
Bimo pulang ke rumah dengan perasaan berkecamuk. Kesal bercampur kecewa kepada Jenifer. Wanita itu tega ingin menghancurkannya, padahal ia sudah menganggap wanita itu sebagai saudari sendiri. Tak terhitung lagi berapa banyak pertolongannya pada wanita tak tahu diri itu.
Huufftt....
Bimo menghela napas dalam, dan mengembuskannya kasar. Kini ia sudah memasuki pekarangan rumahnya dan matanya kini tertarik melihat tiga mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya. Ia dibuat jadi penasaran. Mobil siapa saja yang terparkir itu. Sama sekali ia tak mengenal ketiga mobil mewah itu.
Dengan perasaan tak tenang dan menduga duga, ia melangkah kan kakinya selebar lebar nya untuk masuk ke dalam rumah, yang ternyata pintu utama dalam keadaan terbuka.
Deg
Saat di ambang pintu. Ia kembali dikejutkan dengan penampakan orang orang yang ia kenal di ruang tamu itu, menampilkan ekspresi wajah ketat dan tegang. Tak ada aura kehangatan.
"Assalamualaikum....!" ujarnya dengan ekspresi datar. Ya suasana hatinya Bimo masih buruk, karena kasus Jenifer. Ditambah dengan melihat orang orang di ruangan itu juga sikapnya dingin, ia jadi bingung harus bersikap.
"Walaikum salam..!" Jawab semua orang di ruangan itu dengan ekspresi datar. Tapi, sedetik kemudian. Terlihat sang istri menghampirinya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bimo tak perlu menanyakan apa yang terjadi. Karena ia sudah tahu, apa maksud kedatangan tamu tamu di rumah mereka.
"Kamu baik baik saja kan sayang?" tanya Bimo pada Rara. Yang memegang tangannya seolah ingin mendapatkan perlindungan darinya.
"Ia sayang " Jawab Rara sendu, menatapnya sekilas dan kembali melempar pandangan ke semua orang di ruang tamu itu.
Bimo menggandeng Rara, berjalan ke arah tamu yang sedang duduk dengan tegang.
__ADS_1
"Apa kabar bos?" menjulurkan tangannya dengan penuh hormat. Dan sang bos yang dimaksud yang tak lain Ezra, menyambut uluran tangan itu.
Rara melepas genggaman tangannya dari sang suami. Dan akhirnya Ezra dan Bimo berpelukan.
"Sudah lama datang bos?" tanyanya sopan, masih berpelukan.
"Baru saja." Jawab Ezra tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya dari Bimo.
"Oohh... Maaf tak bisa hadiri pesta di kampung bos. Aku ada masalah." Ujar Bimo dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Ia, aku sudah tahu itu, makanya kami cepat cepat datang kemari. Kamu itu benar benar sombong. Kenapa tak memberi tahu dari awal." Kedua pria itu bicara dengan serius. Seolah lupa dengan keberadaan yang lainnya di tempat itu.
"Bukan begitu bos. Aku gak mungkin terus terus an minta bantuan." Sahut Bimo tersenyum kecut. Sebenernya ia malu dengan kejadian yang menimpanya. Karena kejadian ini, adalah hasil dari kecerobohannya.
Bimo mengikuti pergerakan matanya Ezra. Memperhatikan semua tamunya.
"Aku pamit dulu, ku tunggu kedatangan kalian di rumah secepatnya. Kita harus bicara, jika kamu masih menganggap aku sebagai bos mu." Ujar Ezra tegas. Bimo mengangguk lemah.
"Pak, pak Ezra. Tungguu...!" Ujar Istrinya Pak Kusuma yang bernama Dewi. Berjalan cepat mengejar langkah Ezra yang sudah di ambang pintu.
Ezra menghentikan langkahnya. Dan berbalik badan.
"Pak, ku mohon, cabutlah laporan itu. Kita bicarakan secara kekeluargaan saja pak. Ini hanya salah paham saja " Ujar Istrinya pak Kusuma dengan memelas. Mengatupkan kedua tangannya di hadapan Ezra.
__ADS_1
Ezra melirik Rara dan Bimo, kemudian istrinya Pak Kusuma.
"Keputusan ada di tangan putri saya. Kalau dia setuju diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Ya saya mau bilang apa lagi." Ujar Ezra dengan tersenyum tipis. Beranjak dari rumah itu.
Istrinya pak Kusuma langsung menghampiri Rara yang dari tadi terlihat bingung.
Sejak Ibunya Alva datang ke rumah itu, dan lima menit kemudian disusul ayahnya Alva. Rara dibuat heran dengan sikap sang ibu, yang tiba tiba saja gugup dan penuh kecemasan.
"Aku, aku gak bisa putuskan. Lebih baik ibu dan bapak pulang dulu. Kami sedang ada masalah lain yang harus kami tuntaskan. Kami sedang tak ada waktu membahas tentang anak bapak dan ibu yang tak punya etika itu." Sebelum sepatah kata keluar dari mulutnya ibu Alva. Rara sudah membatasi dirinya.
"Tapi, tadi pakai Ezra bilang, keputusan ada di tanganmu nak!" Ujar Ibunya Alva yang bernama Dewi itu.
"Ibu dan bapak silahkan pulang. Aku bicarakan duku dengan suami dan ibuku. Nanti tunggu kabar dari kami." Ujar Rara sedikit gugup. Jujur ia merasa sedang tertekan saat ini.
Pak Kusuma terlihat ingin angkat suara. Tapi, Bimo memberi kode dengan tatapan matanya. Sebaiknya pasangan suami istri itu pergi dari rumahnya.
"Bu, sebaiknya kita pulang. Kita tunggu saja kabar dari mereka." Pak Kusuma mendekati sang istri, menarik lembut tangannya. Dan kemudian melirik Rani yang dari tadi menunduk.
"Gak pak, kita harus dapat kepastian hari ini. Kalau bapak mau pulang. Sana pulang duluan. Gak usah ajak ajak aku. Toh kita datangnya gak barengan. Aku itu kecewa sama bapak. Dari semalam gak pulang ke rumah dan tiba tiba sudah nongol di sini." Ujar ibu Dewi penuh emosi. Yang membuat Bimo, Rara dan Rani tercengang. Pasangan itu malah ribut di rumah mereka.
"Kan sudah kamu dengan sendiri. Kalau mereka bicarakan dulu. Nanti mereka akan kabari kita." Bicara dengan merapatkan gigi. Ini ni yang tak disukai Pak Kusuma dari istrinya. Istrinya itu keras kepala.
"Ayo kita masuk aja sayang." Ucapan Rani didengar oleh Pak Kusuma. Ia pun mengalihkan tatapannya pada Rani dan Rara. Sebenarnya ia datang ke rumahnya Bimo. Mau bahas soal Rara yang dia klaim sebagai anaknya. Eehh... Gak tahunya istrinya sudah ada di rumah itu. Dan beberapa menit kemudian, Ezra malah datang juga ke rumah itu.
__ADS_1
TBC