
Rara memutuskan bermalam di pondok sang Mama. Dia merasa nyaman tentram dan terhibur di tempat mondok itu. Mana para lansia saat sore sebelum dapat magrib, ternyata punya kegiatan ngumpul dan bergosip ria, di salah satu pondok seorang jemaah. Bahkan ada yang duduk di tangga dan halaman karena pondok yang dibuat tempat ngumpul tak cukup menampung tamu. Mereka berkumpul hanya sekedar bersenda gurau, dan membahas kajian agama sekaligus menceritakan tentang anak anak mereka atau sekedar cerita masa lalu.
Para nenek nenek itu menurut Rara sangatlah lucu. Ada yang sudah ompong, dan jika tertawa terlihat gemesin. Ada yang giginya tinggal satu di bagian gigi seri bawah, dan gigi seri itu akarnya gak sehat lagi. Hingga gigi itu memanjang seperti bambu runcing melewati bibir jika bicara. Sungguh tingkah para lansia buat ngakak. Apalagi ada yang pendegarannya sudah tak jelas. Jadi disaat kawannya bercerita, ia menjawab selalu tak nyambung.
Hahahaha....
Semuanya tertawa karena ada nenek yang bercerita lucu.
"Aku, aku juga ada cerita lucu." Kini Nek Ifah yang unjuk kebolehan ngelawak. Semuanya terdengar serius mendengar cerita Nek Ifah.
"Pada suatu hari ada seorang nenek-nenek yang tidak punya anak. Nenek itu juga pikun. Nenek itu pun mengadopsi seorang anak bayi. Adi tetangganya ingin menengok bayi itu. Adi pun ke rumah nenek yang mengadopsi bayi.
Adi: "Nek, saya pengen liat donk bayinya..." Nek Ifah menirukan suara anak laki laki. Yang membuat para jemaah tertawa mendengar suara Nek Ifah yang berubah jadi suara anak laki laki.
Nenek: "Oh, boleh tapi tunggu bayinya nangis dulu ya..."
Adi: "Lohh kenapa, Nek?"
Nenek: "Soalnya saya lupa taruh bayinya di mana..."
Adi: "???"
Gubrak..
Hahahha...
"Itu sudah seperti kita yang pikun, kadang sampai lupa pakai CD." Ujar salah satu nenek.
Hahahha .
"Juga lupa pake BH " Timpal nenek satu lagi.
__ADS_1
.Hhahaha...
"Apa lagi mau di BH in, semuanya sudah kempot."
Para nenek nenek saling sahut, menertawakan tingkah mereka sendiri yang sudah jadi pelupa.
Rara merasa terhibur sungguh terhibur. Ia jadi kepikiran mau ikut mondok. Ternyata ada cara stand up komedi juga di pondok itu. Jadi, para jemaah tidak merasa jenuh berkurang di pondok atau dengarkan pengajian dari ustadzahnya.
Dan yang paling buat terharu lagi adalah. Disaat ada sanak saudara yang berkunjung. Maka ole ole yang dibawa sanak saudara akan dibagi ke tetangga. Sungguh rasa persaudaraan sangat tercipta di pondok itu. Padahal tak saking kenal awalnya. Karena para jemaah berasal dari daerah yang berbeda.
Acara kumpul kumpul pun selesai dan saatnya melaksanakan ibadah di Mesjid sekaligus mendengarkan tausiyah dan akan dilanjutkan dengan membaca Al Qur an.
"Mama, besok daftarin aku ikut mondok di sini ya?" ujar Rara sendu. Ia kini tidur berbantalkan paha sang mama. Sudah pukul 21.45 Wib, sudah saatnya tidur.
"Sayang... Kamu jangan ngacok. Kamu itu baru nikah." Sahut Rani membelai kepala sang putri yang ditutupi hijab Sorong bahan Jersey.
"Eeehhmmm.... Habis di sini asyik ma. Hati tentram, juga bisa hilangkan setres. Lihat nenek nenek itu kumpul, buat ingin tertawa terus ma." Ujarnya tersenyum tipis, ia teringat kejadian sore tadi, saat kumpul dengan para nenek nenek.
"Eemmm... Paman Bimo nyebelin Ma." Keluhnya menekuk bibir.
"Iya, Bimo memang nyebelin."
"Bahh... Koq mama ikut ikutan bilang suami ku nyebelin?" tanya Rara heran.
Huufftt..
"Ternyata Bimo sudah bilang sama ayahmu. Kalau mama di sini."
"Apa...? itu mulutnya memang ember." Rara geram, ia langsung mendudukkan tubuhnya.
"Aku, aaku akan marahi dia." Rara mengambil ponselnya dari dalam tas nya.
__ADS_1
"Jangan, jangan kamu omelin dia. Mama tak mau ada masalah baru yang muncul, kalau kamu marahi dia." Menahan tangan Rara saat hendak menghubungi Bimo.
Tok
Tok
"Assalamualaikum...!" terdengar suara seorang pria mengucap salam.
Rani terkejut mendengar suara yang mengucapkan salam itu. Ia kenal suara itu.
Dag
Dig
Dug
Jantungnya langsung bermasalah. Hal yang dihindari terjadi juga.
"Itu ayah ma?" tanya Rara dengan mata membola.
Rani mengangguk lemah.
"Koq bisa masuk ke sini. Bukannya tadi kita sudah Katakan kalau ada orang yang cariin mama, bilang saja gak tahu."
Hadeihh...
"Itu si paman, koq kasih tahu Ayah?"
Rani mengangkat bahu malas. Ia sungguh tak ingin berjumpa dengan Pak Kusuma.
TBc
__ADS_1