GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Dikhianati 2


__ADS_3

"Apa kalian mau jadi kuli harian, membersihkan kebun stroberi yang masih tersisa serta mengurus cabe, bawang dan kawan kawannya itu?"


Hahahha...


Ujar Bimo dengan ekspresi wajah setresnya. Ia mulai menertawakan dirinya sendiri.


Dua pria di hadapannya hanya bisa terdiam serta ikut prihatin atas apa yang menimpa bos mereka.


"Mana laporan kinerjanya. Aku akan berikan gaji kalian. Untuk kali ini maaf, tak ada yang pesangon."


Huufftt...


Bimo kembali menarik napas. Seperti nya ia jadi merasa kesusahan menghirup udara, karena dadanya yang terasa sesak dan sakit itu.


"Baik pak." Kedua karyawan yang tersisa mengambil laporan kinerja harian dan memberikan pada Bimo. Ia kembali memeriksanya.


"Ini terima lah gaji kalian. " Bimo menyodorkan di amplop coklat di hadapan Rafly dan Ferdy. Walau dikatakan bangkrut, ia masih ada sisa uang gaji dua karyawan.


Rafly dan Ferdy saling pandang.


"Ememm.. Kami masih mau bekerja satu minggu lagi, menggenapkan satu bulan penuh." Ujar Rafly menatap lekat Bimo yang terlihat tertekan itu.


"Mau kerja apa kalian di sini? tak ada yang bisa dikerjakan. Proyek pembangunan juga besok akan stop. Mau kerja apa?" ujar Bimo dengan frustasinya.

__ADS_1


Tadi siang ia baru memeriksa laporan uang yang ditarik. Sungguh Bimo kecolongan besar. Salah memberikan kepercayaan. Memberi surat kuasa penarikan uang di bank kepada Romi.


Di malam sebelum berangkat ke kampung. Bimo dan Romi sudah membicarakan baik baik di telpon. Terkait pencairan uang untuk beli material bangunan dan biaya lainnya. Bimo tak menyangka Romi akan menggelapkan uang itu. Ini yang dia kesalkan. Ia salah mempercayai orang.


"Apa saja yang bisa dikerjakan pak. Bekerja di kebun stroberi dan cabe juga gak apa apa. Cabe lagi mahal pak, kami akan bekerja di kebun saja " Jawab Romi serius.


Hahaha..


Bimo kembali tertawa, ia yang setres jadi ingin menertawakan diri sendiri. Sakit sekali kepalanya. Mau pecah rasanya memikirkan keteledorannya.


"Iya pak." Timpal Ferdy juga. "Cabe lagi mahal pak."


"Suka kalian lah. Satu yang harus kalian jaga, ini semua jangan diketahui komisaris kita."


"Ia gak boleh tahu. Kalian boleh pulang. Kalau mau masih tetap bekerja denganku. Silahkan!" pungkasnya tegas.


Bimo yang gundah gulana itu, membuang pandangannya. Ia tak sanggup melihat tatapan karyawannnya yang menaruh kasihan padanya.


"Kami akan terus bekerja dengan bapak. Jadi kuli harian di kebun juga gak apa apa pak? semoga kita dapat Dana pinjaman. Dan usaha yang terkendala ini bisa kita lanjutkan." Usul Romi penuh semangat.


"Gak akan ada yang mau kasih modal, pada usaha yang gak akan berkembang. Aku gak mau menahan kalian. Menghambat jenjang karir kalian." Ujar Bimo kesal. Kedua karyawannya sudah diusir, malah gak mau pergi.


"Kita harus coba pak. Jangan menyerah! kegagalan bukanlah sesuatu yang buruk. Kejadian ini bahkan bisa mendatangkan dampak positif jika kita menyikapinya dengan positif pula pak. Anggaplah ini sebagai kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan strategi yang salah selama ini.

__ADS_1


"Kesalahan kita telah terlalu percaya dengan sifat polos nya Romi. Kami pun tidak curiga sama sekali pak padanya. Tapi, lihatlah ia menyalah gunakan surat kuasa pengambilan uang dari bank. Bukannya digunakan untuk perusahaan malah dibawah kabur." Ujar Ferdy sedih.


"Ia, jangan bahas itu lagi. Tak ada gunanya. Kalian pulanglah!" tegas Bimo.


Ia ingin menyendiri, memikirkan apa yang akan dilakukan untuk selanjutnya.


Sudah pukul 22.45 Wib. Rara sudah tak tenang di rumah. Dari tadi siang ponsel suaminya itu tak pernah aktif. Dan sekarang belum pulang ke rumah. Rara sangat mengkhawatirkan Bimo. Sejak pergi siang tadi, Bimo gak ada kabar.


Rara berpikir positif sih, mungkin suaminya itu sedang mengurus cafenya yang terbakar. Tapi, masak sudah tengah malam belum pulang juga.


Ia yang tak tenang itu, turun ke lantai satu. Menjumpai Bi Sakinah di kamarnya, untuk mencari keberadaan Bimo di kantor.


Bi Sakinah yang sudah tertidur, tetap mau menemani Rara ke kantor suaminya. Tentu saja mereka ditemani oleh penjaga rumah pak Narto. Mereka naik sepeda motor. Rara membonceng Bi Sakinah sedangkan pak Narto mengawasi mereka dari belakang.


Saat masuk ke parkiran kantor nya Bimo. Rara merasa sedikit legah. Karena ia melihat mobil sang suami terparkir di situ. Itu artinya Bimo masih ada di kantor itu.


"Ayo Bi, kita masuk ke dalam!" hanya ada satu lampu yang menerangi beranda kantor itu. Hal itu membuat Rara sedikit takut.


Saat masuk ke ruang tamu kantor. Rara menyalakan lampu. Kemudian dengan menggandeng Bi Sakinah mereka masuk ke ruang kerjanya Bimo.


Saat pintu terbuka, Rara dikejutkan dengan keadaan Bimo yang terduduk di kursi dengan wajah ditelungkupkan di atas meja kerjanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2