GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Paket..


__ADS_3

Dua jam sudah Rara di kamar itu. Ia yang bosan, akhirnya memilih turun ke lantai satu. Saat itu juga ia mendengar suara berisik dari dapur, ia yang penasaran menyeret kakinya ke arah dapur. Ia pun dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya, yang terlihat sibuk memasukkan barang belanjaan ke kulkas.


Eeehhmmmm..


Wanita paruh baya yang mengenakan hijab jenis bergo plisket itu pun akhirnya menoleh ke asal suara. Siapa lagi yang berdehem kalau bukan Rara.


"Eehh... Nona, selamat siang!"


Wanita paruh baya itu menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat nya pada Rara, yang diketahuinya sebagai nyonya di rumah ini.


"Siang juga Bu." Rara tersenyum manis, menghampiri wanita itu. Ternyata ada juga pembantu di rumahnya Bimo.


"Lagi isi kulkas Bu. Tadi di minta tuan saya belanja, dan memasak juga."


Tanpa ditanya, wanita paruh baya itu menjelaskan apa yang dikerjakannya.


"Oohh... Ibu bekerja di rumah ini ya?" Rara penasaran juga tentang suaminya beserta rumah yang mereka tempati sekarang.


"Iya Non, tapi hanya bersih-bersih rumah. Itu pun hanya 3 kali seminggu jika tuan tak ada di rumah ini. Jika tuan ada di rumah, saya gak datang bekerja, kecuali di suruh untuk datang Bu." Jelas wanita paruh baya itu.


"Oohh... " Rara nampak berfikir, ia yang memang cerdas, tahu sudah bahwa ini rumahnya Bimo. Tadi juga ia menemukan berkas yang menuliskan ada alamat perkebunan ini.


Jadi jelas sudah mereka bukan sedang bulan madu di sebuah vila perkebunan. Ini memang rumahnya Bimo.


"Eemmm ... Aku enaknya manggil siapa ya Bu?" tanya Rara ramah.


"Nama saya Kasinah Nona." Jawab Bu Sakinah, mulai membersihkan daging belanjaan di atas wastafel.


"Kalau saya namanya Rara Bu."


Bu Kasinah hanya tersenyum menanggapi Rara yang memperkenalkan namanya. Tapi, jujur tatapan mata Bu Kasinah penuh ketakjuban pada Rara. Rara sampai heran dengan cara pandang Bu Sakinah.


"Ada yang salah ya Bu?" saat ini, Rara beranggapan, Bu Sakinah pasti tahu, kalau ia tak pakai dalaman. Ia yang haus, menuangkan satu gelas air ke dalam gelas. Ia pun kini duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Bu Sakinah cepat menggeleng. "Gak ada yang aneh, hanya kagum saja. Istri tuan cantik banget."


Uhuk...


Uhuk .


Rara terbatuk-batuk, ia keselek. Ia terkejut karena Bimo mengakuinya sebagai istri. Kalau soal pujian, ia tak akan terkejut mendengarnya. Ia memang sangat cantik. Orang banyak mengatakan kalau Alisnya bak semut beriring, hidungnya bak dasun tunggal, rambutnya bagai mayang terurai, pipinya bak pauh dilayang, kukunya bak kiliran taji, bibirnya bak delima merekah, dan suaranya merdu bagai buluh perindu.” Begitulah lelaki sering memuji Rara.


"Non, kenapa Non?" Bu Sakinah bingung harus berbuat apa. Ia merasa enggan untuk menepuk punggung Rara yang masih terbatuk-batuk itu.


"Gak apa-apa Bu, hanya keselek." Ujarnya melap air matanya yang keluar karena merasa hidungnya perih.


"Oohh, benerkah Nona gak apa-apa?" Bu Sakinah harus memastikan Rara baik-baik saja. Karena tadi Bimo berpesan, agar menjaga Rara, sampai ia pulang dari bekerja.


Bimo yang merasa terancam di rumah itu. Memilih pergi bekerja saja. Karena ia begitu tak tenang dengan adanya Rara di rumah yang selalu menggoda imannya. Sejak bermimpi melihat Rara yang gak pakai dalaman. Bimo jadi begitu menggairahkan dan menantang di matanya. Mengingat Rara saja sudah bisa membangkitkan hasratnya. Apalagi kalau tiap waktu bertengkar, bisa khilaf dia. Dan anehnya ia tak bisa mengekspresikan hasrat yang bergejolak di hatinya kepada ada Rara. Karena, Rara yang sejak kecil dirawatnya. Merasa aneh saja, jika akan menggauli istrinya itu.


"Iya Bu " Rara meraih tisu, melap hidungnya yang juga berair dan tersenyum memperhatikan Bu Sakinah yang memasak. Rara akan belajar memasak mulai saat ini. Selain melihat langsung dari Bu Sakinah. Ia juga akan belajar dari YouTube.


Sekarang apa sih yang gak bisa dipelajari. Semuanya ada di internet.


Rara ingin sekali bertanya banyak tentang perkebunan ini pada Bu Sakinah. Tapi, ia urungkan niat itu. Ia tak mau Bu Sakinah tahu siapa dia. Rara malu, jika mengingat semua keburukannya selama ini.


Sore pun tiba, Bimo belum juga pulang bekerja. Bu Sakinah juga sudah pulang. Kini tinggallah Rara sendirian di rumah itu.


Tadi Rara sudah mengorek sedikit informasi tentang perkebunan itu. Misal, jarak ke pusat perbelanjaan. Ternyata lumayan jauh. Ada sekitar 10 km, baru ke jalan raya.


"Eemmmmm..... Bosannya Ya Allah..."


Rara dengan cepat menutup mulutnya. Mengingat sang pencipta. Membuat hatinya bergetar hebat. Ia jadi merasa makhluk yang paling berdosa dan tak berguna di dunia ini.


Ia pun melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Ternyata sudah pukul 16.45 Wib. Entah kenapa ia jadi kepingin sholat. Kalau diingat-ingat, Rara sudah lama sekali tak sholat


Sudah ada lima tahun lebih ia tak sholat. Kalau pun sholat pasti bolong tiap hari.

__ADS_1


Tadinya Rara sedang menunggu Abang kurir, toko ia belanja dalaman. Ia menunggu di kamar, menatap Abang kurir datang dari balkon kamar. Karena hatinya tergerak untuk melaksanakan sholat. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berwudhu.


Saat mau sholat, Rara bingung. Ia kan tak punya mukena.


"Aku kan gak punya mukena. Baju yang sopan pun tak ada. Oalah....!" Ia pun menepuk jidatnya sendiri.


Ia pun tak jadi sholat. "Oohh... Aku pesan mukena saja dulu." Ia pun meraih ponselnya dari atas ranjangnya.


Saat itu juga, ia melihat dua panggilan tak terjawab dan sagu pesan. Pesan dari Abang kurir dalaman. Sepertinya Abang kurir menelponnya saat ia lagi berwudhu.


"Tiga menit yang lalu, berarti baru dong!" ujarnya, mulai menelpon balik si Abang kurir. Jangan sampai si Abang kurir pulang, membawa lagi paketnya. Bisa-bisa ia gak pakai CD dan BRA lagi malam ini.


Ia menggunakan nomor ponselnya saat memesan. Tapi, menggunakan nama Bimo. Karena kalau ia menggunakan namanya. Rara takut, orang sekitar tak kenal dengannya. Makanya ia menggunakan nama Bimo.


Telepon terhubung


"Apa..? sudah sampai sama orang yang bersangkutan?" tanya Rara dengan bingungnya.


"Iya Bu, pesanan sudah sampai dan di terima langsung oleh si pemesan. Pak Bimo kan? ibu periksa aja di status. Ada buktinya koq, kalau paketnya diterima bapak itu. Bukti foto saat menerima paket." Jawab si Abang kurir.


Rara yang panik, dengan cepat berlari ke bawah. Berarti Bimo sudah pulang ke rumah. Dan Bimo sudah menerima paketnya.


Hu... Hu..... Hu...


Rara ngos-ngosan, kini ia sudah ada di balik pintu utama rumah itu. Dari dalam ia sudah mendengar suara Bimo yang mengkomentari sesuatu. Rara pun membuka pintu utama itu. Betapa terkejutnya ia melihat Bimo sudah membuka paketnya.


Rara mendengar suaminya itu mengatakan. Cepat sekali paketnya sampai?


Bimo melirik Rara yang terlihat ngos ngosan. Lagi-lagi matanya tertarik untuk melihat dadanya Rara yang naik turun, karena sedikit kelelahan berlari dari lantai dua.


Bimo jadi tidak konsentrasi membuka paket itu. Ia pun akhirnya fokus ke paket itu. Dan merogoh kantongan paketnya Rara di kemas.


"APA ini?" Bimo sudah mengeluarkan satu BRa dari kemasan paket yang ada di tangannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2