
Pagi ini Rara terbangun dengan keadaan segar. Sepertinya ia tidur dengan sangat nyenyak. Walau hanya tertidur selama empat jam. Tapi kwalitas tidurnya bagus.
Wanita itu bergegas masuk ke ka mar man di. Ia akan membersihkan seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.
Ia tak membawa peralatan mandinya. Jadilah ia menggunakan apa saja yang ada di dalam kamar mandi itu. Termasuk menggunakan gosok gigi miliknya Bimo.
Rara itu orangnya bersih. Tapi, entah kenapa ia tak merasa jijik menggunakan gosok gigi miliknya Bimo.
10 menit, ia sudah selesai mandi. Ini tergolong acara mandinya tercepat dalam sejarah. Biasanya juga mandi hampir memakan waktu 30-60 menit. Ia cepat menyelesaikan acara mandinya. Karena ia merasa sangat lapar sekali. Wajar sih ia merasa lapar, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 07.50 Wib.
"Ya ampun... Kenapa aku gak bawa dalaman?" Rara mendudukkan bokongnya dengan frustasinya di sisi bed tempat tidurnya, setelah mengobrak-abrik koper miliknya. Saat ini ia hanya mengenakan handuk yang menutupi dari bagian dada sampai lututnya.
"Ini gara-gara paman yang memberi waktu sangat sedikit saat berkemas. Mana ia marah-marah lagi. Aku kan jadi lupa bawa dalaman."
Wajah cantiknya terlihat bete sekali. Ia punya buah dada yang lumayan besar, kalau ia tak menggunakan B RA, itu akan terlihat dengan jelas. Walau Rara anak nakal, ia tak suka memamerkan aset berharganya itu. Ia malah kadang merasa risih, karena ukurannya tak seimbang dengan tubuhnya yang langsing.
"Akkhhh masak bodoh, belum tentu juga ada orang yang tahu. Lagian kan aku di rumah saja. Di rumah ini ku perhatikan penghuninya hanya paman."
Rara bermonolog sembari memakai kaos warna kesukaan, yaitu warna putih yang dipadu dengan celana jeans hotpants.
Ia merapikan rambutnya, memperhatikan wajahnya di cermin. Mata sembab dan ekspresi wajah sedih masih terlihat. Ia tak suka melihat wajah nya di pagi ini.
__ADS_1
"Semangat..... Semangat..... Ini kehidupan baru. Ayo Rara ambil hati suamimu. Jangan sampai ia mencampakkanmu. Karena hanya ia yang kamu punya saat ini. Semangat...!" ujarnya dengan ekspresi wajah semangat dan terlihat bahagia. Ia bahkan berulang kali membuat beberapa mac ekspresi di wajahnya saat bercermin.
Sebelum tertidur ia meresapi nasehat - nasehat dari Anin. Ia pun akhirnya mengikhlaskan hatinya. Menerima pernikahan ini. Mencoba mendekati sang suami. Berusaha berperan jadi istri yang baik. Yaitu melayani suami, baik di kasur, di dapur dan di sumur. Itu perumpamaan yang dijelaskan Anin padanya. Rara yang cerdas tentu tahu maksud dari nasehat Anin itu.
Ia juga akan mengorek penyebab Bimo yang tiba-tiba menghindarinya selama bertahun-tahun ini. Rara yakin, ada alasan kuat pamannya itu, yang tiba-tiba saja menjauhinya.
Saat Rara menapaki anak tangga menuju lantai lantai satu. Ia tak menyadari kalau Bimo sedang memperhatikannya. Karena ia fokus melihat ke anak tangga. Sambil berpikir mau masak apa hari ini. Rara sama sekali gak tahu memasak. Masak telur saja ia gak pernah. Maklum dulu ia anak sultan. Mau sekolah saja, sering dibangunin dan dimandikan.
Rara pun akhirnya tersadar dari lamunannya. Karena ia mendengar suara gelas yang bergetar. Kedua mata indahnya pun menoleh ke asal suara.
Ia terkejut melihat sang paman, yang berdiri dengan menatapnya dengan mata melotot. Rara beranggapan Bimo marah padanya. Karena ia bangun kesiangan. Harusnya ia sudah menyiapkan sarapan untuk sang suami. Tapi, kini ia melihat Paman nya itu sudah membuat sarapannya sendiri.
"Pa..man.?"
"Paman...!"
Rara yang tak mau ditatap sinis oleh Bimo, mengejar suaminya itu ke beranda. Bimo mengabaikan panggilannnya.
Bimo yang sudah duduk di kursi teras rumahnya dikejutkan oleh Rara yang menyusulnya. Istrinya itu terlihat ketakutan dan bingung di depannya.
Kedua mata Bimo kembali tertarik untuk menatap dadanya Rara.
__ADS_1
Astaghfirullah...
Bimo beristighfar dalam hati. Memalingkan wajahnya cepat. Ia tak sanggup melihat Rara yang menggoda imannya pagi ini.
Rara tersinggung dengan sikapnya Bimo. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah dengan kesalnya. Rasanya dadanya sesak sekali, karena sikapnya Bimo yang seperti tak mau melihatnya, menyingung perasaannya.
"Apa ia, mau menggodaku? dasar murahan, kemarin-kemarin ia ngebet minta dikawinkan sama Ferdy, dan sekarang ia menggodaku dengan pakaian sexy nya." Bimo bermonolog, ia tak suka dengan cara Rara yang menggodanya.
Rara tak sanggup lagi menahan air mata yang dari tadi mendesak ingin keluar dari kedua mata indahnya. Sikapnya Bimo pagi ini sungguh menyebalkan.
Prang
peng
peng
Termos stainles yang ada di tangannya terjatuh, air panas yang ada di termos itu mengenai kakinya. Rara ingin membuat teh manis.
Suara keributan yang terdengar di dapur, terdengar jelas ke tempat Bimo berada saat ini. Ia yang penasaran berlari cepat ke arah dapur.
Ia pun dikejutkan dengan Rara yang menangis, sambil memegangi kakinya yang sudah memerah karena tersiram air panas.
__ADS_1
TBC
Like coment, vote dan hadiah sangat ku nanti say🙂🙏