GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Dilema


__ADS_3

Percuma saja Rara beradu argumen dengan pak polisi. Karena memang yang dibutuhkan adalah pembuktian. Rara yang merasa buang waktu bicara dengan pihak berwajib. Meminta pak polisi mengantarnya ke tempat sang suami di tahan.


Rara mengikuti langkah pak polisi, begitu juga dengan Alva. Rara tak suka Alva mengikuti nya. Ia pun berbalik badan.


"Mau ke mana kamu?" ketusnya pada Alva.


"Mau ke dalam, mau melihat keadaan suamimu yang sok itu." Jawab Alva enteng, dengan senyum tipisnya. Entah kenapa dia merasa Rata lucu saat marah.


"Pak, aku tak ingin ada keributan lagi. Ini orang yang selalu cari ribut, hingga suamiku ditahan. Aku mohon, suruh dia pergi!" ujar Rara pada Pak Polisi mengatupkan kedua tangannya.


Pak Polisi melirik Alva yang memberikan penolakan dengan tangannya.


"Kamu kenapa ikuti aku terus? kamu itu buat masalah di hidupku. Sebaiknya kamu pergi..!" mendorong tubuh pria itu dengan kuat. Kalau pria itu datang bersama Rara, menjenguk Bimo, ya pasti Bimo bakalan kebakaran jenggot.


"Iya, aku pergi!" ujar pria itu membalik badan, keluar dari kantor polisi.


Dari jarak tiga meter, Rara sudah melihat sel tahanan suaminya. Di sel itu ada tiga orang. Dan terlihat Bimo duduk di sudut sel itu dengan satu kaki ditekuk dan satu kak lagi berselonjor. Kedua tangan memegang kepala dengan frustasinya.


Peng


peng


peng


Pak polisi memukul besi tahanan. Sehingga menimbulkan suara berisik. Menginformasikan kepada tahanan, bahwa ada tamu. Karena ketiga orang yang ada di tahanan sementara itu, sedang tafakur, tak memperdulikan sekitar. Semua tahanan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Pak Bimo ini istri anda!"


Dug


Dug

__ADS_1


Bimo yang terkejut mendapati sang istri mengunjungi, bergegas bangkit dari duduknya. Dengan cepat menghampiri Rara. Ia langsung menarik tangan sang istri dari celah jeruji besi.


Matanya memerah dan berkaca kaca. Ia sangat takut, Rara akan meninggalkannya, karena masalah ini. Apalagi ada pria kaya yang lagi mengejar ngejar istrinya itu.


"Kamu baik baik saja kan sayang?" bicara lembut dengan tatapan sedih pada sang suami. Jujur Bimo sangat sedih. Ia baru saja berbaikan dengan Rara. Malah sudah dapat masalah seberat ini.


"Iya sayang," Rasanya angin dari surga telah menerpa hati dan wajahnya Bimo. Sejuk damai disaat sang istri memanggilnya sayang. Ia seolah lupa kalau ia sedang dalam kerangkeng.


"Syukurlah, jangan tinggalkan aku ya sayang. Aku pasti bisa keluar dari sini." Ucapan frustasinya Bimo, membuat Rara tersentuh. Pamannya itu benar-benar mencintainya.


"Kamu bawa ponselku kan?" Rara mengangguk cepat.


"Mana sayang?" tangannya Bimo menengadah.


Rara dengan cepat merogoh tas nya.


Pak Polisi terlihat mengawasi pergerakan Bimo. "Gak boleh pakai hape di tahanan." Ujar Pak Polisi. Menyita hape dari tangan nya Bimo dan kembali memberikan nya pada Rara.


Rara menitikkan air mata, ia teringat saat ia ditahan dulu. Bimo yang mengurusnya. Sehingga ia tak jadi masuk penjara dan akhirnya direhabilitasi saat ketangkap menyalah gunakan nar koba.


"Aku akan ke rumah ayah. Minta bantuan ayah. Aku akan minta ayah cari pengacara yang bagus" Rara yang tak bisa menahan emosinya menangis sudah dengan sesenggukan.


"Jangan, jangan ganggu bos Ezra. Ini masalah kecil, aku bisa mengatasinya." Tentu saja Bimo takut. Ia tak mau Ezra tahu, sikapnya yang kejam pada Rara terungkap. Bisa bisa ia tak keluar keluar dari tahanan dan Rara pasti dipisahkan dengannya. Mana Rara sekarang dikejar kejar pria ganteng dan kaya.


"Kecil, ini bukan masalah kecil. Lihatlah entah siapa yang melaporkan masalah ini. Si Alva gak ngaku!"


"Kamu komunikasi dengannya? kalian bertemu?" raut wajah Bimo kini terlihat makin sedih. Ia cemburu.


"Iya " Rara menunduk merasa bersalah.


Shhiitttt.,....

__ADS_1


"Kalau kamu mau dengannya, ya sudah pergi saja dengannya hari ini." Bimo yang terbakar api cemburu, memutar tubuhnya membelakangi Rara yang masih menangis.


Dua orang tahanan bersama Bimo. Tertawa melihat adegan Bimo yang marah tak jelas. Namanya juga penjahat, mana ada punya empati.


"Sayang, kamu bicara apa sih? Kita lagi ada masalah. Jangan buat masalah baru lagi." Rara bicara memegang jeruji besi. "Harusnya kita saling menguatkan, bukan menyalahkan begini. Siapa juga yang mau pergi dengannya." Ujar Rara lembut dengan sesenggukan. Sesekali ia menyeka air mata dengan jemarinya.


Bimo yang tak tega mendengar Isak tangisnya Rara, akhirnya membalik badan. Ia tahu ia salah. Tapi, ia sedang diterpa krisis kepercayaan diri. Ia merasa tak sanggup membahagiakan Rara. Kalau Rara mau pergi dari hidupnya itu lebih baik. Apalagi kini ada anak konglomerat, mengejar ngejar istrinya itu.


"Kamu hubungi Jenifer sekarang!" titah Bimo lemah.


Deg


Mendengar nama Jenifer disebut, membuatnya sedih dan cemburu. Walau begitu ia harus bisa biasa saja terkait Jenifer.


"Iya sayang.."


Bimo tersenyum tipis. Suasana hatinya sedikit membaik saat Rara masih mengatakan sayang padanya.


."Gak diangkat," ujarnya menatap Bimo, kemudian melakukan panggilan lagi.


Saat itu juga terdengar derap langkah tak sabaran ke arah mereka. Hentakan tumit ke lantai menyita perhatiannya Rara dan Bimo. Ternyata wanita yang sedang dibahas sudah muncul.


"Bang.... Kenapa seperti ini bang?" Jenifer terlihat panik, memegangi jeruji memperhatikan Bimo dengan penuh kekhawatiran. Jenifer malah seolah mengabaikan Rara di tempat itu.


"Jangan banyak tanya Jenifer. Inilah fungsimu saat ini. Hubungi pengacara, aku harus keluar dari sini. Cari pengacara hebat, karena lawan kita sangat hebat." Ujar Bimo serius.


"Pengacara hebat, tentu butuh dana banyak. Sedangkan hari ini, kita harus keluarkan banyak uang untuk bayar tanah."


Rara seolah tak berfungsi lagi di tempat itu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2