GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Kabur


__ADS_3

Selamat pagi 🙂


Hari ini, kamu istirahat di rumah saja. Gak usah pergi kerja. 🙂


Itulah yang dituliskan Bimo di kertas putih HVS. Ia melipatnya, kemudian memasukkannya dari celah pintu kamarnya Rara di bagian bawah.


Saat memasukkan surat kaleng itu dari celah bawah pintu. Bimo menggerak-gerakkan kertas itu dengan kuat, sehingga menimbulkan suara gesekan di lantai.


Rara yang sedang duduk santai di atas ranjang, dibuat heran dengan suara gesekan kertas itu. Ia pun menemukan asal suara. Keningnya berkerut kini, heran dengan adanya kertas yang bergerak-gerak di celah pintu bawah kamarnya.


"Itu apa?" ia yang penasaran turun dari ranjangnya. Melangkah ke arah pintu. Dan kini kertas itu telah diam di tempat.


Rara membuka pintu dengan cepat. Karena penasaran, siapa yang melakukan hal bodoh itu. Ternyata tak ada orang di depan kamarnya. Dengan bingungnya Rara meraih kertas itu. Membukanya dengan tak sabaran karena penasarannya.


"Dasar aneh, kenapa dia malah mengirimkan surat seperti ini. Turun harga dirinya jikalau menanyakan keadaanku pagi ini? dasar... Psikopat. Siapa juga yang mau kerja disitu lagi. Aku tuh mau pergi dari rumah ini. Enak saja kau menghina ku terus menerus. Emang kamu siapa? aku masih bersikap baik samamu selama ini. Karena kau ku anggap suamiku. Karena kau dulu baik padaku. Tapi, sekarang persetan dengan semuanya. Aku bukan orang bodoh, yang bisa kamu hina terus. Kamu pikir aku gak bisa mandiri. Walau aku pernah jahat, aku masih punya hati. Siapa yang tahan diremehkan setiap hari!" Rara bicara sendiri penuh kekesalan.


Krakk... krak...krakk...


Surat kaleng dirobek dengan kasar penuh amarah. Ia melempar surat itu, tepat ke tempat sampah, dan...


Praakkk...


Pintu ditutup kasar oleh Rara.


Dug


Bimo yang masih berada dibalik dinding kamar dibuat kaget. Ternyata Rara benar marah padanya. Bahkan ia dikatakan psikopat.


Apa? dia akan pergi? tidak, tidak.... Dia tak boleh pergi. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku nanti.


Bimo bermonolog, mondar mandir di depan kamarnya Rara.


"Oh, aku ada ide!" ujarnya semangat menjentikkan jarinya.


Ceklek...


Ia mengunci kamarnya Rara dari luar.


"Rebes... Kalau sudah dikunci, mana bisa dia kabur." Bimo menertawakan tingkah bodohnya. Ia memasukkan kunci kamar itu ke saku celananya. Ia harus ke kantor pagi ini. Ada meeting dengan investor. Proyek barunya kali ini harus sukses.


Sesampainya di parkiran.


"Buka pintunya..! buka.... kenapa aku dikunci di kamar..?" teriak Rara dari balkon kamarnya. Menampilkan ekspresi wajah penuh amarah pada Bimo.


"Apa? apa... gak dengar?" Bimo pura - pura tuli. Padahal ia tahu, Rara bicara apa tadi.

__ADS_1


"Buka pintunya...!" teriaknya.


Dasar suami gilakkk...


Umpatnya dalam hati.


Bimo memberi kode dengan tangannya serta kedipan matanya pada Bi Sakinah, yang tengah menyapu di teras rumah.


Bi Sakinah yang mendengar teriakan Rara. Jelas tahu apa permasalahan yang diributkan.


Ia pun berlari ke kamarnya Rara. Membuka pintu kamar Rara dengan kunci serep yang diambilnya dari gantungan kunci.


"Ceklek...


"Iya nona, sudah dibuka. Ini pintu memang mau tertutup sendiri." Ujar Bi sakinah dengan senyum mengembang. Ia merasa lucu dengan pasangan ini. Ia malah ikut-ikutan bersandiwara.


"Itu tadi ada yang menutup, bukan tertutup. Aku dengar koq, suara pintu dikunci." Rara geram, Beranai sekali Bimo berniat mengurungnya.


"Ini tak boleh dibiarkan. Dia sudah melewati batas, mau mengurungku di rumah. Sebelum dikurung, lebih baik aku pergi hari ini juga."


Rara menyeret kopernya. Ia pamannya itu sudah tak waras. Ternyata ia sudah salah menilai pria itu baik.


"Non, non kalau ada masalah gak boleh kabur. Harus diselesaikan baik-baik, dibicarakan non." Bi Sakinah mencoba meraih kopernya Rara. Tapi Rara menepis tangannya Bi Sakinah.


"Ini jalan keluarnya Bi. Pergi dari rumah ini. Entah pernikahan macam apa seperti ini? Mulutnya itu pedes, kerjaannya selalu menghinaku. Emang aku ada merugikannya?"


Bimo mendengarkan kemarahan Rara dari dalam. Ia pun bergegas keluar dari dalam mobil. Masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak tenang.


"Gak boleh pergi, batas waktu yang ditentukan belum tiba. Belum dapat satu bulan. Aku kan memberi kamu waktu satu bulan." Tegas Bimo menarik kuat koper yang ada di tangan Rara.


"Gak usah nunggu sampai satu bulan. Aku gak tahan lagi hidup sama kamu!" menarik kembali koper yang sudah di tangan Bimo.


Jadilah Rara dan Bimo tarik tarikan koper.


Bi Sakinah dibuat bingung melihat pertengkaran majikannya itu. Dia mau melerai, tapi takut kena marah.


"Tuan....!" Bi Sakinah mengelus lengan Bimo. "Jangan ikut emosi." ujarnya dengan lembut. Kemudian mendekati Rara, memeluk wanita itu dari belakang. "Sabar non, lepaskan saja kopernya. Kita bicarakan baik-baik." Rara yang lelah karena tarik tarikan koper, akhirnya melepaskan koper itu, disaat Bimo menariknya kuat. Jadilah Bimo terjatuh dengan ekspresi bodohnya.


Haahhss


Haassshs


Bimo ngos ngos-ngosan, setelah kalah dalam acara tarik tambang.


Sedangkan Rara sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan cemberut. Bi Sakinah terlihat menenangkan wanita itu.

__ADS_1


"Masalah kecil jangan dibuat besar Tuan, Non. Jangan egois. Karena keegoisan hanya akan menjadi penghalang suami dan istri hidup saling mendukung sebagai satu tim. Setelah menikah, sifat ini harus diubah karena bagaimanapun hidup kita bukan lagi memikirkan tentang diri sendiri, tetapi juga pasangan, anak dan keluarga." BI Sakinah mencoba menasehati.


"Dia yang egois, dia yang selalu memaki-maki saya. Menuduh seenaknya saja. Bilang aku bodoh, gak berguna lah. Bahkan ia menuduhku hamil. Hamil? hamil dengan siapa?" Rara menatap tajam Bimo yang kini terlihat bersalah.


Mana mungkin bisa hamil, emang pernah burung mu itu masuk ke sangkarnya.


Ingin sekali Rara mengatakan itu, tapi jelas ia tak akan berani.


Bimo merasakan ponsel dalam saku celananya bergetar. Ia merogohnya dan sedikit menjauh dari Rara.


"Iya, iya ini mau sampai. Kamu handle sebentar." Bimo bicara dengan tidak tenang. Setelah panggilan berakhir, ia memasukkan kembali ponselnya kesaku celananya.


"Bi bawa masuk koper ini ke kamarnya Rara." Menyeret koper ke dekat Bi Sakinah.


"Ayo ikut saya!" menarik lengan Rara kuat.


"Gak mau!" berontak agar tangannya dilepaskan Bimo.


"Bi bawa masuk koper itu. Kunci kamar!" titahnya dengan tatapan tak terbantahkan.


BI Imah pun dengan cepat menyeret koper dari ruangan itu, matanya sesekali melirik ke belakang.


"Ayo ikut aku!"


"Gak!" menolak dengan wajah merah padam, karena emosi.


"Rara...!"


Grapp...


Dalam satu gerakan. Rara sudah berada dalam gendongan Bimo.


"Iihh lepas.. Lepas.... Aku mau dibawa ke mana?' Rara berontak dalam dekapannya Bimo. Memukul kuat dada bidangnya sang suami.


Ya Allah... Ini anak koq berat kali. Beratan dosa mungkin.


Bimo membathin, merasa tubuhnya Rara berat. Mungkin karena Rara yang berontak terus.


"Pak, pak.. Buka in pintu." Titah Bimo pada tukang kebun.


Blasshh...


Rara terduduk dengan bodohnya di kursi sebelah kemudi.


Bimo dengan cepat memutari mobilnya dan duduk di jok kemudi. Ia langsung tancap gas, gak mau menoleh Rara yang cemberut di sebelahnya.

__ADS_1


TBC


Like coment vote dan hadiahnya say ditunggu loh🙏🙂


__ADS_2