GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

Bimo melarang Rara ikut ke kantor hari ini. Ia tak mau Rara lelah. Karena kalau istrinya itu lelah. Bimo takut acara mantap mantap di malam hari tak maksimal. Ia juga ingin konsentrasi kerja. Ingin cepat menyelesaikan semuanya dan berniat libur kerja seminggu untuk bulan madu dengan sang istri.


"Kenapa Abang gak cerita padaku sebelumnya, kalau Abang sudah menikah?"


Setelah istirahat siang, Jenifer mendatangi Bimo ke ruang kerjanya.


"Kenapa aku harus cerita padamu Jen?" menatap heran Jenifer yang terlihat sedang kecewa.


"Bukannya Abang membenci Rara. Kenapa malah menikah dengannya?" Bertanya dengan penuh kekecewaan.


"Aku tak pernah membencinya. Kamu dapat cerita itu dari mana?" jawab Bimo datar, kembali memeriksa laporan keuangan yang diberikan Jenifer.


"Bukannya Abang cerita seperti itu dulu. Dan gara gara dia Abang malah memilih pindah tugas ke luar daerah. Karena Abang membencinya kan?" Ujar Jenifer kesal. Angan angannya untuk memiliki Bimo pupus sudah.


"Abang tahu perasaanku, sejak dulu aku sudah suka pada Abang. Tapi, Abang tarik ulur aku "


"Tarik ulur, maksud kamu apa Jen?" tanyan Bimo semakin bingung.


"Abang suka aku kan?" Bicara dengan mata yang sudah berkabut. Ini saatnya bicara jelas.

__ADS_1


"Iya terus?"


"Kalau gitu, kenapa malah bukan kita yang menikah." Kini air mata yang dari tadi mendesak untuk keluar tak bisa dibendung lagi.


Huuufftt


Bimo menghela napas panjang.


"Kalau pun aku pernah bilang suka dulu padamu. Bukan berarti aku harus menikahimu kan? aku memang dulu suka cara kerjamu. Kita jadi team work yang bagus di kantor. Soal perasaan lebih tak ada Jen." Tegas Bimo dengan tatapan seriusnya.


"Tapi, sikap dan perhatian Abang padaku waktu itu terlalu berlebihan." Jenifer semakin terisak.


"Intinya, sikap ku padamu yang kamu simpulkan aku menyukaimu. Ya hanya sekedar itu. Aku kan belum pernah utarakan perasaan atau ajak kamu menikah Jen?" Jelas Bimo dengan penuh keseriusan.


"Tapi, sikap Abang itu membuatku jadi berharap."


"Itu urusan hatimu. Kecuali, aku pernah bilang cinta mengajak mu menikah terus ingkar, baru kamu bisa salahkan aku."


"Terus, kenapa mau menerimaku kerja disini?" Jenifer semakin bingung dibuat sikapnya Bimo.

__ADS_1


"Ya karena kamu mengatakan sedang cari kerja. Kita pernah kenal. Berkomunikasi lancar, kalau aku cari orang baru, tentu penyesuaian lagi." Jelas Bimo.


"Kamu jahaat bang..!" ketus Jenifer dengan tersedu-sedu. Ia sebenarnya malu, tapi masih sok sok an.


"Realistis saja Jen, tak semua orang yang kamu sukai harus kamu nikahi. Ok, ku akui aku suka cara kerjamu. Makanya kita dulu jadi team yang kompak. Soal kamu berharap lebih, itu urusan mu Jen. Intinya sekarang, kalau kamu masih mau bekerja disini. Jangan main perasaan. Jangan baper .... Ingat... Aku sudah menikah. Jangan usik rumah tanggaku!" tegas Bimo dengan telunjuknya.


"Kamu jahat bang."


"Jahat apanya, aku itu selalu baik padamu Jenifer. Saat kamu ditangkap polisi terkait tuduhan korupsi. Gara gara siapa kamu bisa bebas. Gara gara aku kan?"


"Ya memang aku gak bersalah."


"Tapi, kamu disalahkan. Siapa yang mencari bukti agar kamu tak bersalah?"


"Gara gara sikap baikmu itu bang, aku jadi berharap padamu." Jenifer merasa malu, ia menelungkupkam wajah di atas meja penghalang dirinya dan Bimo.


"Aku sudah menikah, jangan mengharapkan aku. Aku lihat ada gelagat gelagat kamu yang tak baik pada Rara. Jangan beri beban pikiran pada istriku, jika kamu masih ingin bekerja denganku." Tegas Bimo, ia bangkit dari duduknya merasa tak perlu panjang lebar bicara dengan Jenifer.


TBC

__ADS_1


__ADS_2