GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Seperti kenal


__ADS_3

Sejak selesai resepsi di kampung. Zahra memilih tinggal di kampung saja. Karena ia mau mengurus perusahaan sendiri tambang emas mahar dari sang suami.


Ezra sudah melarang istri nya itu untuk tidak pergi ke kantor untuk bekerja. Biar saja ia di rumah, kalau soal pemasukan tambang emas 100 %, akan diberikan padanya. Tapi, Zahra yang punya prinsip long life education, tentu saja tak setuju dengan tawaran sang suami. Ia mau terjun langsung mencari ilmu dari pengalaman sendiri. Tentunya ia juga meminta bimbingan soal urusan kantor.


"Sayang, sore nanti kita ke tempat mondok nenek ya?!" Zahra menatap lekat sang suami. Kini mereka sedang berada di dalam mobil. Mereka akan pergi ke kantor.


"Boleh, kita sudah seminggu gak jenguk nenek." Sahut Ezra, tersenyum manis pada Zahra yang masih menatapnya takjub.


Entahlah Zahra merasa ketampanan suaminya itu semakin menggoda iman saja. Makin tua makin menjadi daya pikatnya.


"Jangan menatapku seperti itu?" Ezra menyapu lembut wajah sang istri dengan jemarinya. "Aku bisa grogi dengan tatapan mematikan itu "


"Habis Hubby semakin tampan dan terlihat lebih muda." Ujar Zahra masih dengan ekspresi takjub nya. Matanya tak berkedip saking takjub pada wajah tampan di hadapannya.


"Ya nular dari kamu lah sayang. Kamu kan masih muda, jadinya suamimu ini, ikutan muda juga." Ezra yang gemes dengan sang istri. Mencapit hidung mancungnya Zahra dengan jari telunjuk dan jempolnya.


Tentu saja Zahra berontak. Pasalnya Ezra mencapitnya kuat. Hidung nya yang putih kini kemerahan jadinya.


"Iihh... Bisa gak sih, gak mencapit hidungku setiap hari?" protes Zahra, menggosok lembut hidungnya yang terasa panas, karena habis dicapit sang suami.


"Gak bisa, habis kamunya gemesin. Apalagi pakai baju kek gini." Ezra menilai penampilan Zahra dari kepala hingga kaki. Gaya yang santai dengan gamis yang tetap sopan. Jadi, walau memakai gamis dan hijab syar i, penampilan Zahra masih tergolong kren. Outfid yang dikenakannya selalu cantik di pandang mata, padahal ia sedang hamil.


"Iya, tapi gak tiap hari juga capit hidungku. Aku tahu, kalau aku ini cantik dan menarik. Gak usah Hubby bilang, aku juga sudah sadar. " Jawab Zahra dengan narsisnya, yang membuat Ezra semakin gemes pada sang istri. Ia pun menarik Zahra dalam dekapannya. Satu tangan mengelus perut sang istri yang sudah terlihat buncit itu, karena kandungan Zahra sudah masuk empat bulan.

__ADS_1


Memeluk Zahra sambil membelai perutnya, adalah hal yang sangat menenangkan buat Ezra. Dia tak menyangka akan punya rumah tangga yang seharmonis ini. Punya istri muda, cantik dan pekerja keras serta solehah lagi. Mungkin inilah hasil dari kesabarannya selama ini dalam hal penantian pendamping. Karena dipernikahan yang pertama ia tak mendapatkan kebahagiaan.


"Bos, kita sudah sampai." Ujar sang supir, menatap Ezra dan Zahra dari spion. Pasangan suami istri malah tertidur.


"Bos...!" Sang supir kembali memanggil Ezra lembut. Koq bisa masih pagi sudah tertidur? terlalu nyaman memeluk seseorang, mana tadi malam mereka begadang main kuda kudaan, ditambah AC mobil yang sejuk, membuat mereka mah tidur.


"BOS...!" Sang supir menaikkan satu oktaf suaranya.


"Iya, iya, sudah sampai..?" memperhatikan sekeliling, ya mereka sudah di parkiran.


"Sayang... Sayang.. Bangun!" Ezra membelai lembut wajah sang istri. Dan Zahra pun terbangun.


Mereka saling tatap, dan akhirnya sama sama tertawa kecil. Menertawakan diri mereka sendiri, yang masih pagi tertidur di dalam perjalanan.


Waktu terasa cepat berlalu. Apalagi seharian ini pasangan suami istri itu menghabiskan waktu bersama di kantor. Biasanya Ezra ada meeting di luar, dan akan kembali ke kantor saat mau apel pulang. Tapi, hari ini kesibukannya banyak di kantor.


"Iya pasti dong!" tersenyum pada sang istri, dan kemudian kembali fokus ke layar datar di hadapannya. Ya Ezra di perjalanan masih menyempatkan memeriksa email.


"Tapi, itu sudah lewat untuk beli ole ole nya." Ujar Zahra lemas.


"Haaaahhh.. Lewat, kita belum sampai di kota sayang. Nanti kita beli di supermarket saja di mall." Ya ceritanya di kampung mereka di kotanya sudah ada mall.


"Di mall mana ada pisang goreng dan pecal ulek. Nenek sukanya itu." Tegas Zahra.

__ADS_1


"Oohh iya ya? Hubby sampai lupa, kalau nenek makanan favoritnya goreng pisang." Ezra tertawa tipis. Istrinya itu sejak hamil, apaa yang diinginkan kalau tak dituruti, pasti jadi merajuk.


"Putar balik pak!" titah Ezra pada sang supir. Mereka akan ke warung penjual gorengan langganan mereka. Di warung itu tak hanya menjual gorengan. Tapi, ada juga pecal, misop dan mie balap.


Wajah sang istri langsung sumringah disaat keinginannya diwujudkan sang suami. Ternyata ia sedang ingin makan pecal ulek juga. Pecal di warung itu sangat enak menurut Zahra. Karena pastanya sangat kental dan gurih. Sayurnya juga banyak, bahkan ada daun pepaya nya serta bunga pepaya. Yang membuat semakin selera saat memakan pecal itu.


Ezra sangat bangga pada istrinya itu. Seleranya makanan kampung semua, yang terbebas dari bahan kimia.


Puas makan pecal, mereka melanjutkan perjalanan, yaitu ke tempat Nek Ifah Mondok.


Saat mereka sampai di tempat Nek Ifah Mondok. Ternyata para pemondok yang kebanyakan lansia itu sudah selesai sholat berjamaah di mesjid dan juga sudah mendengarkan ceramah dari ustadzah nya. Pondok itu khusus untuk kaum hawa.


Pondok itu sangat sederhana dan terletak di perkampungan. Tempat nya masih sangat asri, karena kita tak akan mendengar suara bising kendaraan di sana. Bahkan di siang hari, yang terdengar suara jangkrik.


Setiap jemaah yang mondok difasilitasi tempat tinggal berupa pondok yang terbuat dari kayu atau bambu. Setiap satu pondok dihuni satu orang. Pondok yang terbuat dari kayu atau bambu itu hanya berukuran 2x3 meter. Di dalam pondok kecil itu, sudah dilengkapi tungku, bagi yang ingin memasak sendiri. Dan untuk jemaah yang tidak bisa memasak. Bisa cateringan, ada penduduk yang menyediakan jasa memasak untuk jemaah.


"Heran sama nenek, kenapa memilih mondok di sini?" ujar Ezra datar, memperhatikan penampakan pondok dari halaman yang luas. Ada jejeran pondok yang terbuat dari kayu atau bambu beratapkan Rumbia bahkan dari ilalang. Ia bisa memondokkan Nek Ifah di pondok yang modern dengan fasilitas yang lengkap.


"Nenek sudah biasa dengan kesederhanaan sayang. Yuk aakhh... Kita sholat ashar dulu, sebelum bertemu dengan nenek." Ujar Zahra dengan senyum bahagia, ia senang akhirnya bisa bertemu Nek Ifah, sudah satu minggu dia gak bertemu dengan sang nenek.


Pasangan suami istri itupun menyeret langkahnya menuju Mesjid dan berwudhu. Saat memasuki Mesjid, kedua matanya Zahra tertarik untuk melihat ke arah sosok wanita yang sedang mengaji dengan suara pelan dan terdengar merdu. Ia seperti mengenal suara itu.


Zahra yang penasaran, mencuri curi pandang pada wanita yang masih mengenakan mukena itu. Dari gestur tubuh serta mukena yang dikenakan, wanita yang diperhatikan nya itu seperti nya masih muda.

__ADS_1


Zahra meniatkan akan berkenalan dengan wanita itu, setelah selesai sholat.


TBC


__ADS_2