GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Masa lalu


__ADS_3

"Kenapa harus ada kejadian tak mengenakkan dengan keluarganya ayah." Ujar Rara sedih, menatap sang ibu dan sang suami secara bergantian. Mereka masih berada di taman belakang rumahnya Bimo. Yang menawarkan view yang indah.


"Harusnya tak ada kejadian menyakitkan pertemuan dengan Alva." Ujarnya lagi berdecak kesal. Tak terima kenyataan perseteruan yang terjadi Antara Bimo dan Alva.


Bimo saat ini hanya bisa jadi pendengar yang budiman. Ia tahu hati sang istri masih terguncang dengan kenyataan yang baru terungkap.


"Sudah, itu tak usah kita bahas lagi sayang. Lihat suamimu begitu sayang denganmu, sudah buat Mama legah. Untuk apa lagi kamu bahas ayahmu yang tak punya tanggung jawab itu." Ujar Rani sedih, kalau mengingat masa lalunya yang kelam, ia sering mengutuk dirinya.


"Gak tanggung jawab gimana Ma?" ujar Rara bingung. Ibunya itu dari kemarin selalu memberi clue yang tak jelas tentang hubungannya dengan ayahnya Rara. Ditanyain cerita detail gak mau bercerita. Tapi, selalu memberi clue yang buat penasaran.


Rani membuang pandangannya, seolah tak mau membahasnya lagi.


"Jangan desak ibu, nanti juga ibu akan cerita. Saat ini ibu sedang tak siap untuk membahasnya. " Ujar Bimo tersenyum lebar. Meraih jemari sang istri dan mengecupi penuh sayang.


Perlakuan Bimo kepada putrinya itu sungguh membuat Rani terharu. Ia yang tak mau mengganggu keromantisan pasangan suami istri itu. Memilih meninggalkan tempat itu. Baru juga melangkah satu meter. Ponsel dalam tas mewah merek H*rmes nya berdering.


Ia merogoh tasnya dengan tak semangat. Karena ia sedang malas berkomunikasi dengan siapapun.


Ada nomor baru yang menghubungi. Ia pun merijek panggilan itu. Karena ia merasa tak perlu bicara dengan orang yang tak ia kenal.

__ADS_1


Rani kembali melanjutkan langkahnya, ia akan pergi ke suatu tempat. Tempat yang buat pikiran fresh.


Ngung..


Ponselnya kembali bergetar, bunyi notifikasi pesan masuk. Ia tak mau tahu siapa yang menelponnya itu. Yang ia inginkan saat ini pergi menyendiri dan tak membahas masa lalu, yang membuat dada sesak mengingatnya.


Huufftt..


Rani menghela napas dalam, ia melakukannya berulang kali. Setelah merasa tenang. Ia pun melajukan mobilnya.


Sepanjang jalan, kilat kilat masa lalu menyambar memorinya. Yang membuatnya kesal akan hal itu. Kenapa harus bertemu lagi dengan sang mantan. Dulu disaat ia berhasil menjebak Ezra untuk menikahinya ia sudah berniat menata hidup baru. Sangat bersyukur, Allah masih memberinya pertolongan. Karena Allah menutup aibnya.


Saat pelayan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan itu. Tiba tiba saja, ada seorang pria ikut nyelenong masuk.


"Ka, kamu...?" ujar Rani terkejut. Karena pria yang ikut masuk ke ruangannya adalah Pak Kusuma.


Pak Kusuma menyunggingkan senyum tipis, berusaha menutupi rasa gugupnya di hadapan Rani.


"Mau apa kamu? kamu ikuti saya?" ekspresi wajah Rani sungguh tak bersahabat.

__ADS_1


"Iya, aku tak akan tenang jika tak bicarakan semuanya pada kamu." Bicara lembut dengan nada bicara penuh rasa bersalah.


"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jangan usik hidupku lagi." Ujar Rani membuang pandangannya cepat. Karena tak sanggup ditatap lekat Pak Kusuma.


"Maafkan aku!" mengatupkan kedua tangan nya dengan wajah memelas


"Sudah ku maafkan. Sebaiknya anda pergi dari sini." Rani menunjuk pintu kaca ruangan itu. "Apa sih maumu, masih gangguin aku. Mau jelasin apa? jelasin, kamu yang tiba tiba menghilang dan minggu depannya muncul di berita kalau sudah kawin dengan wanita lain. Jahat kamu..!" Menatap tajam Pak Kusuma yang terlihat penuh rasa bersalah.


"Aku masih mencintaimu sampai saat ini." Pak Kusuma, malah curhat.


"Haaaahhh.... Dasar laki laki gila, keluar kamu. Jangan kau hancurkan hidupku lagi ya? cukup sudah aku kemakan rayuanmu dulu. Hingga hidupku hancur. Jangan kamu porak porandakan hatiku lagi. Aku bukan anak ABG lagi, yang mau rasakan patah hati." Ujar Rani dengan penuh emosi. Dadanya naik turun sudah dengan mata melotot tajam.


Apa maksud pria ini mengatakan itu. Jelas ia sudah berkeluarga dan masih bisa mulutnya itu mengatakan cinta. Rani yang tak mau kena serangan jantung, karena emosi. Bangkit dari duduknya, mending ia pergi dari tempat itu. Dari pada satu ruangan dengan orang yang sudah pernah buat kecewa.


Grapp...


Rani benar benar kena serangan jantung. Kedua tangannya Pak Kusuma sudah membelit kuat di pinggangnya.


"Jangan pergi dulu. Kita bicarakan baik baik. Kamu perlu dengar penjelasanku." Ujar Pak Kusuma lembut, yang membuat Rani merinding mendengarnya. Apalagi Pak Kusuma bicara tepat di telinganya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2