GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Menyusun rencana


__ADS_3

."Iya ma, tapi katakan dulu siapa yang neror mama?" Rara dibuat makin penasaran, siapa yang berani meneror Mama tercintanya.


Huufft...


Rani menghela napas panjang. Rasanya sangat berat menceritakannya.


"Ma, siapa yang meneror mama?" desak Rara menggoyang lengan sang ibu, yang masih berbaring di sebelahnya.


Ngung


Ngung


Ponselnya Rara bergetar di atas lantai papan itu. Mengetahui ponselnya ada yang menghubungi seketika ia senang, karena berharap yang menelponnya adalah Bimo.


Melihat siapa yang menelepon seketika, ekspresi wajah senang itu berubah jadi merengut.


"Walaikum salam ayah .!" Jawabnya lemas. Dan langsung memberi ponselnya pada Rani.


Rani yang tak mau bicara dengan Pak Kusuma, tak mau menerima ponsel yang diberikan Rara.


Akhirnya Rara terpaksa meladeni malas sang ayah bicara.


"Ada apa ayah?" ujarnya dengan wajah kusutnya.


"Kamu kenapa terlihat Bete begitu sayang?" Tanya Pak Kusuma lembut. Tak tersinggung dengan sikap Rara yang terlihat malas meladeninya bicara.


"Gak ada." Jawabnya ketus.


"Ayah sudah di jalan ni, mau jemput kalian, kita ke pasar malam." Terlihat pak Kusuma semangat di layar ponsel.


"Iya ayah." Rara yang boring, perlu mencari udara segar di luar. Bosan juga ia yang mondok itu. Bener kata ibunya itu, Rara pasti bosan nanti. Pas datang, ia masih Excited, karena mondok hal baru.


Panggilan pun terputus.

__ADS_1


"Ma, kita ke luar yuk malam ini?!" ujarnya memelas pada Rani. Ia sudah tahu pasti ibunya itu akan menolak. Makanya ia membuat wajah memelas.


"Gak bisa sayang, mama lagi mondok. Mana bisa keluar sembarangan." Jawab Rani enggan, merasa tak enak hati juga menolak permintaan sang putri.


"Ayolah Ma, aku tu lagi bad mood Ma malam ini. Aku pingin makan bakso setan Ma." Ujarnya masih memelas.


"Kamu telpon saja ayahmu, suruh bawa bakso setan, bakso beranak dalam kubur ke sini." Jawab Rani tertawa kecil. Ia merasa lucu tingkah anaknya yang mulai bosan mondok. Saat pertama datang semangat empat lima. Minta di daftarin jadi jemaah segala. Sok sok cuekin suami. Dan sekarang baru bilang bosan.


"Ya sudah kalau mama gak mau ikut. Aku pergi sendiri." Rara mulai siap siap. Dan saat hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ayahnya menelepon, mengatakan kalau pria itu sudah ada di luar gerbang.


Pak Kusuma sudah merasa enggan bertamu ke pondok itu. Karena memang ia sudah jadi bahan gosip pr nenek nenek di pondok itu.


"Ayolah Ma..!" Rara menampilkan ekspresi masam pada Rani.


"Iya, iya. Sebentar " Rani mengganti pakaiannya lebih modis. Tadinya ia memakai daster bahan katun twil dengan hijab bergo. Dan sekarang ia mengenakan gamis syar i bahan Maxmara silk dan hijab syar i. Rani terlihat sangat anggun, sudah seperti model islami.


"Aduhh.. Mamaku cantik Posan euy... Pantesan ayah ngejar ngejar terus...!" ujarnya menjawir dagu sang ibu yang lancip.


"Rara, yang sopan dong..!" Menurunkan pelan tangan sang putri dari dagunya.


Rara merasa senang sekali. Ia jadi lupa masalahnya yang mikirin Bimo yang membuatnya sampai gundah gulana. Ia merasa jadi punya keluarga yang lengkap. Dalam hati ia berdoa, agar Ibunya dan ayahnya bersatu


Sudah dua Minggu mondok, baru malam ini Rani keluar dari pondok itu. Sebenarnya ia merasa bahagia. Tapi, karena yang ajak keluar adalah pria yang tak ingin dijumpai nya. Jadinya ia merasa tak semangat.


"Eemmm.... Ayah, di pasar malammya ada yang jual bakso gak?" Tanya Rara mencoba mencairkan suasana yang seperti kuburan. Sudah 10 menit mobil melaju. Tapi tak da yang buka suara.


"Soal itu ayah kurang tahu sayang. Mau makan bakso?" Pak Kusuma melirik ibu dan anak itu dari spion. Tentu saja matanya yang melotot itu lebih fokus menatap Rani.


"Eeehh... Ayah, lihat jalan dong. Lihat ke depan, gak usah lihat kebelakang." Tegur Rara, Pak Kusuma hampir saja menyerempet sepeda motor.


"Oouuhh.. Astaga, ini karena ibumu yang terlihat sangat cantik malam ini." Pak Kusuma senyam senyum. Ia senang, Rani mau diajak keluar.


"Eemmm... Gombal!" ketus Rani, akhirnya suara yang dari tadi dirindukan pak Kusuma keluar juga. Terdengar mendayu di telinga, rasanya mau terbang di awan.

__ADS_1


"Gak gombal Ma, fakta. Mama memang cantik!" timpal Rara tersenyum lebar.


"Anak dan ayah sama saja. Asbun..!" pungkas Rani, melirik masam sang putri yang masih nyengir.


Sedangkan Pak Kusuma dari tadi senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.


Rara juga merasa sangat bahagia malam ini. Bersenda gurau dengan kedua orang tua.


Kini mereka sudah masuk ke pusat kota


"Kita makan bakso dulu, baru ke pasar malam." Ujar Pak Kusuma, memberhentikan mobilnya di depan sebuah warung bakso.


"Oke Ayah..!" Sahut Rara semangat.


Kini mereka sudah masuk ke dalam warung bakso itu. Yang menjual berbagai jenis bakso. Mau bakso biasa, bakso urat, bakso setan, bakso beranak, dan masih banyak jenis bakso lainnya. Selain jual bakso, warung itu juga menyediakan mie ayam, soto, gado gado dan ayam penyet.


"Kita makan bakso... !" ujar Pak Kusuma dengan salah tingkah nya." Mencuri curi pandang pada Rani. Sehingga wanita itu dibuat malu, ia pun hanya bisa menunduk. Rara merasa geli dengan tingkah kedua orang tuanya itu. Seperti baru kenal saja. Malu malu in.


"Dek, mau bakso apa?" Ujar Pak Kusuma lembut, memberanikan diri menatap Rani, yang masih menunduk. Sikap ya Rani membuat Pak Kusuma semakin gemesh.


"Bakso urat saja." Jawabnya melirik Pak Kusuma yang duduk di hadapannya. Ya posisinya Rani saat ini ada di sebelah kiri Rara dan di hadapan Pak Kusuma.


"Putriku yang cantik pesan bakso apa?" Pak Kusuma yang grogi jadi syok perhatian. Padahal ada waiters yang siap menanyakan pengunjung mau pesan apa.


"Bakso setan Ayah...!" Ujarnya semangat.


Waiters pun mencatat pesanan mereka.


Pak Kusuma terlihat meraba saku celananya. Karena ponsel yang ada di dalam saku celananya itu, bergetar. Ada yang menghubunginya.


Saat melihat nama yang memanggil. Ia pun permisi pada anak dan ibu itu, untuk mengangkat telepon. Kemudian Pak Kusuma, keluar dari warung bakso menuju mobil nya terparkir.


"Iya, mereka mau ke luar. Rencana berubah sedikit. Kami sedang makan bakso. Kamu sudah siapkan semuanya kan?" ujar Pak Kusuma pelan, kedua matanya terlihat waspada.

__ADS_1


"Ok, ok..! Baik, baik.. Mengerti." Ucapnya lagi, dengan mengulum senyum. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Sehingga ia terlihat sangat bahagia saat bertelepon itu.


TBC


__ADS_2