi, sepintar-pintarnya menyimpan bangkai tercium juga.


Wanita yang lagi tertekan hatinya itu. Akhirnya berlari ke taman belakang rumahnya Bimo. Ia perlu menenangkan diri dan menutupi banyak oksigen. Karena ia merasa dadanya sangat sesak saat ini.


Rara mendudukkan bokongnya di bangku beton di sebelah sang ibu. Ia merangkum jemari ibunya itu, memberi penguatan pada sang ibu yang terlihat terpuruk.


Bimo jadi heran, seharusnya yang terpuruk adalah Rara. Tapi, kenapa malah Rani yang terlihat dilema.


"Aku sudah bisa menerima kenyataan koq Ma. Gak akan marah pada Mama." Ujar Rara menatap lekat sang ibu. Sangat tak sabar menunggu kejujuran ibunya itu.

__ADS_1


"Iya sayang, sebelumnya maafkan Mama ya!" menghela napas dalam, menyiapkan mental, untuk mengakui sebuah kesalahan.


Rara mengangguk dengan senyum tipisnya. Tak sabar menunggu sang ibu untuk berkata jujur.


"A, ayah, ayah, ka, kamu." Lagi lagi lidahnya Rani terasa keluh untuk bicara. Rasanya ia tak sanggup mengatakannya.


"Iya Ma. Siapa ayahku Ma?"


"Ayahmu pria yang datang bertamu tadi." Jawabnya cepat dan langsung mengakhiri tatapannya dengan sang putri.


Sejenak Rara berfikir. Hari ini ada dua pria yang datang bertamu ke rumah mereka. Yaitu ayah Ezra dan ayahnya Alva pak Kusuma.


Seketika kedua bola matanya Rara membeliak, sangat terkejut dengan ucapan sang ibu.


"Pak, pak Kusuma a, ayah ayahku Ma?" tanyanya dengan suara bergetar, meraih bahu sang ibu, menariknya pelan. Agar menghadap ke arahnya. Keduanya bersitatap, dengan perasaan berkecamuk. Rara sangat emosional mengetahui kenyataan ini. Kedua mata yang membelikan itu kini sudah berkabut.


Rani menganggukkan kepalanya lemah. Tertunduk malu, karena kelakuannya yang menyalahi norma.


Wanita yang melahirkan Rara itu pun menitikkan air mata.


"Pak Kusuma, berarti aku dan pria yang selalu menggangguku itu, saudara..?" bicara dengan mata berkaca-kaca. Menutup mulutnya dengan tangannya yang masih bergetar, karena menahan Isak.


Kenyataan ini sungguh mengejutkan buat Rara.


"Soal itu Mama kurang tahu sayang. Mungkin saja pria yang sedang dipenjara adalah adikmu." Ujar Rani masih dengan ekspresi wajah murungnya.


"Adik?.." menatap lekat sang Mama yang bicara tak berani menatapnya.

__ADS_1


"Ceritakan Ma, bagaimana hubungan Mama dengan Pak Kusuma. Kenapa aku bukannya anak Ayah Ezra. Mama melakukan kesalahan itu, sebelum menikah dengan ayah Ezra, atau sesudah menikah Ma." Cecar Rara pada Rani yang terlihat tak siap untuk bercerita.


"Ma, tolong ceritakan semuanya?" desak Rara dengan penasarannya. Mata yang berkabut itu, kini sudah tumpah air mata.


"Tak ada yang perlu diceritakan lagi sayang. Itu aib Mama. Sebisa mungkin Mama menutupi aib itu. Intinya itulah kenyataannya. Maafkan Mama sayang, Mama tak bisa jadi ibu yang baik untuk mu...!" Memeluk sang putri yang masih terisak.


Bimo yang dari tadi menguping pembicaraan keduanya. Akhirnya memberanikan diri untuk bergabung. Ia pun mengelus punggung sang istri yang masih dipeluk oleh sang ibu. Seketika Rara menoleh ke arah Bimo, karena merasakan sentuhan lembut di punggungnya.


"Sayang... Pak Kusuma ternyata ayahku!" ujarnya dengan terisak menatap Bimo. Pelukannya dengan sang ibu berakhir dan kini pasang suami istri yang berpelukan. Menumpahkan segala gundah gulana akhir akhir ini. Fakta yang tertutup rapat, terungkap sut.


"Iya sayang." Jawab Bimo tersenyum tipis, membalas pelukan hangat sang istri. "Sudah, jangan menangis lagi."


"Kamu sudah tahu sayang, kalau pak Kusuma adalah ayahku?" mengendurkan pelukan, menatap lekat sang suami.


"Iya."


"Kapan..? kenapa gak kasih tahu aku? Kenapa main rahasia? Aku itu dari kemarin sudah desak mama untuk mengatakannnya


Eehh.... Kamu juga tahu sayang." Muka yang sedih itu, kini cemberut sudah. Ia merasa Bimo tak jujur padanya.


"Bukan gak mau kasih tahu. Aku juga tahunya tadi malam saat di kantor polisi. Jadi, aku itu disuruh ke kantor polisi untuk bertemu pak Kusuma. Kirain kasus yang kita laporkan mau dibahas." Jelas Bimo dengan seriusnya. Kemudian menarik Rara ke pelukannya lagi.


"Sudah jangan menangis lagi ya sayang."


"Koq bisa pak Kusuma ayahku. Dan Alva saudaraku berarti. Kenapa harus ada pertemuan seperti ini." Isaknya dalam dekapan sang suami.


Bimo melirik ibu mertuanya yang dari tadi terbengong di tempat. Sepertinya ibu mertuanya itu sedang berpikir keras.

__ADS_1


TBC


__ADS_2