GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Kena tabok


__ADS_3

"SAH....!"


Ujar para saksi.


"Yes..!" teriak Bimo semangat.


Target tercapai sudah. Sang istri malam ini akan tidur bersamanya. Karena tak mungkin sekali Pak Kusuma mengizinkan putrinya, tidur bareng mamanya.


Pak penghulu melanjutkan dengan berdoa.


"Iihh.. Koq kamu yang paling semangat sih sayang?" ujar Rara, mencubit sedikit pinggang sang suami.


"Aaauuuww... Sakit tahu " keluh nya yang membuat semua mata kini tertuju pada mereka.


Hehhe .


Mereka tertawa kecil, karena dilihatin orang orang di ruangan itu. Kecuali kedua pengantin yang terlihat kikuk dan salah tingkah.


Yang paling salah tingkah adalah Pak Kusuma. Ia terlalu bahagia, hingga tak bisa berkata kata. Matanya terus saja memandangi sang istri yang ada di hadapannya.


"Ayo pak, pakaikan maharnya!" titah pak penghulu.


Tangannya Pak Kusuma terjulur, dengan perasaan tak karuan. Rani pun mendekatkan jemarinya.


Cincin berlian itu pun kini melingkar indah di jari manisnya yang lentik.


Grap...


Pak Kusuma yang salah tingkah mencium cepat tangan wanita yang masih tertekan itu, dan merangkum wajah Rani, mencium keningnya. Sontak kelakuan Pak Kusuma membuat Rani terkejut. Mana ia belum siap untuk menikah.

__ADS_1


Pukk...


Tangan Rani refleks melayang menampar Pak Kusuma.


Deg


Rasanya memalukan sekali, kena tabok setelah ijab kabul. Gimana nanti malam pertama nya.


"Aduuhhh... Ada yang tak sabaran. Main nyosor..! sang istri belum salaman sudah main cium terus. Gimana gak kena tabok." ujar Pak penghulu ngebanyol. Sontak suara riwuh orang tertawa membuat ruangan itu ramai.


Hahahha


"Sebaiknya malam pertamanya lebih safety lagi pak. Takutnya kena tendangan maut lagi." Kini Bimo yang ngeledek.


Hahahaha...


Rani sangat malu sekali. Wajah cantiknya memerah sudah. Ia pun hanya bisa menunduk saat ini. Berharap bisa cepat meninggalkan tempat itu . Ia jadi bahan olok olok, karena sang suami yang nyosor tak tahu tempat.


"Sayang, bawa ibu ke kamar. Seperti nya ibu tertekan." Bisik Bimo pada sang istri.


Jelas Rani tertekan. Ia belum siap untuk menikah. Ia bisa dikatakan terpaksa. Dan tadi, gara gara kelakuan Pak Kusuma. Ia malu sekali.


"Ma, ayo kita ke kamar." Rara membantu sang ibu untuk berdiri. Rani yang tertekan, itu tak bisa menyeimbangkan tubuh nya. Saat Rara membantu nya berdiri. Pak Kusuma dengan cepat ikut memapah Rani, menuju kamarnya.


Tadinya Pak Kusuma ingin mengendong sang istri. Tapi, ia takut melakukan nya. Takut ditolak.


"Ayo pak, ibu, kita cicipi dulu hidangannya." Walau acara dadakan. Bimo tentu saja sudah menyiapkan semuanya. Saat ini ia yang ambil alih menemani para tamu yang hadir di acara nikah sirih itu.


Sesampainya di dalam kamar yang luas dan mewah. Terlihat ranjang pengantin baru sudah dihias dengan banyaknya bunga mawar.

__ADS_1


Rara dibuat takjub. Ibunya seberuntung ini. Malam pertama dapat hiasan kamar yang sangat romantis. Mana dapat suami kaya melintir.


"Rara sayang, ambilkan makanan untuk mamamu sayang?!" titah Pak Kusuma lembut pada Rara yang masih berdiri disebelah sang ibu. Rani sudah duduk di atas sofa. Ia tak mau didudukkan di atas ranjang yang penuh dengan bunga segar dan wangi itu.


"Iya Ayah." Rara keluar dari kamar itu dengan perasaan senang. Akhirnya ayah dan ibunya bersatu.


Sesampainya di lantai bawah, Rara terlihat mengambil makanan. Bimo menghampiri sang istri.


"Ini kita makan di piring yang sama." Bimo menunjukkan makanannya yang ada di tangan nya.


"Ini bukan untukku sayang. Ini untuk mama." Jawabnya lembut. Ya mereka sudah baikan. Pikiran pikiran negatifnya pada sang suami. Terkait pernyataan suka pada Anin, sudah tak dipikirkan nya lagi.


"Ooiuuww... Sebentar aku suruh ART yang antarkan. Kamu gak usah ke sana lagi. Kamu mau mengganggu malam pertama mereka?" tanya Bimo serius.


Rara menggeleng.


"Bagus... Kita jangan ganggu mereka. Biar kamu nanti punya dedek bayi." Ujar Bimo mengelum senyum.. Ia merasa lucu dengan ucapannya.


"Bukan hanya dedek bayi, tapi juga anak..! Ayokk... kamu harus makan dulu, agar ada tenaga nya."


"Iihh... dari tadi bicara nya ngawur terus.. Kayak orang Korslet." Ujar Rara, kini duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah Bimo.


"Iya, aku korslet gara gara kamu. Sudah lima hari aku puasa. Untuk pengantin baru, itu harus tiap hari dilakukan. Kecuali tadi gak pengantin baru lagi. Baru 3 kali seminggu." Ujar Bimo lembut. Ekspresi wajahnya terlihat senang. Seperti dapat lotere miliaran saja.


"Makanya jangan buat istrinya cemburu." Ujar Rara, Sok jutek. Padahal juga kangen begituan.


"Iya, maaf kalau aku ada salah sebut." Ujar Bimo sok sedih. Tapi, ia tetap menyuapi sang istri makan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2